logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 26 Juli 2005 NASIONAL
Line

100 Tahun Jalur KA Ambarawa-Secang (1)

Upaya Hidupkan Jalur-jalur yang Mati


NAIK KA UAP: Sejumlah penumpang menikmati perjalanan dengan naik kereta api uap bergerigi dari Stasiun Ambarawa menuju ke Bedono, belum lama ini. (57j) - SM/ Rony Yuwono

Jalur rel kereta api Ambarawa-Secang tahun ini genap 100 tahun. Bangunan dengan lebar spoor 1.067 mm itu dibuka pada 1 Februari 1905. Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) atau Kelompok Pecinta Kereta Api Tua, Minggu (24/7) menggelar acara peringatan 100 tahun jalur rel tersebut. Mereka mengadakan perjalanan dari Stasiun Ambarawa menuju Bedono, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang dengan kereta api uap bergigi. Berikut laporan wartawan Suara Merdeka Rony Yuwono mengenai kereta tua tersebut.

KERETA Api uap bergigi di Ambarawa merupakan aset bernilai bagi perkembangan pariwisata Indonesia khususnya di Jawa Tengah. Sekarang ini, di dunia ini masih tersisa tiga kereta api uap bergigi yang bisa dioperasionalkan. Yaitu, KA bergigi di India, Swiss, dan Indonesia (Ambarawa). Di Indonesia sendiri, selain Ambarawa sebenarnya di Sumatera Barat juga masih ada KA peninggalan Belanda. Hanya saja KA di Sumbar itu tidak begitu aktif.

Mengingat nilai sejarah dan fungsinya, yang pada zaman kini lebih pada sarana rekreasi, IRPS sengaja memperingati 100 tahun jalur KA bergigi Ambarawa-Secang. Tidak sekadar rekreasi saja, namun pecinta kereta tua itu juga ingin berusaha memberikan sumbang saran ke PT KAI untuk lebih peduli pada perawatan KA tua itu. ''Kegiatan ini kami lakukan untuk mengingatkan PT KAI agar lebih peduli terhadap aset bersejarah bangsa, tidak sekadar eksploitasi memperoleh pendapatan,'' kata Widoyoko, Ketua IRPS di Museum Ambarawa. Pada kesempatan itu turut berpartisipasi anggota IRPS dari Bandung, Jakarta, Semarang, Malang, dan Sidoarjo.

Selain itu, IRPS juga memiliki agenda pendidikan kepada anak-anak usia sekolah dasar tentang pengetahuan kereta api. Pihaknya berencana membuat semacam buku panduan untuk SMP dan SMA tentang sejarah perkeretaapian Indonesia. ''Termasuk menanamkan rasa disiplin pada anak, seperti kalau ada palang pintu kereta yang tertutup jangan nyelonong,'' jelas Widoyoko.

Widoyoko yang berasal dari Bandung itu mengatakan bahwa Museum Ambarawa tersebut kurang informatif. Museum tersebut menurutnya harus bisa menjadi sarana edukatif (mendidik). Pihaknya juga meminta PT KAI untuk menjadikan KA tua itu sarana transportasi reguler.

Menanggapi permintaan itu Kahumas Daops IV Semarang Suprapto mengatakan, pihaknya akan terlebih dahulu menjalin kerja sama dengan investor. ''Sebab untuk meregulerkan transportasi tua itu butuh dana yang tidak sedikit,'' tuturnya. Selain itu, kata dia, suku cadang KA tersebut sudah tidak diproduksi lagi. ''Selama ini kami menggunakan cara kanibal (mengambil bagian tertentu dari kereta yang sudah tidak aktif-Red) untuk mengatasi KA bila ada kerusakan,'' tegasnya.

Selama dalam perjalanan Widoyoko mengakui, kereta api merupakan sarana transportasi paling menyenangkan. Karena itu, pihaknya berencana memberikan usulan agar jalur-jalur yang mati bisa dihidupkan kembali. ''Saya memiliki keinginan di Jawa ini ada jalur kereta sehingga untuk mengenalkan aset wisata di satu daerah dengan daerah lainnya relatif menyenangkan,'' ujarnya.

Widoyoko mengingatkan kepada semua pihak untuk tidak melupakan sejarah. ''Seperti kata Bung Karno jangan sekali-kali melupakan sejarah.'' terangnya. Berbicara sejarah, Kota Ambarawa memiliki arti penting bagi Belanda. Sebab sekitar 500 meter ke arah timur dari Museum Ambarawa berdirilah benteng pertahanan yang kokoh yaitu Willem I. Pemerintah kolonial Belanda pada 1905 membangun jalur rel dari Ambarawa ke Secang. Hal itu dilakukan untuk menghubungkan pusat militer Ambarawa ke pusat militer di Purworejo-Magelang. Rute Gemawang menuju Jambu harus melewati bukit yang terjal. Maka untuk menghemat biaya dibangunlah rel bergigi. (14v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA