| Sabtu, 23 Juli 2005 | NASIONAL |
Anggaran Pembinaan Alquran Diminta DitingkatkanGORONTALO - Wakil Gubernur Jateng Drs H Ali Mufiz MPA yang datang ke penginapan kafilah di Hotel Milana Gorontalo mendapatkan sambutan hangat seluruh kafilah. Berbagai unek-unek mulai dari menu makan, kecurangan dewan hakim hingga lelucon seputar pawai taaruf Jateng yang amburadul menjadi bahan obrolan selama dua jam di tempat itu. Wartawan Suara Merdeka Suwandono melaporkan, obrolan dan guyonan itu semakin gayeng dengan hadirnya anggota Komisi E DPRD Jateng yang dipimpin Drs HM Iqbal Wibisono SH MHum. Selain Iqbal, anggota Komisi E yang menyertai kafilah adalah Sarwono SE, Drs HA Khaeruri MPd, Masruhan Syamsurie, Dra Hj Noor Chasanah, M Ali Suyono, dan Kautsar Ashofiyah. Pembicaraan mengarah serius saat Iqbal menyarankan agar pemerintah memberikan perhatian lebih kepada anggaran pembinaan Alquran di Jateng, termasuk untuk mempersiapkan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) dan Seleksi Tilawatil Quran (STQ). Ali Mufiz menyambut baik usulan tersebut. Bahkan bila perlu, Ketua LPTQ Jateng Drs H Noor Achmad MA menyarankan agar qari-qariah dan hafiz-hafizah yang berprestasi mendapat hadiah haji atau umrah. Sementara itu, psikolog pendamping kafilah Dra Psi Hj Retno Anggraini MSi kepada wagub mengeluhkan menu makanan yang dinilainya kurang sehat. Selama dua hari menginap di hotel, mereka disuguhi makanan berlemak dan lauk daging. Terpaksa, dia bersama beberapa pendamping mengalah pergi ke pasar terdekat. Mereka membeli buah segar dan sayur bayam untuk menu makan para peserta. ''Padahal anak-anak butuh tahu dan tempe,'' katanya. Selain itu, beberapa peserta sering kehabisan jatah makan. Hal itu karena hidangan yang disediakan panitia hanya disuguhkan saat waktu makan. Padahal, sebagian peserta ada mempunyai kebiasaan pola makan tidak teratur. ''Waktunya makan mereka tidak kebagian karena sudah dikukuti,'' ujar dia. Staf pengajar Unissula Semarang itu juga menyinggung soal kesiapan mental peserta. Dia melihat masih ada kesan peserta cadangan tidak mempersiapkan diri. Hal itu sangat disayangkan. Seharusnya semua peserta harus siap tampil dalam perlombaan nanti. Kakanwil Depag Jateng Drs HM Chabib Thoha MA yang sekaligus menjadi penanggung jawab kafilah mengeluhkan soal kriteria penilaian dewan hakim. Dari pengalaman STQ di Bengkulu tahun lalu, banyak kecurangan terjadi selama perlombaan. Misalnya, dalam hal kriteria penilaian. Dia menyayangkan hakim tidak menggunakan kriteria baku dalam memberikan nilai. Bila kecurangan masih terjadi lagi dalam STQ ini, kafilah Jawa Tengah sepakat akan mengundurkan diri. Selain Jateng, kafilah Jawa Timur juga menyatakan hal sama. ''Kalau dua provinsi di Jawa sudah mundur, STQ Nasional kurang diakui,'' papar dia. Chabib Thoha juga menyampaikan keluhan soal komposisi dewan juri. Pihaknya hanya meminta LPTQ menambah dewan juri Jateng dari dua menjadi lima orang. Namun ternyata permintaan itu ditolak. Menanggapi keluhan soal penilaian, Wagub meminta kafilah tidak patah semangat. Dia berpesan agar pendamping berani mengajukan protes jika dewan juri dinilai curang. Untuk peserta yang akan tampil dalam lomba, Wagub berpesan agar menyiapkan mental sebaik-baiknya. Kesiapan mental menjadi faktor utama agar mampu membawakan materi sebaik-baiknya. Tanpa mental baja, kesalahan sedikit akan membuat bacaan selanjutnya menjadi kacau. Hal lain yang tidak kalah penting adalah makanan. Untuk menu makan peserta, dia mewanti-wanti agar panitia mengawasi secara ketat. Makanan yang pedas dan berlemak agar dihindari selama mengikuti perlombaan. Minuman terlalu dingin juga tidak boleh dikonsumsi. Dalam kesempatan itu Wagub juga mengungkapkan, aksi bajak-membajak sudah biasa dalam kejuaraan tilawatil Quran. Dia mencontohkan tiga orang qari-qariah asal Rembang yang diboyong Provinsi Jawa Barat. Untungnya, mereka bukan andalan utama Jawa Tengah. Dalam perjalanan dengan pesawat menuju Gorontalo, Kamis (21/7), dia sempat bertemu Gubernur Sumatera Utara. ''Saya ditanya, apa Jawa Tengah mau menjual salah seorang pesertanya,'' ujarnya. Hal ini menunjukkan jual beli peserta dalam kegiatan STQ mulai lazim terjadi. Pembahasan secara khusus tentang bajak-membajak kafilah akan dibawa dalam Rakernas LPTQ di kantor Gubernur Gorontalo. (46v) |