logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 25 Juli 2005 INTERNASIONAL
Line

AS Anggap Forum Regional ASEAN Tak Lagi Penting

BANGKOK - Ketidakhadiran Menlu AS Condoleezza Rice pada pertemuan tahunan forum keamanan Asia Tenggara di Bangkok, pekan ini, menimbulkan pertanyaan tentang komitmen AS di kawasan tersebut. Terlebih lagi, China semakin dominan saja di sana belakangan ini.

Namun Deplu AS bersikukuh, adanya ''kunjungan lebih esensial'' ke kawasan lain merupakan alasan utama mengapa salah satu orang kepercayaan Presiden Bush itu tidak dapat hadir pada pertemuan ASEAN Regional Forum (ARF) 28-29 Juli.

Padahal, para menlu AS sebelum dia selalu menyempatkan diri hadir pada forum penting tersebut.

Tetapi, dalih Deplu AS itu tidak dapat diterima begitu saja oleh ASEAN (yang terdiri atas 10 negara Asia Tenggara).

Kawasan dengan jumlah populasi sekitar 600 juta jiwa tersebut punya cadangan minyak bumi dan gas alam melimpah, yang dianggap penting untuk mendongkrak perekonomian China yang sedang booming untuk jangka panjang.

''Saya tahu, ada perasaan kecewa di kalangan anggota ASEAN,'' kata Menlu Thailand Kantathi Suphamongkhon kepada para wartawan, Minggu. Thailand adalah sekutu tradisional AS.

Menurutnya, para analis berpendapat keputusan Rice mengirimkan wakilnya, Robert Zoellick, ke pertemuan ARF menunjukkan AS ingin menyerahkan inisiatif kepada China.

''Inilah yang menjadi keprihatinan. Mudah-mudahan tahun depan Rice dapat datang. Mudah-mudahan pula, ketidakhadirannya kali ini hanyalah akibat terbentur pada jadwal kunjungan yang unik belaka, tambahnya.

Kebijakan AS Berubah

Beijing, yang dengan hati-hati menyusun strategi untuk menjamin stabilitas di ''halaman belakangnya'' - yang juga sumber utama bagi energinya - telah mengambil langkah-langkah penting untuk mempererat hubungan dengan ASEAN.

Antara lain, China secara bilateral dengan setiap negara anggota ASEAN atau pun dengan ASEAN secara blok telah menandatangani perjanjian persahabatan, pakta nonagresi, dan perjanjian perdagangan bebas.

Sejak aksi kamikaze 11 September 2001 di Washington dan New York, diplomasi AS di Asia Tenggara lebih didominasi oleh perang melawan teror. ''Saya tidak tahu dengan pasti, apakah langkah AS itu bijak,'' kata KS Nathan, seorang analis Institute of South East Asian Studies yang berbasis di Singapura.

''Perubahan kebijakan AS tersebut praktis memberikan inisiatif kepada negara lain, terutama China dan India yang kekuatannya sedang tumbuh dengan cepat,'' katanya, kepada para wartawan.

''China memberikan penekanan lebih pada isu multilateralisme, dan jelas sekali peluangnya besar bagi negara tersebut untuk lebih meningkatkan pengaruh,'' tambahnya.

Seperempat perdagangan dunia dan hampir seluruh impor minyak ke China dan Jepang melewati Selat Malaka yang sempit, yang dipatroli bersama oleh Indonesia, Singapura, dan Malaysia. (rtr-ed-58)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA