| Senin, 25 Juli 2005 | RAGAM |
Keberadaan Manusia lewat Suatu Proses (1)Ditentukan oleh KualitasALLAH selalu menciptakan sesuatu secara bertahap. Yakni dengan melalui suatu proses yang berkesinambungan. Manusia misalnya, ia diciptakan tidak langsung dewasa. Tetapi melalui proses mulai dari bentuk air, lalu menjadi janin, kemudian menjadi bayi, terus manjadi anak-anak, dan akhirnya menjadi dewasa. Demikian juga dengan tanaman. Dimulai dari biji kemudian timbul tunas, daun dan seterusnya, sampai akhirnya berbunga atau berbuah. Yang perlu kita sadari dari fenomena ini ialah baik atau buruknya kualitasnya. Baik manusia atau pun tumbuhan setelah dewasa nanti sangat ditentukan oleh proses pemeliharaan atau bekal yang diterimanya dari sejak mulai berada dalam perut ibunya. Si calon Ibu ini memakan makanan yang bergizi agar kelak bayinya sehat. Kemudian bayi tersebut diberinya makanan yang baik, serta dilindungi keamanannya supaya menjadi anak yang sehat. Selanjutnya, anak ini dilengkapi dengan gizi dan bekal pendidikan yang cukup, disekolahkan yang tinggi, sehingga pada akhirnya ia menjadi orang. Tumbuhan pun demikian. Pemeliharaannya dari sejak kecil diberi pupuk, disiram, disiangi, dilindungi dengan antihama akan menentukan kualitasnya pada saat ia berbunga atau berbuah nanti. Demikian pulalah kiranya Allah menjadikan eksistensi manusia di akhirat. Kualitas manusia di akhirat, akan ditentukan setelah ia melalui proses ujian demi ujian terhadap ketaatannya pada Allah selama hidupnya di dunia. Jadi jelaslah, kualitas di akhirat nanti tergantung pada keberhasilan kita sendiri dalam mengatasi ujian-ujian yang dihadapi. Apakah kita mampu selalu taat mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, atau membangkang sebagaimana yang dilakukan iblis ketika diperintahkan sujud kepada Adam. Firman Allah dalam surat An-Nisa 13,14: ''Barang siapa taat kepada Allah dan rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga, dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuannya niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan.'' Pahala adalah hadiah yang diberikan Allah kepada manusia apabila ia lulus dari ujian yang dihadapinya. Ujian-ujian ini pada dasarnya terletak pada dua jalur, yaitu jalur Hablumminallah dan Hablumminannas. Pada kedua jalur ini, Allah dan Rasull-Nya telah menentukan aturan main bagaimana manusia harus bersikap. Misalnya saja, dalam jalur Habluminnallah manusia diwajibkan shalat dan dalam jalur Habluminannas manusia diwajibkan berbuat baik terhadap sesamanya. Semua aturan main ini tertuang dalam Alqur'an dan Hadist Rasulullah SAW. Barang siapa yang dapat tetap patuh melaksanakan aturan main ini, dengan niat semata-semata karena Allah, maka ia disebut orang yang bertaqwa. Dan dia akan memperoleh pahala, yang kelak akan dirasakan kenikmatannya di akhirat nanti. Jadi dengan perkataan lain, ladang tempat mencari pahala itu terletak pada jalur Hablumminallah dan jalur Habluminannas. Karena pada dua jalur inilah Allah menguji ketaatan manusia mematuhi aturan-aturan yang ditentukan-Nya dalam Alqur'an dan Hadist. Allah melengkapi manusia dengan mata, telinga dan hati bukan tanpa tujuan. Perlengkapan ini merupakan sarana bagi Allah untuk menguji manusia, apakah dalam setiap situasi dan kondisi baik ataupun buruk ia mampu tetap taat mengikuti aturan main yang sudah ditetapkan-Nya atau tidak. Firman Allah : ''Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami kehendaki mengujinya (dengan perintah dan larangan), karea itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.'' (Al Insaan (76):2,3). Supir yang ugal-ugalan di jalan raya, atasan yang menjengkelkan, kolega yang picik, ataupun teman yang menyebalkan, ini semua terjadi karena Allah melengkapi kita dengan mata, telinga, dan hati. Oleh karena itu, orang-orang negatif ini harus dipandang sebagai ujian Allah pada jalur Habluminannas. Apabila orang-orang ini dapat kita hadapi sesuai dengan tuntunan yang diberikan-Nya melalui Rasull-Nya, maka berarti kita lulus. Sebaliknya bila mereka kita hadapi dengan emosi atau nafsu, maka berarti kita gagal. Hendaklah kita senantiasa mengingat pengalaman para bijak, ''Kepuasan sejati bukanlah menuruti hawa nafsu, tetapi kepuasan sejati adalah keberhasilan menahan diri untuk tidak mengikuti hawa nafsu.''(Tim Kajian Qolbun Salim-12) |