| Senin, 25 Juli 2005 | BUDAYA |
Senandung Derita dan Indahnya CintaSETIAP insan di dunia berhak mendapatkan cinta sejati. Namun untuk meraihnya, tidak semua bisa melaluinya dengan mulus. Di sana, ada rasa bahagia dan duka lara, rindu dan benci, serta rasa lain yang bercampur aduk. Semua rasa itulah yang dihadirkan Jikustik saat tampil dalam acara live in concert di Starqueen Club Semarang, Jumat (22/7) malam. Band asal Yogayakarta yang terbentuk tahun 1997 itu membuai penonton untuk kembali mengingat kisah cinta yang telah mereka jalani. Band yang diawaki Pongky (vokal), Carlo (drum), Adhit (kibor), Dadi (gitar) dan Icha (bas), membuka kenangan penonton lewat lagu "Kau Menghilang", disusul dengan "Tak Ada Yang Abadi". "Saya berharap, semoga semua yang ada di sini baik-baik saja. Bagaimana dengan yang di belakang? Sudah berapa pitcher?" sapa Pongky mengawali komunikasinya dengan penonton. Tiga tembang berikutnya yang hadir benar-benar menuntun penonton untuk larut dalam kenangan pahit. Apalagi sebelum menendangkan lagu, suami Sophie Navita itu bagai seorang narator bertutur tentang kisah yang terkandung dalam lagu yang akan dinyanyikannya. "Bagaimana perasaan Anda saat melihat mantan pacar jalan dengan orang lain? Di sini ada yang pernah mengalaminya?" tanya dia sebelum menendangkan lagu "Bahagia Melihatmu Dengannya". Kepedihan kembali menyapa penonton lewat "Samudera Mengering". "Lagu ini buat yang sedang patah hati," katanya. Belum usai penonton mengenang masa pahit masing-masing, lagu berikutnya "Saat Kau Tak Ada Disini" mencoba menghadirkan kenangan dan kerinduan akan kekasih yang sedang berada di luar kota. Tak hanya Pongky yang mampu melantunkan lagu-lagu dengan apik, di lagu ini Icha pun turut melantunkan suara merdunya. Malam itu, Jikustik benar-benar mengaduk-aduk perasaan penonton. Tidak hanya kenangan pahit semata, penonton juga dihibur dengan lagu-lagu tentang indahnya cinta. Puncaknya, saat lagu "Pandangi Langit Malam Ini", dia mengajak Vina, seorang karyawati Starqueen untuk menemaninya menyanyi. Bukan sekedar "teman bernyanyi", dia juga mengantarkan Vina untuk berkenalan dengan satu per satu personil Jikustik, mulai dari Dadi, Adhit, Carlo, dan terakhir Icha. Karena akan segera meninggalkan penonton, sebagai penutup acara, Jikustik mempersembahkan lagu "Maaf". Dan, lagu itu pun mampu menandai perpisahan yang indah dan layak untuk dikenang. (Hernandhono-43) |