logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 27 Juli 2005 PANTURA
Line

Tak Tahan Lagi Hidup di Bawah Tenda Biru

"RASANYA kami sudah tidak tahan menghadapi kenyataan ini. Hidup di bawah tenda plastik berwarna biru yang rasanya sangat panas pada siang hari. Namun apa boleh buat, kami belum mampu membuat rumah sendiri sejak rumah kami terbakar 2 Juli lalu," keluh beberapa warga korban kebakaran di Jl Slamet Kota Pekalongan, awal Juli ini.

Ketika ditemui Suara Merdeka, kemarin mereka menceritakan derita yang mereka alami.

Mereka sampai kini hanya bisa mendirikan tenda di tanah bekas rumahnya yang luluh lantak dilalap si jago merah. Mereka mengaku belum bisa membangun rumahnya lagi karena tak ada lagi harta benda yang mereka miliki.

"Ya, hanya tenda-tenda plastik ini yang dapat kami dirikan untuk sekadar berteduh," ucap Kadar (60), salah seorang korban. Dia mengaku sebagai buruh swasta yang hidup pas-pasan sehingga sangat sulit untuk membangun rumah lagi.

Hal yang sama juga dialami Sumirah, Yanto, Yayuk, Sani, dan Paino yang sampai saat ini hampir sebulan hanya tidur di bawah tenda. Karena itu, mereka mendirikan lima tenda untuk enam keluarga yang jumlahnya mencapai 17 orang.

"Untuk membangun rumah yang sederhana pun kami tidak mampu karena memerlukan uang jutaan rupiah. Padahal uang sebesar itu mustahil rasanya dapat kami peroleh dalam waktu yang relatif singkat. Karena itu, kami nekat membuat tenda beralasankan lempengan kayu," katanya.

Sampai kemarin, dari delapan rumah yang terbakar, baru tiga warga yang mampu mendirikan rumah berdinding gedek (anyaman bambu-Red) atau kayu yang sangat sederhana. Ketiga warga itu adalah Amat, Basid, dan Kosim.

Untuk mendirikan rumah itu Kosim mengaku menghabiskan dana Rp 3 juta hasil pinjaman saudara dan kawan-kawannya.

"Sebagai pegawai kontrakan di Dinas Permukiman Perkotaan dan Lingkungan Hidup (DPKLH), kami utang kepada keluarga agar bisa berteduh pada siang hari di rumah," katanya.

Sampai kini masih ada lima tenda yang berdiri sebagai pengganti tempat berteduh. "Sebenarnya mereka juga tidak tahan, tetapi tidak bisa berbuat banyak. Sebab, usaha minta bantuan ke Pemkot sampai kini juga belum ada kabar beritanya kecuali bantuan beras untuk delapan keluarga masing-masing 50 kg dari Kantor Kesejahteraan Sosial," ujar Kadar yang dibenarkan teman-temannya.

Edarkan Sumbangan

Karena merasa tidak memiliki dana, di antara mereka ada yang mengedarkan sumbangan sukarela ke masyarakat sekitarnya termasuk di toko-toko sepanjang Jl Hayam Wuruk dan Jl Gajahmada.

Dari usaha itu terkumpul uang sekitar Rp 3 juta. Namun uang itu hanya akan dapat digunakan untuk keperluan bersama seperti sumur umum dan kamar mandi umum serta pagar. "Jadi, uang itu belum menyentuh langsung pada warga untuk mendirikan rumah," katanya.

Karena itu, mereka mengharapkan uluran tangan Pemkot Pekalongan agar segera bisa mendirikan rumah yang sangat sederhana sekalipun. Yang menyakitkan, kata mereka, sampai sekarang tidak ada pejabat Pemkot yang mau masuk ke lokasi bekas kebakaran tersebut.

"Kalaupun mereka menyerahkan beras, mereka tidak datang sendiri ke lokasi. Dengan demikian, para pejabat itu tidak mengetahui persis keadaan warga di Jl Slamet yang kehilangan rumah akibat terbakar," tambah Kosim.

Meski demikian, warga tetap mengharapkan bantuan itu. Mereka mengaku hidup di bawah tenda tidak nyaman. Sebab, untuk memasak pun sulit karena luasnya terbatas. Untuk itu, memasaknya harus menumpang ke rumah orang lain. Belum lagi soal keamanan, jelas tidak memenuhi syarat.

Mereka juga mengalami kesulitan untuk tidur. Apalagi pada musim hujan mendatang, tentu akan sangat membingungkan mereka karena air hujan akan masuk ke dalam tenda.

"Karena itu, mumpung belum musim hujan, kami harap Pemkot sudi membantu warga korban kebakaran di Jl Slamet," pinta Kadar penuh harap. (Trias Purwadi-17n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA