| Sabtu, 23 Juli 2005 | BANYUMAS |
''Kami Takut, tapi Bagaimana Lagi?''RASA takut dan panik akibat kemerebakan kembali virus flu burung dirasakan para pekerja sektor peternakan. Maklum, mereka langsung berhubungan dengan ayam dan lingkungan peternakan setiap hari atau hampir 24 jam. Biasanya para pekerja itu bertanggung jawab sejak perawatan hingga ayam menghasilkan daging atau telur. Karena itu wajar jika kematian ribuan ekor ayam membuat mereka cemas. ''Melihat pemberitaan di televisi, kami takut. Namun bagaimana lagi? Ini kan pekerjaan, jadi harus kami lakukan,'' kata Samsudin (50), pekerja di sebuah peternakan di Kecamatan Sumbang. Lelaki Desa Sikapat itu menuturkan sejak muncul isu flu burung menyerang, dia bersama rekan-rekannya ingin berhenti dulu. Namun karena terdesak keadaan, mereka bertahan. Apalagi pemilik peternakan sering meyakinkan bahwa peternakan itu aman. Juga virus flu burung tak langsung menular dari ayam ke tubuh manusia, melainkan melalui perantara. Tasiman (45), rekannya, menimpali, ''Jika ayam terkena virus flu burung, pertama-tama yang terkena jelas kami.'' Kedua pekerja itu merawat ayam di peternakan Heru Hardiat Nugroho. Di peternakan itulah beberapa waktu lalu ribuan ayam mati mendadak. Mereka menuturkan digaji mingguan antara Rp 200.000 dan Rp 300.000/orang bagi pekerja yang berpengalaman. Saat harga telur atau daging ayam bagus, mereka juga sering memperoleh bonus. Berbahaya Samsudin menuturkan beberapa orang biasanya bertanggung jawab atas pemeliharaan ayam di kandang tertentu. Setiap kandang yang berisi antara 10.000 ekor dan 20.000 ekor ditangani tujuh-10 orang. Mereka dipandu oleh kepala kandang. Di satu kompleks ada tiga-lima kandang. Mereka bekerja bergantian. Saat muncul isu virus flu burung, jam kerja mereka ditambah. Sebab, mereka harus terus-menerus mengontrol perkembangan ayam. ''Jika tidak, bisa berbahaya dan cepat menular. Sejak terkena sampai mati sekitar satu setengah jam,'' ujar Sahat (35), pekerja asal Desa Gandatapa. Sebagian besar pekerja tak melengkapi diri dengan pengamanan khusus seperti masker. Alasan mereka, sudah terbiasa dan sudah beradaptasi dengan lingkungan kandang. ''Setiap kali dari kandang kami membersihkan diri. Jika mau masuk juga membersihkan dengan disinfektan,'' ujar Sati (30), pekerja lain. (Agus Wahyudi-53) |