logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 27 Juli 2005 PANTURA
Line

Korban Kemerosotan Standar Pendidikan

KEMEROSOTAN standar pendidikan pada akhir-akhir ini akibat berbagai faktor. Tidak hanya sarana dan prasarana sekolah saja, tapi media elektronik juga ikut andil walau tidak bisa disebut sebagai penyebab utama. Akibat akumulasi sejumlah faktor itulah, para siswa kemudian menjadi korban kemerosotan mutu pendidikan kita.

Rektor Universitas Pekalongan (Unikal) Prof Dr Esmi Warassih SH MS menyampaikan komentar itu kemarin sehubungan dengan penurunan angka kelulusan siswa SMA yang mengikuti ujian nasional (UN) pada tahun ini.

Dia memprediksi, siswa SMA yang tidak lulus di wilayah Pekalongan 30%-40%. Mereka yang tidak berhasil dalam mengikuti UN periode I itu dapat mengikuti ujian periode II pada 22-25 Agustus mendatang.

Ada banyak faktor penyebab kegagalan siswa mengikuti ujian, ujar dosen terbang di berbagai perguruan tinggi (PT) tersebut. Selain kurikulum, juga terkait dengan tenaga pengajar, sarana dan prasarana.

Dia berpendapat, kecuali faktor-faktor penting tadi, televisi juga ikut andil sebagai penyebab kemerosotan standar pendidikan kita. Dia mencontohkan, akhir-akhir ini banyak tayangan acara televisi yang menarik bagi remaja justru penayanganya bertepatan dengan waktu belajar mereka. "Ini menjadi problem utama bagi orang tua dan kalangan guru," ujarnya.

Mental Menerabas

Menurut pandangan Rektor yang memimpin PT dengan lima fakultas itu, tayangan berbagai lomba atau kontes lewat berbagai televisi swasta bisa merangsang anak-anak usia sekolah untuk bermental menerabas.

Artinya, banyak remaja memilih jalan potong kompas dalam meraih sukses, misalnya menjadi artis, penyanyi, atau figur masyarakat lainnya. Misalnya untuk bisa menjadi penyanyi kondang, mereka berpendapat, tidak usah bersekolah tinggi tetapi cukup dengan sering menyaksikan tayangan televisi yang menyuguhkan berbagai acara kontes sebagai media belajar untuk menjadi orang sukses. "Banyak remaja sekarang yang berpendapat demikian," ucap pendidik kelahiran Surakarta itu.

Meskipun angka kelulusan siswa SMU menurun drastis, dia tetap optimistis dalam menjaring mahasiswa baru tahun akademik 2005/2006 dan bisa menampung sesuai dengan target.

Apalagi, dalam tahun ini PT yang dipimpinnya membuka fakultas baru program S1, yaitu Fakultas Kesehatan Masyarakat. Izin dari Mendiknas pun sudah turun. (Syam Dakrita-19j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA