logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 21 Juli 2005 NASIONAL
Line

Ahmadiyah, Benarkah Aliran Sesat?

JUMAT 15 Juli lalu ribuan orang yang tergabung dalam Masyarakat dan Umat Islam Parung Bogor dan Jakarta mengepung Kampus Mubarak di Jalan Parung, Bogor, Jawa Barat. Mereka mendesak Pemerintah Kabupaten Bogor dan aparat keamanan setempat untuk segera membubarkan Jamaah Islam Ahmadiyah yang dinilai sesat. Mengapa Jamaah Islam Ahmadiyah dianggap sesat?

Ahmadiyah pertama kali dicetuskan oleh Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908) di Qadian, suatu desa kecil di daerah Punjab, India. Bagi kaum Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad adalah reinkarnasi Isa Al Masih atau Al Mahdi yang dijanjikan kemunculannya di akhir zaman. Keyakinan ini mereka jadikan sebagai prinsip akidah sekaligus ciri khas teologi aliran itu. Bahkan, untuk menopang kebenaran keyakinan itu, mereka tak ragu menggunakan ayat Alquran yang berkaitan dengan tanda-tanda hari kiamat dan hadis-hadis Nabi.

Tentu ajaran ini menimbulkan protes dari seluruh umat Islam yang meyakini tak ada lagi nabi sesudah Nabi Muhammad SAW. Pada tahun 1974, pertemuan Liga Muslim Dunia di Makkah, Arab Saudi, yang dihadiri delegasi 140 negara, mengeluarkan deklarasi yang menilai Ahmadiyah sebagai aliran sesat. Pemerintah Arab Saudi menyatakan aliran ini kafir dan tidak boleh ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Demikian pula Pemerintah Brunei Darussalam dan Malaysia yang sejak 1975 melarang ajaran Ahmadiyah di wilayah masing-masing.

Meski mendapat berbagai penolakan, gerakan Ahmadiyah masih tetap berdiri. Dalam perkembangannya, Ahmadiyah kemudian terpecah menjadi dua golongan, yaitu Ahmadiyah Qadiani dan Ahmadiyah Lahore. Perpecahan ini terjadi setelah khalifah pertama yang menggantikan Mirza Ghulam Ahmad meninggal dunia.

Setelah Mirza Ghulam Ahmad meninggal, kepemimpinan Ahmadiyah menggunakan sistem kekhalifahan yang meniru kekhalifahan Khulafaur Rasyidin. Akan tetapi sistem ini hanya berjalan pada khalifah pertama, yakni Hakim Nurrudin. Setelah Hakim Nuruddin meninggal dunia terjadi perpecahan dalam tubuh Ahmadiyah. Maulana Muhammad Ali beserta para pendukungnya membentuk gerakan Ahmadiyah Lahore sebagai protes atas ketidakadilan yang terjadi dalam tubuh Jamaah Ahmadiyah. Mereka juga tidak mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi.

Sementara itu, bagian lain dalam Jamaah Ahmadiyah menamakan diri Ahmadiyah Qadiani. Jamaah ini merupakan golongan terbesar dalam tubuh Ahmadiyah. Mereka sangat tunduk dan patuh terhadap khalifahnya. Setelah Hakim Nurrudin meninggal, kekhalifahan dalam Jamaah Ahmadiyah Qadiani dipegang oleh keturunan keluarga Mirza Ghulam Ahmad. Mereka dinamakan Khalifatul Masih (khalifah penerus Almasih).

Berbeda dari Jamaah Ahmadiyah Lahore, Jamaah Ahmadiyah Qadiani lebih bersikap eksklusif dengan orang Islam lainnya. Mereka tidak boleh shalat berjamaah jika imamnya bukan dari golongan mereka. Mereka juga menolak menshalatkan jenazah orang Islam di luar jamaah mereka serta menolak menikahkan putrinya dengan putra Islam non-Ahmadi.

Jamaah Ahmadiyah Qadiani berpusat di London, Inggris. Jamaah ini memiliki stasiun radio, web site, dan stasiun televisi yang dinamakan MTA (Muslim Television Ahmadiyya) yang menggunakan beberapa bahasa dunia, termasuk bahasa Indonesia.

Saat ini Jamaah Ahmadiyah mengklaim memiliki pengikut lebih dari 150 juta orang. Mereka juga mengklaim memiliki cabang di 174 negara, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Pakistan. Dengan kata lain, Jamaah Ahmadiyah tersebar di Afrika, Amerika Utara, Amerika Selatan, Asia, Australia, dan Eropa. Adapun struktur organisasi Ahmadiyah dipusatkan di Kota Rabwah, di Pakistan bagian tengah di bawah pimpinan Hz Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih V yang terpilih pada tahun 2003.

Ahmadiyah di Indonesia

Aliran Ahmadiyah masuk dan berkembang di Indonesia sejak 1920-an dengan menamakan diri sebagai Anjuman Ahmadiyah Qodiyan Departemen Indonesia, kemudian dinamakan Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang dikenal dengan Ahmadiyah Qadiyan, dan Gerakan Ahmadiyah Lahore Indonesia (GIA) yang dikenal dengan Ahmadiyah Lahore.

Sejak keberadaannya di Indonesia, Jamaah Ahmadiyah banyak menuai protes. Para ulama Indonesia, baik tradisional maupun modernis terus menentang. Banyak perdebatan resmi terjadi antara Ahmadiyah dan ulama Islam lainnya, dan yang terbesar adalah di Jakarta pada tahun 1933. Setelah Indonesia merdeka, konflik antara kelompok Ahmadiyah dan kelompok Islam lainnya makin meruncing. Namun, pada tahun 1953, pemerintah mengesahkan Jamaah Ahmadiyah sebagai badan hukum dalam Republik Indonesia. Ini membuka pintu perkembangan Ahmadiyah di Indonesia. Pada tahun 1950-1970 banyak tokoh negara yang akrab dengan Ahmadiyah dan dekat dengan orang-orang Ahmadi.

Keadaan ini berbalik seratus delapan puluh derajat pada tahun 1980, yaitu Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa bahwa Ahmadiyah adalah aliran menyesatkan. Pemerintah tidak mengizinkan Jamaah Ahmadiyah Indonesia untuk mengadakan jalsah salanah atau KPA untuk Khuddam-Athfal dan lajnah imaillah. Banyak masjid Ahmadiyah dirobohkan oleh massa.

Namun periode 1990-an menjadi periode perkembangan pesat Jamaah Ahmadiyah Indonesia. Perkembangan itu menjadi lebih cepat setelah Khalifatul Masih IV, Hadhrat Tahir Ahmad, mencanangkan program Baiat Internasional dan mendirikan Moslem Television Ahmadiyya (MTA).

Di Indonesia aliran ini bermarkas di Parung, Bogor, dan memiliki kampus yang dinamakan Kampus Mubarak. Di kampus inilah Jamaah Ahmadiyah mencetak kader mubalig Ahmadiyah. (Acik & Cessna/Pusdok SM-41t)

Mengapa Ahmadiyah Dianggap Sesat

  • Meyakini Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi dan rasul.
  • Mempunyai kitab suci sendiri yaitu kitab suci "Tadzkirah".
  • Meniadakan berhaji ke Makkah dan menggantinya dengan berhaji ke Qadian dan Rabwah.
  • Menyerupakan Allah dengan manusia.
  • Mempercayai keyakinan tanasukh (menitisnya ruh) dan hulul (bersatunya manusia dengan Tuhan).

Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA