| Rabu, 27 Juli 2005 | OLAHRAGA |
"Chrisjon'' Dapat Suport Luar Biasa"WAH, kalau Chrisjon yang main ini pasti seru!'' celetuk seorang penonton. "Ayo jotos, gempur dan pukul terus lawanmu Chris!" teriak penonton dari sudut netral. Saat itu yang tampil memang bukan Chrisjon (juara dunia kelas bulu WBA asal Semarang), tetapi Udin (Sasana Kuda Sakti), petinju yang tampang dan penampilannya mirip dengan Chrisjon, sehingga dijuluki "Chrisjon palsu". Sekilas dia memang mirip dengan Chrisjon, berpostur kerempeng, namun memiliki teknis bertanding cukup mumpuni. Langkah kakinya lincah bergerak dengan desingan jab-straight cepat, telak, dan cukup keras. Wajar saja jika Udin mendapatkan dukungan luar biasa dari penonton yang menyaksikan Festival Tinju Anak Kuda Sakti Cup III yang digelar di Jl Jodipati Raya Krobokan Semarang Barat, Sabtu malam pekan lalu. Menghadapi lawannya Didik Kuncoro dari Kebumen, Udin langsung tancap gas begitu bel ronde pertama berdentang. Begitu berulang-ulang pukulan lurusnya rnernbentur lawannya, pendukung selalu berteriak, "Bagus Chrisjon!" Dibanding dengan festival tinju sebelumnya, kali ini lebih meriah, lebih lengkap kepanitiannya dan cukup sukses. Dari jumlah peserta maupun kualitas teknis juga ada peningkatan. Kali ini diikuti 26 petinju dari enam sasana, yakni Pertina Kudus dengan pelatih Sutarto, Bahurekso Kendal (Diky Koilang), Malindo Kebumen (Yos Marcelus Yasa), sedangkan dari Semarang adalah Bank Buana dengan pelatih Sugiarto, Suara Merdeka (Basir), dan Kuda Sakti (Suryawan dan Rudi). Pertandingan mendapat sambutan paling meriah dari penonton jika mempertemukan petinju tuan rumah dengan petinju tamu, seperti Danny (Kuda Sakti) melawan Sopi'i (Kudus). Keduanya secara silih berganti melancarkan pukulan jab-straight di kelas 21 kg. Petinju Berbakat lbnu (Kuda Sakti), the best boxer Festival II, juga tak kalah sengitnya memberikan perlawanan keras ketika menghadapi gempuran Rois (Kebumen) di kelas 36 kg. Keduanya bertarung dengan penuh semangat sehingga kadang sampai terguling di kanvas. Di partai tambahan terakhir kelas 28 kg, Lukman Mukti (Kuda Sakti) melawan Didik Darma (Suara Merdeka) juga berlangsung memikat. Duel tiga ronde (masing-masing ronde 1,5 menit) dan dipimpin wasit Mulyadi (Grobogan) itu berlangsung seru dan menarik. Selarna 3 ronde, keduanya tak pernah berhenti memukul dan bergantian mendesak. Partai ini merupakan partai paling heboh. Dalam festival itu, terpilih petinju berbakat berteknis terbaik Edi Dwi dari Kebumen, atas pilihan wartawan dan panitia. Dengan demikian, dia berhak mendapat tropi setinggi satu meter dari Didik Hartanto (Manajer Kuda Sakti). Dia yang juga juara PON 1989 ini juga berharap pada bulan Agustus, jumlah pesertanya bisa lebih banyak lagi. (Paulus Noor Mulia-28m) |