logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 27 Juli 2005 OLAHRAGA
Line

Persiku Harus (Bisa) Lebih Dewasa

Oleh: M Basuki Suguita

SETELAH tenggelam sekitar 10 tahun, Persatuan Indonesia Kudus (Persiku) akhirnya kembali ke pentas persepakbolaan nasional. Lolos ke Divisi I tanpa terkalahkan di Kompetisi Divisi II membuktikan kualitas tim berjuluk Macan Muria ini.

Namun, segudang prestasi pasukan dibawah asuhan Hanafing itu tidak akan berarti banyak jika Persiku enggan bersikap bijak dimasa depan. Segudang masalah sudah mengadang begitu anak-anak Kudus menjuarai Divisi II. Untuk itu Persiku harus (bisa) lebih dewasa menghadapi semua permasalahan.

Seperti kesebelasan ''pelat merah'' lain di Tanah Air, masalah finansial menjadi momok menakutkan. Persoalan lain yang tidak kalah pelik adalah kualitas pemain. Mengarungi pentas nasional butuh pemain berkualitas teknik prima, selain fisik memadai. Jika kedua persoalan ini bisa dipecahkan secara arif bijaksana, mereka tentu tidak akan mampir ngombe saja.

Untuk Kompetisi Divisi I mendatang diperkirakan butuh butuh dana segar Rp 8 miliar. Sebanyak Rp 3 miliar berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Sedang sisanya Rp 5 miliar dari pihak sponsor, utamanya PT Djarum Kudus. Saat menjadi tuan rumah Kompetisi Divisi II lalu Persiku harus nombok Rp 500 juta. (Suara Merdeka, 22 Juli 2005).

Tentu masyarakat Kudus masih ingat kejadian 10 tahun lalu, ketika tim kebanggaan mereka harus turun panggung pentas nasional akibat persoalan finansial. Bupati waktu itu H Soedarsono merasa tidak mampu lagi membiayai tim. Alhasil Persiku langsung terjun bebas. Dari semula masuk pentas Divisi Utama, Macan Muria harus rela bertarung di Kompetisi Divisi II Jawa Tengah.

Sumber Utama

Klub-klub dunia semisal Chelsea dan AC Milan punya tiga sumber utama pemasukan keuangan, yaitu dari sponsor, kontrak media televisi dan dukungan karcis penonton. Pemasukan lain bisa dari transfer pemain dan penjualan pernik-pernik tim.

Sementara kebanyakan klub di Tanah Air menerima pemasukan finansial terbesar dari dana APBD. Ditambah sokongan pribadi dan sedikit dana dari karcis penonton. Kecuali mungkin Arema Malang yang mampu terus malang melintang tanpa dibantu APBD.

Satu hal yang harus disadari pengurus Persiku sekarang adalah jangan pasang target terlalu tinggi pada musim pertama Kompetisi Divisi I mendatang. Sasarannya cukup bertahan dulu. Target terlalu tinggi tanda dukungan finansial memadai serta pemain berkualitas hanya menghamburkan uang belaka. Baru 2-3 musim mendatang Persiku boleh siap-siap naik tingkat ke Divisi Utama.

Dana APBD saat ini tetap jadi andalan utama. Faktor Bupati HM Tamzil selaku manajer tim menjadi garansi kucuran APBD. Namun pengurus harus mampu menggali dana lain. Penggalangan seyogyanya tanpa membebani masyarakat luas. Penjualan stiker seperti dulu pernah dilakukan harus disingkirkan jauh-jauh, karena rawan kebocoran dan terkesan pemaksaan.

Penggalangan dana dari penonton harus bisa lebih ditingkatkan. Pengurus di bawah arahan Ketua Umum Drs Isdarmadi sudah berhasil membentuk Suporter Macan Muria (SMM). Ini patut diacungi jempol, karena menjadi aset berharga di masa depan, di era sepakbola profesional. Persiku harus berani mengelola penonton. Antara lain dengan cara penjualan karcis terusan untuk satu musim kompetisi.

Untuk menarik simpati, suporter resmi yang sudah menjadi anggota SMM mendapat potongan harga sekian persen. Supaya karcis terusan dan karcis yang dijual di loket-loket pertandingan tidak dipalsu oknum tidak bertanggung jawab, Persiku bisa menggandeng PT Pusaka Raya (Pura) Grup yang sangat berpengalaman di bidang hologram. Sebagai wong Kudus tentu saja Pura tidak akan keberatan membantu Macan Muria.

Libatkan Pemain

Perlu juga penjualan pernik-pernik tim semisal kaus, syal, ikat kepala atau bahkan cangkir berlogo. Semua hasil keuntungan nantinya masuk kas organisasi. Penjualan karcis terusan dan segala pernik tim perlu melibatkan pemain.

Datangi sekolah-sekolah dan tempat umum, yakinkan mereka untuk membeli barang resmi keluaran Persiku. Jangan beli barang di luar Persiku karena hasil keuntungan mereka bukan untuk kegiatan Macan Muria. Tunjukkan bahwa Persiku bisa cari dana sendiri.

Segala kegiatan tersebut tentu butuh kerja keras segenap pengurus, pemain dan pendukung setia. Persiku jangan hanya berpangku tangan saban tahun menanti uluran kebaikan dana APBD. Ingat dana APBD merupakan uang rakyat dan kalau boleh jujur seyogyanya digunakan untuk memajukan kepentingan pembangunan masyarakat luas. Biarkan tim-tim pelat merah di daerah lain selalu ''mengemis'' Wakil Rakyat. Semangat wiraswasta Kudus Kulon tentu sudah dipahami betul masyarakat Kudus.

Masalah lain seperti kualitas pemain perlu segera dibenahi. Jadi juara Kompetisi Divisi II memang membanggakan.

Namun, secara tim mental pemain Persiku sebenarnya kurang teruji. Dua kali main imbang dan sisanya menang selama Divisi II tidak mengasah mental pemain secara sempurna. Ingat Persiku selalu main kandang tanpa sekali pun bermain di luar kandang yang kaya tekanan psikologis lawan. Kekalahan telak 0-5 dari PSIM Yogyakarta di ajang Copa Djie Sam Soe memberi pengalaman berharga.

Lagi pula Persiku terlalu tergantung pada tiga figur penting, yaitu kapten Bambang Harsoyo, Agus Santiko dan mantan pemain Persebaya Ronald Pieters. Dari segi teknik kemampuan ketiga pemain pilar tersebut tidak perlu diragukan.

Ajang Divisi I home and away tentu sangat menguras fisik mereka. Bahkan Bambang dan Agus sudah memperkuat Persiku di Divisi Utama dulu, sekitar 10 tahun silam. Berarti proses regenerasi berjalan lambat. Persiku perlu merekrut pemain muda berkualitas. Semoga Persiku dapat sukses di pentas nasional. Maju terus!

- (Penulis adalah tifosi Macan Muria dan guru SMP Keluarga Kudus-22)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA