| Senin, 25 Juli 2005 | OLAHRAGA |
CLS Tak Mau Jadi Runner-upSatu di antara 4 tim yang maju babak final four Kompetisi Bola Basket Wanita (Kobanita) di Kota Semarang yang dimulai sore ini adalah tim Cahaya Lestari Surabaya (CLS), sedangkan tiga tim lainnya adalah Rajawali Expose Bandung, Britama Mahaputri Jakarta, dan ''tuan rumah'' Bhinneka Sritex Solo. Bagaimana peluang tim CLS merebut jawara Kobanita tahun ini? Kenapa klub yang berdiri sejak 1946 di Kota Pahlawan tersebut mampu bertahan hingga sekarang? ''Target kami masuk babak final,'' kata Ming Sudarsono, wakil ketua harian CLS, ketika ditemui Suara Merdeka di GOR Kertajaya Surabaya, Jum'at (22/7) petang lalu. Kemungkinan tim CLS bertemu dengan Mahaputri Jakarta di babak final. Peluang untuk merebut juara Kobanita membutuhkan kerja keras dan kematangan mental pemain tim ini. ''CLS telah bertemu Mahaputri tiga kali di babak final dan hasilnya kami selalu kalah. Tapi untuk tahun ini kami berusaha merebut juara dan tidak mau runner-up terus. Peluangnya 50:50," tambah Ming. Demi mempersiapkan terjadinya pertemuan di grand final CLS melawan Mahaputri, Jumat (29/7) mendatang, kedua tim harus melewati lawan-lawannya. Hari ini dan besok, CLS berjumpa dengan Rajawali, sedangkan juara bertahan Mahaputri menghadapi Bhinneka. Jika dalam dua pertandingan itu skor langsung 2-0, maka langsung dimainkan final pada 29 Juli. Namun bila terjadi skor seri 1-1, maka pada Kamis dimainkan pertandingan penentuan untuk mencari pemenang yang berhak ke final. Di ajang Kobanita, tim kebanggaan warga Kota Pahlawan dan Jatim ini menorehkan prestasi tak terlalu buruk. Selama tiga tahun berturut-turut, tim ini selalu masuk final. Sayangnya mereka menderita kalah dari Mahaputri, sehingga hanya menempati runner up. Ming memaklumi kenapa timnya selalu kandas saat bertemu Mahaputri di babak final Kobanita. Hal itu mungkin disebabkan CLS menerapkan manajemen semiprofesional dalam mengelola tim bola basket wanita, sedangkan Mahaputri Jakarta mempergunakan sistem manajemen profesional secara penuh. "Tim Mahaputri berani mengontrak pemain, jadi dengan nilai kontrak dan bayaran perbulan yang cukup besar. Di sisi lain, tim CLS mengandalkan pemain hasil pembinaan sejak usia dini dan tak ada satu pun pemain yang jadi berasal dari comotan klub lain. Sebagian pemain kita ada yang kita bayar, sebagian lainnya tak dibayar dan mereka sangat senang membela tim ini," ungkap Ming. Dia mengemukakan, pada akhir tahun 1990-an, tim ini selalu merajai Kobanita. "CLS sempat juara Kobanita empat kali berturut-turut, yakni tahun 1998, 1999, 2000, dan 2001," ungkapnya. Sejak 1946 Di dunia perbolabasketan nasional, nama CLS sudah dikenal banyak pemain, pengelola, dan penggemar bola basket. Klub ini punya nama besar. Klub ini berdiri sejak tahun 1946. Awalnya ber-home base di Jl Indrapura Surabaya, belakang Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN). Sejak tahun 1990-an, klub yang melahirkan banyak pebasket nasional ini bermigrasi ke kawasan Kertajaya, Surabaya, seiring dengan pembangunan gedung olahraga serbaguna (GOR) di kawasan Surabaya Timur tersebut. Sejak tahun 1990-an, manajemen CLS dikelola semiprofesional hingga sekarang. "Profesional sepenuhnya sih belum. Sejak tahun 1993, kami sepenuhnya pindah ke sini," tukas Ming yang juga mantan pemain CLS era tahun 1980-an. (G14-28h) |