| Rabu, 27 Juli 2005 | PANTURA |
Ratusan Ekor Itik Mati
BREBES- Abdul Kholik (32), warga Desa Kertabesuki, Kecamatan Wanasari, Brebes, harus menanggung kerugian besar. Dari 630 ekor ternak itiknya, 480 ekor di antaranya mati secara bergantian. Ratusan ekor ternak yang mati itu diduga karena terkena penyakit kolera unggas. Menurut keterangan dia, pada April lalu, seluruh ternaknya digembalakan di daerah Kecamatan Pagerbarang, Kabupaten Tegal. Entah kenapa, tiba-tiba ternaknya mengalami kematian sangat drastis. Setiap pagi dan sore hari, ternak yang mati rata-rata 20 ekor, sehingga dalam satu hari dirinya kehilangan 40 ekor itik. "Saya tidak mengetahui penyebab kematiannya, padahal nafsu makannya sangat tinggi," ujar dia, kemarin. Melihat banyak itik yang mati, selanjutnya dia membawa ternaknya ke rumah untuk digembalakan sendiri. Ketika berada di Kecamatan Wanasari, ternyata kondisinya sama dengan di Kabupaten Tegal, yakni banyak itik yang mati. Meski demikian, jumlah kematian lebih sedikit dibandingkan dengan ketika digembalakan di daerah lain. Setiap hari hanya 10 ekor itik yang mati. "Setelah saya hitung, 480 ekor mati dan sekarang yang masih di peternakan 150 ekor," papar dia. Menurutnya, karena itiknya banyak yang mati, dirinya melaporkan kejadian tersebut ke Dinas Peternakan. Di tempat itu, dia menanyakan soal penyebab kematian ternaknya. Masalahnya, kondisi kesehatan ternaknya bagus, tetapi entah kenapa tiba-tiba banyak yang mati. Akibat peristiwa tersebut, saat ini Abdul harus menanggung kerugian sekitar Rp 9,5 juta. Sebab, itik yang masih berusia 2,5 bulan itu, jika dijual satu ekornya hanya Rp 20.000. Seandainya dikalikan dengan jumlah itik yang mati yakni 480 ekor, dia menderita kerugian Rp 9,5 juta. Stres Cuaca dan Pakan Kasi Kesehatan Hewan, dokter hewan Jhoni Murahman yang datang di Kecamatan Wanasari, membenarkan jika ratusan ekor itik milik Abdul Kholik banyak yang mati. Menurut dia, hal itu karena terkena penyakit poteurella multo cida atau kolera unggas. Penyebabnya, ternak mengalami stres cuaca dan pakan. "Akibat pemindahan kandang, banyak ternak yang mengalami stres dan mati," tandas dia. Apa tanda-tanda ternak menderita penyakit tersebut? Jhoni mengatakan, tanda-tanda itu terlihat ketika itik mengeluarkan kotoran. Pada kotoran tersebut, warnanya hijau bercampur kemerahan (ada darahnya-Red) serta berlendir. Selain itu, nafsu makan ternak sangat tinggi. Namun setelah terserang penyakit, kondisi itik drop atau turun drastis. "Apalagi pada saat tubuh itik dibedah, di dalam organ tubuh terdapat pendarahan pada bagian pernafasan dan pencernaan," urainya. Dia menambahkan, dengan adanya penyakit tersebut, diharapkan para peternak lain bisa meningkatkan pengawasan terhadap kesehatan ternaknya. Masalahnya, penyakit seperti itu baru kali pertama menyerang ternak di Kabupaten Brebes. Karena itu, langkah yang dilakukan meningkatkan pengawasan, yaitu dengan memberikan tambahan vitamin pada makanan ternak.(H4-19s) |