| Rabu, 27 Juli 2005 | PANTURA |
Bendung Sungapan Kesulitan Mengairi SawahPEMALANG - Bendung Sungapan di Desa Penggarit, Kecamatan Taman, Pemalang, kesulitan memenuhi kebutuhan air bagi puluhan hektare sawah yang menjadi wilayah oncorannya. Hal itu disebabkan debit air Sungai Waluh yang ditampung volumenya kecil, apalagi jika musim kemarau. Situasi itu paling parah terjadi pada bagian saluran irigasi Semangu. Akibat debit air kecil, banyak sawah yang tak bisa mendapatkan air dari saluran irigasi tersebut. Selain itu, kondisi saluran terlalu datar, sehingga air sulit mengalir ke sasaran. Kepala Subdinas Pengairan DPUK Ir Kasir Sahuri mengungkapkan, saluran Semangu mestinya mengairi sawah sekitar 1.800 hektare. Namun akibat debit air kecil dan dasar saluran datar, banyak sawah kering karena sulit mendapatkan air. Apalagi, banyak bagian saluran yang rusak. Menurut Kasir, kerusakan saluran Semangu sudah diperbaiki. Tetapi karena kendala utamanya adalah debit air yang terlalu kecil, maka persoalan bagi para petani itu sulit dipecahkan. Kalaupun diperbaiki secara total dengan dana besar, belum tentu dapat menyelesaikan masalah. "Bisa saja saluran Semangu yang merupakan jaringan irigasi Bendung Sungapan diperbaiki secara total dengan dana lebih dari Rp 1 miliar, tetapi hal itu belum tentu menyelesaikan masalah, sebab masalah intinya adalah debit air yang kecil," kata Kasir, kemarin. Debit air yang terjadi di Bendung Sungapan kecil karena di daerah hulu Sungai Waluh terdapat dua bendung lagi, yaitu Bendung Kejene dan Bendung Lanjiladang. Dua bendung tersebut dimanfaatkan untuk mengairi ribuan hektare sawah, termasuk yang dialirkan ke daerah Tegal. Tidak Berubah Pihaknya sudah beberapa kali mengupayakan perbaikan pada saluran irigasi Semangu, namun tetap saja kondisinya tidak berubah. Sebab, perbaikan hanya bersifat kecil dan telah membangun beberapa sumur pompa untuk membantu pengairan sawah. Tetapi tetap tidak bisa menolong kebutuhan air bagi petani. Seperti diberitakan sebelumnya, puluhan petani di enam desa mengeluhkan tidak pernah mendapatkan air irigasi, padahal status sawah mereka adalah pengairan teknis bukan tadah hujan. Enam desa tersebut adalah Tegalsari Barat, Tegalsari Timur, Kendalsari bagian selatan, Wonogiri, Kemuning, dan Karangtalok. Menurut anggota Komisi C DPRD, Amsori BA, akibat tidak mendapatkan pengairan teknis, petani menderita kerugian karena tidak bisa melakukan panen dua kali dalam setahun. Selain itu, dalam pengolahan lahan biaya bertambah, di antaranya untuk membuat sumur pompa. (sf-19h) |