logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 27 Juli 2005 KEDU & DIY
Line

Panti Sayap Ibu Tampung Anak-anak Gagal Aborsi

YOGYAKARTA - Anak adalah anugerah Tuhan, karena itu harus dirawat sebagaimana mestinya. Namun, masih ada saja yang menyia-nyiakannya. Bahkan, ada yang membuang di pinggir jalan. Jika tak ada yang mengurus sudah tentu hidup anak terbuang tersebut akan berakhir. Panti Sayap Ibu Cacat Ganda Yogyakarta adalah salah satu yang peduli dengan keberadaan anak-anak terbuang tersebut.

''Anak-anak di sini sebagian besar temuan karena gagal aborsi. Ada yang ditemukan di jembatan, kandang ayam, bak sampah sebelum dibawa ke sini,'' ungkap Bapak Asuh Panti Sayap Ibu Cacat Ganda, Sunaryo (42).

Akibat aborsi, janin yang sangat rentan akhirnya lahir cacat. Orang tua yang melihat keadaan seperti itu tak mau bertanggung jawab dan membuang bayinya. Mereka yang menemukan lantas mengirim ke panti.

Bayi-bayi malang tersebut belum diketahui menderita kelainan atau tidak sampai usia menjelang enam bulan. Mereka dirawat di Panti Sayap Ibu Anak Normal Tegal Panggung Yogyakarta. Baru setelah diketahui menderita cacat ganda, bayi dipindahkan ke Panti Sayap Ibu Cacat Ganda.

Dia mencontohkan salah seorang anak balita, Faizal. Anak tujuh tahun itu tidak bisa bergerak bebas. Kedua tangannya diikat jadi satu di belakang tubuhnya. Bahkan ketika tidur tetap diikat. Lebih menyedihkan, dia juga mengalami gangguan mental tidak bisa berbicara.

''Tangannya terpaksa diikat hampir 24 jam karena mengalami autis berat dan hiperaktif. Jika tidak diikat akan meremas-remas kuping sendiri sampai berdarah atau memukul-mukul kepala sampai luka,'' ujar pengasuhnya, Musthofa.

Cacat Ganda

Faizal hanyalah satu dari 21 anak cacat ganda di Yayasan Sayap Ibu Cacat Ganda yang beralamat di Dusun Kadirojo, Purwomartani, Kalasan. Ada lagi penghuni lain, Sapta (11), yang juga diikat tangannya. Ada juga Eko (20) yang sejak kecil hanya tergeletak di kursi roda karena tubuhnya layu dan makin mengecil. Puluhan anak lain juga dalam kondisi mengenaskan dengan aneka macam kelainan baik fisik ataupun mental.

Sementara itu, Lastri Purwasi, pengelola Panti Sayap Ibu Anak Normal Tegal Panggung mengungkapkan, sejak berdiri 1978 pihaknya menerima 10-15 bayi setiap tahun. Bayi-bayi tersebut selain hasil temuan juga ada yang diserahkan oleh orang. Sekarang terdapat 16 anak balita, tiga di antaranya mengalami gangguan penglihatan.Bayi-bayi tersebut dirawat hanya sampai umur tujuh tahun. (D19-39j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA