| Jumat, 29 Juli 2005 | KEDU & DIY |
Luebke, Suka Degan IjoBAGI Christian von Luebke (32), mahasiswa S-3 Australian National University (ANU) Canberra, tiga minggu tinggal di Kebumen tidak menjadi masalah. Apalagi ia pernah dua setengah tahun menetap di Nusa Tenggara Barat (NTB). Selama meneliti, dia tak menetap di hotel atau di rumah indekos mewah, tetapi tinggal di kampung di belakang SMP Negeri 7, Kebumen. Di kota kabupaten tersebut, lelaki warga negara Jerman itu melakukan tugas penelitian untuk disertasinya. Sedikitnya, ia meneliti di 12 kabupaten di Indonesia. Untuk Jateng, selain Kebumen, pria ini juga meneliti iklim usaha pada era otonomi daerah di Kabupaten Solok, Pesisir Selatan (Sumbar), Gianyar dan Karangasem (Bali), dan di Bima (Lombok). Pria kelahiran Freiburg, Jerman itu selama di Kebumen sudah bertemu dengan berbagai pihak. Dari Bupati Hj Rustriningsih, aktivis LSM, Gapensi, Kadin, tokoh partai politik, sampai orang-orang pers. Sesuai dengan topik penelitiannya, tentu ia banyak menanyakan soal perizinan, iklim usaha di daerah, perilaku birokrasi dan masyarakat serta kaitan politik ekonomi pada era otonomi daerah. Christian merasa penasaran setelah melihat beberapa daerah di Indonesia. Mengapa di suatu daerah iklim investasi dan perkembangan ekonominya begitu maju, sedangkan di lain daerah sebaliknya. Ia juga meneliti tingkat kebocoran dana di sektor pajak dan pungutan liar untuk pelayanan perizinan bagi dunia usaha. Gadis Jepang Namun di luar hal-hal formal dan berat itu, bujangan yang telah bertunangan dengan Luna, gadis Jepang yang sama-sama menimba ilmu di Australia itu merasa kerasan tinggal di Kebumen. Ia tak asing dengan beberapa makanan lokal. Salah satu yang ia terkesan adalah menikmati sop mi dan ikan ayam yang dimasak capcai ala Kebumen. Warung favoritnya ada di Jl Kol Sugiono. Sembari menikmati capcai kesukaannya, Christian juga doyan minum air degan hijau. ''Waduh, nikmat dan segar. Saya suka minum degan hijau sambil melihat anak muda jalan-jalan,'' ujar lelaki yang selama penelitiannya ditemani Haryadi Palapa, lulusan S-1 Ekonomi UGM dan bekerja di Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Jakarta itu. Kesan terhadap masyarakat Kebumen, meski hanya sekitar tiga minggu, Christian mengaku senang. Apalagi meski daerah agraris, Kebumen kini mulai maju secara ekonomis. Ia menilai, pola otonomi daerah sudah benar. Hanya mungkin terlalu cepat sehingga kadang-kadang beberapa sektor pelayanan publik masih jalan di tempat. Dia tak menampik bahwa di Kebumen masih ada pungutan liar ataupun suap, meski mungkin skalanya kecil. Ia berencana menikah tahun depan. Pesta akan dirayakan di Jepang dan Jerman. Lalu kenapa ia tertarik gadis Asia? ''Ehm... jodoh,'' ucap lelaki yang fasih berbahasa Indonesia itu. (Komper Wardopo-39n) |