logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 27 Juli 2005 NASIONAL
Line

100 Tahun Jalur KA Ambarawa-Secang (2-Habis)

Jalan Menanjak, Loko Pindah Belakang


KA LANGSIR: Untuk melintasi jalur menanjak, loko KA uap bergigi berpindah atau langsir ke belakang gerbong. Hal itu untuk menghindari gerbong terlepas dari loko.(57v) SM/Rony Yuwono

ANSJE (35), tampak begitu menikmati perjalanan kereta api (KA) uap bergerigi dari Stasiun Ambarawa ke Bedono, Minggu (24/7). Dalam perjalanan sepanjang 10 km itu tidak henti-hentinya wanita asal Belanda tersebut mengobrol dan bercanda dengan penumpang lainnya. ''Kereta ini yang bikin kakek saya pada zaman dahulu, sekarang masih bisa dioperasionalkan. Hebat ya?'' ungkapnya tersenyum bangga kepada Suara Merdeka.

''Saya baru pertama kali ini merasakan naik kereta uap di Ambarawa,'' ucapnya senang. Wanita berambut pirang itu pun larut menikmati pemandangan alam nan indah di daerah tersebut. Konon orang Belanda menyebut keindahan daerah sekitar Ambarawa - Jambu itu sebagai ''Kebun dari Jawa''.

Ya, pada peringatan 100 tahun jalur KA uap bergerigi antara Ambarawa - Secang, Ansje dan para penumpang lain patut bangga. Sebab, KA uap di Ambarawa adalah satu dari tiga KA uap bergerigi di dunia yang masih aktif.

Acara peringatan tersebut dicetuskan oleh Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) atau Kelompok Pecinta Kereta Tua dan didukung Yayasan Losari Magelang.

Perjalanan sebelum ke Stasiun Bedono itu harus terhenti sejenak di Stasiun Jambu. Di stasiun ini, lokomotif yang semula menarik gerbong harus langsir atau pindah di belakang. Dengan demikian, posisi loko berganti mendorong dua gerbong yang berkapasitas 80 penumpang itu. ''Karena jalanan menuju Bedono sangat menanjak, loko harus mendorong dari belakang. Ini dimaksudkan untuk antisipasi supaya gerbong tidak terlepas dari loko,'' papar Kepala Stasiun KA Ambarawa Sudono kepada rombongan IRPS dan wartawan.

Sesampainya di Stasiun Bedono, rombongan pecinta kereta tua itu pun disambut hangat dengan sajian makanan berselera khas Bedono. Ada kopi dan serabi dari Ambarawa. Selain itu, para tamu juga disambut dengan tarian Jawa yang dipersembahkan oleh dua bocah usia belasan. Usai menyantap hidangan dan menyaksikan tarian, Yayasan Losari dan IRPS menggelar diskusi kecil-kecilan seputar pelestarian kereta uap tersebut.

Diskusi Ringan

Ketua Yayasan Losari Ir Dra Larasati Suliatoro Sulaiman dalam diskusi ringan itu menyampaikan bahwa KA harus dilirik sebagai alat transportasi yang bisa terus dikembangkan. ''Kami sangat bangga dengan kegiatan yang dilakukan IRPS ini,'' tuturnya. Larasati berharap KA uap tersebut tidak hanya untuk kepentingan rekreasi semata namun perlu diubah menjadi sarana rekreasi reguler dari Ambarawa ke Bedono. ''Semoga tanggal 7 Agustus nanti sudah diregulerkan,'' harapnya.

Bila hal itu terwujud, setiap hari pukul 10.30 kereta uap tersebut akan berangkat dari Ambarawa menuju Bedono. Sekitar pukul 11.15, kereta tiba di Bedono. ''Di Bedono berhenti sekitar 45 menit kemudian kembali lagi ke Ambarawa,'' imbuh Suprapto Kahumas Daops IV Semarang.

Larasati juga mengingatkan bahwa KA uap tersebut merupakan aset berharga untuk masa mendatang. Selain itu, perlu dukungan budaya untuk pengembangan pariwisata. ''Sebab pariwisata tanpa kebudayaan adalah omong kosong,'' ucapnya.

Usai dialog dan makan-makan, puncak acara diakhiri dengan menanam pohon Spatodea di sekitar Stasiun Bedono. Pohon tersebut dijadikan lambang kerja sama antara PT KAI, IRPS, dan Yayasan Losari.

''Pohon itu juga simbol pengingat untuk melestarikan aset pariwisata tersebut,'' tandas Larasati. (Rony Yuwono-41m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA