logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 25 Juli 2005 BUDAYA
Line

Pakai Bahasa Inggris agar Tidak Wagu

''Syndrome'' Album Metal Berlirik Penuh Petuah

DALAM dunia kedokteran, syndrome adalah istilah untuk menggambarkan gejala psikologis yang menandai ketidaknormalan emosi. Di tangan Debronzes (vokal), Hakeem (Bas), Wowod (gitar), dan Wiwid (drum), kata syndrome menjadi nama grup band. Grup bernama aneh itu menawarkan musik heavy metal dengan lirik lagu penuh petuah.

Sesuai dengan album pertamanya yang diberi titel seperti nama bandnya, Syndrome menawarkan konsep musik yang heavy, agressive dan groovy, dengan tema lirik menyentuh sindroma psikologis seseorang terhadap pengaruh minuman keras.

Mereka juga bertutur tentang kerusakan otak, asosialisme, dan autisme, yang konon akibat pengaruh narkoba. Meski tidak bermaksud menggurui, Syndrome mendiskripsikan kengerian yang bakal terjadi akibat pengaruh narkoba dalam lirik lagu-lagu mereka di album pertama tersebut.

Album itu berisi delapan lagu yang mengajak para pendengarnya untuk lebih mewaspadai pengaruh narkoba. Lagu "Toxic Rebel" misalnya, berkisah tentang kerusakan permanen pada otak karena narkoba. Selanjutnya, tembang "Craze", "Mental of Backstabber", "Beyond the Pleasure Principle", "Delusional Disorder", "Three Faces of Eve", "Fragile-X", dan "The Lecherous" juga mengetengahkan problema yang dihadapi pecandu narkoba.

Tanpa Beban

Proses penggarapan album tersebut memakan waktu 1 tahun, dengan konsep home industry. Rekaman, mixing, dan mastering-nya diselesaikan di Studio Strato Semarang pada awal 2005. Syndrome yang terbentuk pada 25 April 1992 itu awalnya merupakan band peniru Sepultura. Setelah bubar pada 10 Oktober 1997, personel band tersebut bergabung kembali pada 1 Agustus 2004.

"Kami tidak mempunyai beban apa pun dalam mengeluarkan album tersebut, terutama dari dari segi penjualan. Mau dibawa kemana, itu terserah kami. Beban terbesar kami justru terletak pada materi lagu," kata Hakeem, selaku juru bicara.

Kedelapan lagu dalam album itu semuanya berlirik bahasa Inggris. Ini bukan tanpa sebab. Menurut Hakeem, lirik bahasa Indonesia sangat sulit dipakai untuk musik heavy metal atau agressive.

"Banyak istilah yang sulit di-Indonesiakan, kalaupun ada jadi terkesan wagu. Kami justru salut jika ada yang bikin lagu metal dengan lirik bahasa Indonesia," katanya.

Saat ini, album tersebut diedarkan secara independen, di bawah bendera Proton Record. Hakeem mengaku, album tersebut sengaja dicetak dalam bentuk CD. Ini demi kepuasan batin anggota grup tersebut, serta sebagai ajang reuni dan romantisme bagi keempat personelnya.

"Ya, minimal seumur hidup bikin satu album," katanya. (Fahmi Z Mardizansyah-43)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA