logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 18 Juli 2005 SEMARANG
Line

Menyongsong Tahun Pelajaran Baru

Pesanan Seragam Sekolah Meningkat

BAGI penjahit tradisional yang mangkal di lantai dasar Pasaraya II Salatiga, tahun pelajaran baru merupakan panen rezeki. Pasalnya, omzet jahitan mereka dipastikan meningkat lebih dari tiga kali lipat sehari. Hal itu karena banyaknya pesanan seragam sekolah maupun pramuka.

Bahkan, peningkatan jumlah jahitan seragam sekolah itu boleh dibilang mengalahkan pesanan menjelang Lebaran.

Padahal pada hari-hari biasa, permintaan jahitan pakaian bisa dihitung dengan jari. Paling banyak satu sampai dua jahitan pakaian saja. Namun menjelang tahun pelajaran baru ini, pesanan seragam sekolah bisa lebih dari enam setel/hari.

Seperti dialami Ny Susiani (47), warga Pancuran, Kelurahan Kutowinangun, Kecamatan Tingkir, Salatiga ini. Dia bekerja sebagai penjahit di Pasaraya II Salatiga itu selama 26 tahun lebih. Ibu tiga anak yang berasal dari Muntilan, Magelang itu mengaku jika akhir-akhir ini dia bersama penjahit lainnya kewalahan menerima order jahitan pakaian seragam sekolah.

Tak heran pula beberapa penjahit terpaksa menolak pesanan karena tidak dapat mengerjakan jahitan sesuai dengan waktu yang diinginkan pemesan. Padahal, jahitan pakaian seragam sekolah yang dikerjakan di tempat itu relatif cepat.

Mengenai ongkos jahitan, Susiani menyatakan hal itu tergantung pada kesepakatan antara pemesan dengan penjahit. Namun terlebih dahulu diawali dengan tawar-menawar ongkos jahit. Karena di tempat tersebut ada banyak penjahit, sehingga terbentuk harga standar pasar.

Ongkos jahit seragam SD berkisar Rp 17.500/setel hingga Rp 20.000/setel. Kemudian untuk seragam SMP dipatok Rp 30.000/setel, sedangkan ongkos jahit seragam SMA mulai Rp 35.000/setel hingga Rp 50.000/setel. "Ongkos jahit tersebut juga tergantung pada besar atau kecilnya bahan yang dipakai untuk ukuran anak. Kalau postur tubuh anak itu besar maka ongkos jahitnya pun tentu mahal," ujar Susiani.

Menurut Susiani, selain jahitan seragam sekolah, pesanan jahitan jenis lainnya juga mengalami peningkatan.

Sebagai contoh setelan pakaian jenis safari untuk pria dan wanita dewasa yang diperkirakan pemesannya sebagian besar guru.

Adapun kain yang dipakai untuk seragam sekolah tergantung pada selera pemesan. Namun kebanyakan para orang tua murid membawa kain sendiri.

Peningkatan pesanan jahitan seragam sekolah menjelang tahun pelajaran baru ini ternyata juga dapat menimbulkan persaingan sesama penjahit. Rodji (48) mengungkapkan, beberapa penjahit terkadang mengobral ongkos jahitan.

Hal itu dimaksudkan, meski keuntungan sedikit namun dengan mengurangi ongkos jahit, pesanannya banyak. Diharapkan keuntungan yang diperoleh pun lebih besar. (Surya Yuli P-56d)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA