logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 25 Juli 2005 WACANA
Line

Surat Pembaca

Titisan Hoegeng

Selamat datang dan selamat bertugas kepada Jenderal Polisi Sutanto sebagai orang no 1 di Kepolisian RI. Rakyat sudah lama merindukan tegaknya hukum. Kepolisian sebagai salah satu dari "tiga serangkai" ujung tombak penegak hukum setelah kejaksaan dan kehakiman.

Namun bukan rahasia lagi, citra "bhayangkara negara" ini terlanjur terpuruk, bahkan persepsi miring dan image jelek yang tertanam di otak mayoritas masyarakat. Sampai lahir istilah berbau sindiran yaitu polisi cepek, sebutan bagi polisi yang hobi "tawar-menawar" dengan para sopir di pinggir jalan.

Track record baik yang ditorehkan Jend Sutanto yang antijudi adalah saat menjadi Kapolda Sumut dan Jatim. Juga antinarkoba tatkala menjadi Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional (BNN) dengan melibas habis pabrik putauw dan ekstasi di Parung Bogor merupakan credit point-nya.

Karenanya dia juga dijuluki Mr Clean di tengah-tengah banyak perwira polisi memilih delapan enam (kode sandi polisi yang berarti kompromi) dengan judi dan narkoba. Tentu saja banyak beban berat lain yang harus diembannya seperti menuntaskan reformasi di korpsnya, mengubah kultur kepolisian yang militeristik menjadi lebih sipil.

Last but not least, menyapu bersih virus korupsi yang sudah menggerogoti institusi penanggung jawab kamtibmas tersebut. Lebih afdol kalau juga membuka layanan hotline agar masyarakat bisa komplain lewat SMS (seperti SBY). Semoga Jend Pol Sutanto menjadi "Titisan dari Jend Pol Hoegeng" mantan Kapolri di era tahun 70-an.

Jenderal yang bersih, miskin harta tapi kaya idealisme, setia di jalur lurus dan pengabdi kebenaran serta keadilan. Beliau salah satu putra terbaik yang dimiliki oleh jajaran Kepolisian, yang stoknya sangat langka.

S Joko Wiyono

Sukorejo Rt 5/Rw 1, Kendal

***

Jangan Biarkan Nyeri Sendi Bahu

Keluhan nyeri sendi bahu makin sering terlontar di masyarakat. Celakanya makin dibiarkan, rasa sakitnya tidak membaik, malah menjadi sampai mengganggu aktivitas sehari-hari. Pakai baju susah, sisiran susah, setir mobil tidak nyaman, wah... repot kan.

Pencetus gangguan ini biasanya dari trauma mekanis seperti: mendorong sesuatu terlalu kuat, menarik terlalu kuat, menjinjing barang melebihi kemampuan, tidur miring pada posisi menetap dan lainnya. Cara terbaik mengatasi adalah dengan menghindari faktor pencetus tersebut.

Cara mengatasi secara sederhana dapat dilakukan dengan rileksasi sendi bahu dengan kompres hangat, pemijatan dan latihan gerak sendi. Gerakkan sendi bahu ke segala arah, lawan rasa sakit dengan pelan dan berulang (sendhal pancing). Ingat jangan tidak digerakkan, sebab makin tidak digerakkan akan makin kaku dan sakit.

Nah kalau nggak sembuh-sembuh, sebaiknya datang ke klinik fisioterapi terdekat, Anda akan mendapatkan pemeriksaan, penyembuhan dan trik-trik pencegahan. Salam sehat.

Hardi

Purworejo Rt 2/Rw 2, Banjarnegara

***

Kebangkitan Sekolah "Biasa"

Saya menanggapi Surat Pembaca teman Ricko Septian W 20 Juli 2005 tentang sekolah "biasa. Sebuah negara maju tentulah dinilai dari tingkat peradaban, sosial-ekonomi dan Iptek yang dicapai. Singapura, Jepang dan Korea Selatan tetap dianggap negara maju meskipun jumlah penduduknya sedikit.

Juga dalam menilai kualitas sekolah, tidak dapat hanya berpatokan pada nama besar tetapi lebih pada prestasi yang dicapainya. Di antaranya prestasi akademis yang terwujud dalam hasil Ujian Nasional (UN), walau jumlah siswanya relatif sedikit.

Menurut pemahaman saya, rata-rata hasil UN sekolah yang dijadikan patokan rangking adalah jumlah nilai keseluruhan siswa peserta UN dibagi jumlah siswanya. Jadi sedikit atau banyak jumlah siswa sekolah sama saja karena tetap sebagai pembagi terhadap jumlah nilai UN keseluruhan siswa.

Munculnya sekolah yang dianggap "biasa" oleh Sdr Ricko S W dari SMA Kolose Loyola Semarang, sebagai peraih rangking tinggi pada hasil UN, justru harus diapresiasi sebagai fenomena menarik. Yaitu sebagai kebangkitan sekolah "biasa" untuk berprestasi lebih baik dari sekolah "bernama besar" selama ini. Alangkah bijaksananya jika momentum ini dijadikan tonggak introspeksi bagi sekolah yang dianggap memiliki nama besar tersebut sebagai tantangan untuk lebih berprestasi. Jadi tidak perlu menjadi hal yang menakutkan atau ancaman.

Mari berjiwa besar dengan selalu siap bersaing untuk lebih baik dan menghargai prestasi orang lain. Selamat untuk SMP N 2, SMP/SMA Semesta, SMP Al-Azhar, SMA Nurul Islam dan SMA Krista Mitra Semarang,

Priscilla Naftali

Alumnus SMA Krista Mitra Semarang

***

Parade Band Unnes

Atas Surat Pembaca yang ditulis Sdr Ahmad S, 27 Juni 2005. kami jelaskan bahwa komplain Anda tidak benar. Leaflet (selebaran) yang Anda maksud adalah selebaran pertama yang sudah kami susuli selebaran baru (sebagai pengganti) karena ada pengunduran diri salah satu sponsor secara mendadak.

Kegiatan ini adalah Parade Band, bukan Festival Band dan hal tersebut sudah disampaikan saat technical meeting. Dalam acara tersebut disepakati panitia dan peserta bahwa tidak ada trofi Best Player maupun Cash Money.

Yang ada hanya trofi bagi pemenang I, II dan III. Kegiatan ini bertujuan bukan profit oriented. Soal trofi yang tidak ada, saat pengumuman karena belum jadi. Namun trofi akhirnya diambil masing-masing pemenang pada hari berikutnya dan dari panitia memberikan uang pembinaan Rp 50 ribu untuk juara I, Rp 30 ribu untuk juara II dan III.

Sebenarnya uang pembinaan tersebut tidak termasuk salah satu keputusan. Aturan batas waktu bukan kami yang melanggar, tapi ada beberapa peserta yang datang terlambat dan waktu tampil juga dilanggar oleh beberapa peserta.

Sesuai kesepakatan pada technical meering, panitia memutuskan sound system tersebut. Terima kasih masukannya dan semoga tidak jera mengikuti kegiatan di kampus kami.

Ketua BEM Fak IP Unnes

Yudi Arinto

***

Nasib Buruh yang Bekerja 20 Tahun

Ibu saya Lusia Sugiyem, karyawan operator produksi section sewing-2, PT Ungaran Sari Garments yang sudah bekerja 20 tahun lebih. Tanggal 9 Juli 2005 beliau berangkat kerja dalam keadaan sehat, tetapi pukul 17.15 WIB saya diberitahu ibu berada di UGD RSU Ungaran ditunggui 2 temannya.

Dokter bilang kondisi ibu kritis dan memberi rujukan untuk dibawa ke RS Elisabeth Semarang. Namun ICU RS Elisabeth penuh hingga saya bawa ke RS Dr Kariadi. Setelah ditangani dan kondisinya membaik, maka kemudian pindah ke RS Elisabeth, dirawat 1 minggu.

Dokter spesialis syaraf RS Dr Kariadi menyatakan ibu shock berat sehingga menimbulkan kejang parah. Setelah saya bertanya kepada beberapa teman ibu, ada yang bilang ibu dibentak-bentak dengan kata-kata tidak sopan oleh atasannya. Selama 1 minggu dirawat, tidak satu pun dari pihak pabrik membesuk.

Beginikah sikap perusahaan yang produknya mampu menembus pasar ekspor terhadap buruhnya yang telah 20 tahun bekerja. Begitukah cara atasan bersikap terhadap bawahan dan tidak adakah rasa kemanusiaan. Apakah hal itu akan terulang lagi kepada operator yang lain, mohon penjelasan.

Agus Riyadi

Kerban Rt 2/Rw 3 Harjosari, Bawen


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA