| Rabu, 27 Juli 2005 | MURIA |
39 PGOT Terjaring Razia Petugas
KUDUS - Sebanyak 39 pengemis gelandangan dan orang terlantar (PGOT) kemarin terjaring razia petugas gabungan. Aparat yang terdiri atas unsur Satpol PP, Polres, Kesbanglinmas, dan Bagian Sosial Pemkab Kudus itu menggelar operasi di sejumlah tempat di Kota Kretek yang biasa dijadikan tempat mangkal para PGOT. Ke-39 orang tersebut terdiri atas delapan pengamen, 16 pengemis, 14 tukang pijat, tujuh tunawisma, dan empat pekerja seks komersial. Mereka yang terjaring itu terdiri atas 15 laki-laki dan 24 perempuan. Usia termuda bernama Alpin (9 bulan) dan tertua Zulekhah (70 tahun). ''Empat pelacur terjaring ketika kami merazia salah satu tempat di Desa Planggading Kecamatan Dawe,'' tandas Kasi Trantib Satpol PP Drs Nurochim. Lebih lanjut dia menambahkan, razia dilakukan setelah pihaknya berkoordinasi dengan pihak - pihak lain, berkaitan dengan meningkatnya jumlah PGOT di beberapa tempat, khususnya di sekitar lampu bangjo. Mereka yang terjaring itu kemudian dikirim ke Panti Karya ''Muria Jaya'' Kudus. Menurut salah seorang pengelola panti Nurchis Widyatsih, pihaknya hanya bertugas memberikan pembinaan kepada para PGOT. Setelah terjaring, mereka akan diinapkan sehari di tempat tersebut. ''Biasanya, kami memotivasi mereka supaya tidak kembali ke jalan,'' ujarnya. Ketika ditanya apakah mereka yang terjaring itu merupakan ''muka lama'' atau ''muka baru'', Nurchis menyatakan setengahnya memang pernah mendapat pembinaan. Hal itu bisa terjadi meskipun pihak panti telah beberapa kali memberikan pembinaan dan memotivasi mereka. Itu di luar kemampuan pihak panti. ''Seperti lingkaran setan. Mereka akan selalu kembali ke jalanan. Mungkin dengan cara seperti itulah mereka bisa bertahan hidup,'' ujarnya. Padahal, mereka yang terjaring itu selalu diberi kesempatan untuk mendapatkan pembinaan gratis di pantinya selama sekitar setahun. Pihak pengelola panti dalam kurun waktu tersebut juga memberi bekal pengetahuan dan keterampilan, seperti membuat tas. Seorang perempuan pengamen yang enggan disebutkan namanya dan mengaku berasal dari Desa Hadipolo Kudus, kepada Suara Merdeka mengaku menjalani pekerjaan tersebut karena tak punya keterampilan lain. Pekerjaan itu sudah ditekuninya sejak lama. ''Bagaimana lagi, hanya ini yang saya bisa,'' ujarnya. (H8-54m) |