logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 25 Juli 2005 EKONOMI
Line

Psikologi Investor Pasca-Revaluasi Yuan

KINERJA Bursa Efek Jakarta mencapai puncak pertama di kuartal pertama tahun 2005 yang ditandai indeks harga saham gabungan (IHSG) di posisi 1.152,6 pada 22 Maret lalu. Ketika itu posisi indikator makro ekonomi di antaranya tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) pada posisi 7,44 persen dan kurs tengah mata uang rupiah pada posisi Rp 9.410 per dolar AS.

Pada perkembangan berikutnya, posisi itu baru terlampaui pada pekan lalu, tanggal 21 Juli ketika IHSG di posisi 1.157,5 dan hari penutupan bursa pekan lalu ditutup menguat secara signifikan pada posisi 1.172,2. Ketika itu indikator makro ekonomi, posisinya tidak lebih baik dari posisi puncak pertama, tingkat suku bunga SBI pada posisi 8,49% dan kurs tengah mata uang rupiah pada posisi Rp 9.686 per dolar AS.

Seiring dengan adanya penguatan kurs rupiah pada dua hari terakhir, di bursa pekan lalu, IHSG telah naik tajam dari posisi 1.140,6 ke posisi 1.172,2 atau naik sebesar 2,8 persen. Penguatan kurs rupiah itu seiring dengan adanya penguatan kurs mata uang negara lain terhadap dolar AS. Saat itu China baru saja memunculkan kebijakan revaluasi mata uang yuan terhadap dolar AS. Adakah hubungan langsung maupun tidak langsung antara revaluasi mata uang itu terhadap penguatan kurs mata uang berbagai negara, termasuk Indonesia terhadap dolar AS?

Revaluasi mata uang dikenal sebagai lawan dari devaluasi mata uang. Revaluasi berarti menaikkan mata uang sendiri terhadap mata uang asing (dolar AS). Revaluasi mata uang yuan oleh pemerintah China pada dasarnya merupakan bentuk strategi perang dagang antara China dan Amerika. Pihak Amerika merasa tersaingi China dalam hal pemasaran produknya di pasar dunia. Karena itu Amerika memberi tekanan secara ekonomis kepada China, di antaranya melalui kebijakan revaluasi mata uang.

Telaah teoritis mengemukakan pada dasarnya dikenal dua bentuk kebijakan tentang kurs mata uang, yaitu sistem kurs tetap (fixed rate system) dan kurs mengambang (flexible rate system). Selama kurang-lebih satu dasawarsa China telah menganut sistem kurs tetap untuk mata uang yuan pada posisi 8,28 per dolar AS. Pada posisi itu pihak Amerika merasa berada pada posisi yang kurang diuntungkan dan menganggap dengan patokan kurs tersebut ekspor China ke Amerika menjadi lebih murah, sedangkan ekspor Amerika ke China menjadi lebih mahal. Dengan demikian China akan lebih dapat mendorong pengembangan ekspornya secara lebih baik.

Terhitung sejak 21 Juli 2005 dalam rangka mengakomodir tekanan Amerika, China menentukan kebijakan perubahan dari kurs tetap menjadi kurs mengambang. Dengan penentuan kurs mengambang, maka besarnya kurs akan tergantung dari permintaan dan penawaran terhadap mata uang tersebut. Namun demikian China menentukan kurs mengambang terkendali dengan menemukan batas toleransi kenaikan dan penurunan terhadap kurs harian yang ditetapkan. Revaluasi yuan sebenarnya tidak begitu signifikan dari 8,22 yuan per dolar AS menjadi 8,11 yuan per dolar AS, tetapi yang signifikan justru perubahan sistem penentuan kurs tetap menjadi sistem mengambang.

Peristiwa revaluasi mata uang yuan dan kebijakan perubahan penentuan kurs secara mengambang oleh China merupakan suatu momentum yang dimanfaatkan para pelaku pasar, terutama pemimpin pasar (market leader) di bursa global, termasuk Bursa Efek Jakarta.

Para investor mempunyai kecenderungan mengukuhkan kembali kinerja tertinggi yang pernah dicapai di BEJ. Mereka berupaya mengulang kembali mencapai puncak pertama sebagaimana posisi mencapai 1.157,5 pada kuartal pertama tahun 2005. Namun pada kuartal kedua 20 Juni upaya menembus puncak pertama tersebut gagal, karena ketiadaan momentum pasar. Pada kuartal kedua posisi IHSG tertinggi hanya dapat mencapai posisi 1.147,7.

Upaya selanjutnya dengan momentum peristiwa 21 Juli 2005, ternyata mempunyai daya dorong yang kuat pada para pelaku pasar, sehingga akhirnya puncak pertama dapat tertembus terulang kembali IHSG pada posisi 1.157,5. Pada hari berikutnya setelah melewati puncak pertama ternyata transaksi pembelian masih kuat, sehingga hari berikutnya kenaikan kinerja bursa berlanjut mencapai posisi 1.172,2. Pertanyaan yang muncul, apakah kenaikan kinerja bursa akan terus berlanjut atau tetap hanya merupakan momentum jangka pendek?

Secara keseluruhan semangat para investor dalam bertransaksi pada dua hari bursa terakhir pekan lalu masih kuat yang diindikasikan nilai transaksi harian yang mencapai Rp 2,3 triliun pada hari pertama dan Rp 1,9 triliun hari terakhir bursa pekan lalu. Namun dilihat dari katagori investor pada dua hari terakhir setelah menembus puncak pertama, investor domestik nampak ragu yang diindikasikan semangat transaksi jualnya lebih besar dari semangat transaksi belinya.

Tidak demikian halnya dengan investor asing, meski sudah melampaui titik puncak pertama, terlihat semangat belinya masih lebih besar dari semangat jualnya. Sebagai pemimpin pasar, umumnya perilaku mereka akan cenderung memberikan warna kondisi bursa berikutnya. Bila semangat beli lebih besar dari semangat jual, maka kecenderungannya, berikutnya keadaan bursa masih akan tetap membaik dan bertahan. Akhirnya perkembangan bursa berikutnya juga searah dan sesuai momentum baru yang informasinya dapat tertangkap oleh jangkauan radar para investor. (Sugeng Wahyudi, dosen pada Program Doktor Ilmu Ekonomi, FE Undip Semarang-33).


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA