logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 21 Juli 2005 INTERNASIONAL
Line

Perkembangan Militer China Ancaman bagi Asia

WASHINGTON - Amerika Serikat sangat mencemaskan pesatnya perkembangan militer China. Dalam laporan tahunan Pentagon (Departemen Pertahanan AS) yang disiarkan Selasa waktu setempat, Washington menyatakan perkembangan militer China itu bisa menjadi ancaman jangka panjang bagi kawasan Asia.

Pentagon mengatakan, perkembangan militer Beijing tersebut juga membahayakan keseimbangan di Asia. Namun sejauh ini, Beijing dinilai belum memiliki kemampuan militer yang memadai untuk menyerang Taiwan.

Washington menggambarkan Beijing kini berada di persimpangan jalan. Setidaknya ada tiga pilihan jalan. Pertama, raksasa Asia bisa memilih jalan integrasi damai dan persaingan yang sehat dengan negara-negara lain.

Kedua, Beijing juga dapat menggunakan pengaruhnya yang besar untuk melakukan ekspansi. Ketiga, China bisa menjadi negara yang terfokus pada masalah-masalah di dalam negeri, seperti persatuan nasional dan krisis legitimasi Partai Komunis, sehingga negara itu menjadi kurang percaya diri menghadapi dunia luar.

''Persoalan-persoalan tersebut masih menjadi tantangan dasar para pemimpin China. Kemampuan mengatasi masalah-masalah itu bisa membuat China bertambah kuat pengaruhnya, khususnya di bidang militer,'' tulis Pentagon dalam laporan tahunannya.

Berpengaruh Besar

Departemen Pertahanan AS itu selama beberapa tahun terakhir memperingatkan dunia mengenai upaya-upaya China memodernisasi militernya. Dipastikan, perkembangan militer China itu bakal berpengaruh besar terhadap kebijakan-kebijakan luar negerinya pada masa datang.

Namun, Menteri Luar Negeri China Li Zhaoxing Rabu kemarin menepis kerisauan Washington tersebut. Dia mengatakan, langkah memodernisasi militer China itu dilakukan untuk kepentingan damai.

''China akan terus menempuh jalan damai,'' kata Li, dalam acara pembukaan kantor Komite Internasional Palang Merah di Beijing. ''China sama sekali bukan ancaman bagi siapa pun. Kami juga akan terus menjalin persahabatan dan kerja sama di berbagai bidang dengan negara-negara lain.''

Kendati demikian, Beijing sampai saat ini menganggap Taiwan yang berpenduduk 23 juta jiwa sebagai bagian dari wilayahnya.

Maret lalu, Beijing mengesahkan UU Antipemisahan yang mengizinkan tindakan militer jika Taiwan memproklamasikan kemerdekaannya.

Pekan lalu, seorang jenderal China mengatakan bahwa Beijing siap menggunakan senjata nuklir terhadap AS apabila Washington menginvasi Taiwan. Washington mengecam pernyataan itu tidak bertanggung jawab.

375.000 Tentara

Dalam laporan tahunannya, Pentagon menyebutkan beberapa jenis senjata China yang ditingkatkan kemampuannya. Dari segi kekuatan personel Angkatan Darat, Beijing memiliki 375.000 tentara yang ditempatkan di tiga wilayah militer dan siap dikerahkan ke Taiwan sewaktu-waktu.

Jumlah Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) diperkirakan mencapai sekitar 2,3 juta personel.

Menurut Pentagon, jika ditambahkan polisi dan pasukan cadangan, maka jumlahnya bisa mencapai 3,2 juta personel.

Laporan Departemen Pertahanan China pada 2004 menyatakan, negara itu bisa mengerahkan lebih dari 10 juta milisi terorganisasi jika situasi membutuhkan.

Beijing kini memiliki sekitar 650 sampai 730 rudal balistik jarak dekat tipe CSS-6 dan CSS-7. Kedua tipe rudal itu mudah dipindah-pindahkan.

Sebagian rudal tersebut ditempatkan di tepi pantai dengan posisi tembak mengarah ke Taiwan. Daya jangkaunya bisa ditambah dan tingkat akurasinya semakin tepat sasaran.

Dalam beberapa tahun terakhir, China menambah sekitar 100 rudal setiap tahunnya.

Beijing memiliki 700 pesawat tempur. Sebagian besar telah ketinggalan zaman. Namun China terus membeli pesawat-pesawat tempur baru dari Rusia, seperti pesawat multifungsi Su-30MKK dan pesawat serbu laut Su-Mk2.

Jet tempur lain yang baru dibeli China dari Moskwa adalah tipe Su-27. Beijing juga membuat versi pesawat tempur sendiri, yakni Su-27SK dan F-11, dengan persetujuan Rusia.

Di lautan, China memiliki 64 kapal perang, 55 kapal selam tempur, 40 kendaraan amfibi tingkat menengah dan berat, serta sekitar 50 kapal patroli pantai. Dua pertiga kekuatan maritim tersebut ditempatkan di Laut China Selatan dan Laut Timur.

China juga mempunyai dua rudal penghancur kelas Sovremennyy buatan Rusia, dan sedang memesan lagi dua rudal sejenis itu.

Seluruh kapal perangnya dilengkapi rudal jelajah antikapal dan sistem pertahanan udara.(rtr-ben-25)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA