| Senin, 25 Juli 2005 | SEMARANG |
HUT Ke-1255 Kota Salatiga (2)Izin Investor ke Kota Dingin DipermudahMENGINJAK usianya yang ke-1255 tahun, sejumlah problematik lama mengenai penanganan tata kota masih menjadi pekerjaan rumah yang serius. Contohnya masalah mengenai penanganan PKL dan penataan transportasi di Kota Salatiga yang berdampak pada kemacetan, sampai saat ini belum terselesaikan. Kemudian masalah pendidikan gratis yang hingga kini masih menjadi jargon, sebab belum sepenuhnya terealisir. Selain itu juga masalah pengangguran, sehingga perlu dicari jalan penyelesaiannya. Kepada Suara Merdeka, Wali Kota Salatiga H Totok Mintarto membenarkan adanya hal itu. Namun menurut dia, setidaknya beberapa langkah strategis telah diupayakan agar masalah tersebut tidak berlarut-larut. Soal penataan PKL, ujar Totok, merupakan masalah yang sama dihadapi oleh daerah perkotaan di mana pun. ''Baru sehari ditertibkan, keesokan harinya muncul sejumlah PKL baru di tempat yang sama. Begitu seterusnya, seakan tidak ada habisnya,'' ujar Totok. Menurut dia, menata PKL tidak semudah membalikkan tangan, sebab dibalik pedagang tersebut terdapat ratusan hingga ribuan orang yang hidupnya bergantung pada usaha di pinggir jalan itu. Di sisi lain, PKL merupakan salah satu kegiatan ekonomi perkotaan yang memberikan sumbangan cukup besar bagi pendapatan daerah. Sementara soal penanganan transportasi, merupakan masalah yang pelik mengingat Kota Salatiga merupakan daerah yang relatif kecil tetapi mobilitas penduduknya sangat tinggi. Akibatnya, operasional kendaraan angkutan cukup banyak, sehingga kebutuhan sarana terminal baru memang cukup mendesak. Mengenai masalah pendidikan gratis, Totok menjelaskan kalau Pemkot telah berupaya menyediakan dana pendidikan yang dianggarkan lewat APBD. Diakui, untuk menyalurkan dana itu tidak mudah. Dia juga bersyukur karena pada tahun ini pemerintah telah mulai menyalurkan bantuan sejenis beasiswa, sehingga diharapkan masalah pendidikan gratis di Kota Salatiga dapat segera terealisir. Soal ekonomi dan pengangguran, telah diupayakan Pemkot dengan menarik sebanyak-banyaknya investor ke kota yang berada di kaki Gunung Merbabu tersebut. Yakni dengan mempermudah masuknya investor melalui proses perizinan. Terbukti sejumlah investor di bidang kosmetik, makanan, serta perhotelan dalam kurun waktu setahun telah mulai menanamkan modalnya. Dia berharap dapat melakukan peningkatan kinerja birokrasi dalam upaya meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Diakui, banyak masalah krusial tetapi setidaknya dapat dikurangi dan tidak sepenuhnya menjadi beban warganya. Berkaitan dengan masa Totok yang berakhir pada 2005, dia menjelaskan kalau Salatiga bakal memiliki gawe besar, yakni melakukan pilkada secara langsung. Beruntung, ujar Totok, pengalaman berharga pilkada daerah lain dapat menjadi pelajaran. (Surya Yuli P-51d) |