logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 27 Juli 2005 BUDAYA
Line

Gapit, Dom, dan Magi, Publisitas Penonton

GEDUNG Teater Besar Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta dipenuhi para penikmat seni teater. Mereka bukan hanya datang dari Kota Solo dan sekitarnya, namun juga dari Semarang, Yogyakarta, bahkan Jakarta. Untuk ukuran pentas teater seniman lokal, jelas itu bukan pemandangan yang biasa.

Lantas apa yang membuat animo penonton menjadi tak biasa seperti itu? Gapit, ya nama kelompok teater asal Solo itulah yang menciptakan ketidakbiasaan tersebut. Berduyunnya penonton hingga ruang teater besar sampai terasa sesak itu memang karena alasan keinginan untuk melihat pementasan Gapit.

Dalam ranah kehidupan teater di Kota Solo, nama Gapit boleh jadi memang bukan sekadar ada. Namun lebih dari itu, keberadaannya memang telah mendapatkan tempat, khususnya bagi para penikmat seni yang selama ini telah mengenalnya.

Berangkat dari keinginan berkreativitas sekelompok seniman yang menjadi bagian dari komunitas kampus STSI dan Taman Budaya Surakarta (TBS) Jawa Tengah, sejak 1980-an awal, kehadiran kelompok teater ini memang telah cukup menarik perhatian. Hingga tak heran, jika setiap pementasannya pun selalu ditunggu.

Anehnya, meski selalu ditunggu, untuk ukuran kuantitas kelompok teater ini justru tergolong kurang produktif. Hingga sekarang, naskah lakon yang dihasilkan masih bisa dihitung dengan jari.

''Lakon yang pernah kami hasilkan di antaranya Rol yang dipentaskan kali pertama pada 1983, Leng (1985), Reh (1987), Dom (1989) dan Tuk (1990),'' ujar Sutrisno "Pelog" Santosa, pemain yang juga sutradara.

Begitulah memang Gapit, yang meskipun jarang namun pertunjukannya selalu dinanti. Hal itu seperti yang terlihat, ketika kelompok teater itu menggelar pentas selama dua malam di Gedung Teater Besar STSI Surakarta, baru-baru ini.

Kumuh

Malam itu, lakon Dom kembali digelar oleh Gapit. Lakon yang beberapa kali pernah dipentaskan tersebut merupakan karya dari almarhum Bambang Widoyo SP, salah seorang penggagas yang sekaligus pernah sebagai sutradara pada awal-awal kemunculan kelompok teater tersebut.

Dom berkisah tentang sebuah kampung bernama Kandangan. Kampung tersebut terasa sedemikian menarik ketika di balik kekumuhannya, terdapat beberapa tokoh yang menyimpan karakteristik unik. Den Sastro, Mbah Jaga, seorang gali, pejagal, WTS, dan tokoh-tokoh yang lainnya.

Sebagaimana yang telah menjadi ciri khas Gapit, Dom yang sarat akan persoalan sosial disajikan dengan bahasa Jawa sebagai media pitutur antarpemainnya.

Dari bahasa itulah jalinan cerita tentang kehidupan Kampung Kandangan tersaji, entah lewat basa ngoko kasar, ngoko alus, atau pun sampai krama inggil.

Dan seperti yang terlihat dalam pementasannya, penggunaan Bahasa Jawa ini ternyata tidak saja menjadi ciri khas kelompok teater tersebut, tapi malah seperti mendukung pengungkapan Kampung Kandangan sebagai sebuah desa yang kumuh sekaligus kampung buangan.

''Mungkin ada yang menganggap, bahasa akan menjadi kendala pementasan teater kami. Namun kami merasa kok tidak. Buktinya ketika pentas di Jakarta belum lama ini, justru tetap ditunggu.''

Hampir tak ada simbolisme yang muncul dari cara sikap atau pun bahasa mereka, yang akan memunculkan kesan ndakik-ndakik seperti yang sering ditemui pada pementasan teater pada umumnya. Semuanya terlihat penuh kewajaran.

Demikian juga dengan pemanggungannya. Hampir tak ada pula simbolisme yang muncul dari properti yang digunakan. Maka barang yang ada di panggung pun pastilah akan memiliki fungsi benar, bukan sebagai sarana ungkap tentang suatu hal seperti yang lazim terlihat dalam seni instalasi.

Namun dari kewajaran yang lebih menyerupai bentuk teater tradisional itu, sajiannya malah lebih terasa mengena. Karena dengan sajian yang demikian, penonton akan lebih gampang mencernanya. Ataukah, barangkali karena inilah yang membuat penonton selalu menanti pertunjukannya? (Wisnu Kisawa-45)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA