logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 18 Juli 2005 INTERNASIONAL
Line

Rove Terbukti Bicara pada Wartawan

WASHINGTON - Kontroversi tentang apakah Karl Rove, wakil kepala staf Gedung Putih yang juga penasihat Presiden George W Bush, membocorkan nama seorang agen CIA kepada pers, terus bergulir hingga Minggu kemarin.

Para jaksa yang menyidik kasus tersebut telah mendapatkan bukti, seorang pejabat Gedung Putih mengetahui Rove berbicara kepada seorang wartawan, hanya beberapa hari sebelum nama agen CIA itu dibeberkan di majalah Time.

Dikatakan, Rove pada pada 11 Juli 2003 memberitahu Stephen Hadley - pejabat Gedung Putih tersebut - bahwa dia mengirim e-mail kepada Matthew Cooper, seorang wartawan Time.

Rove waktu itu mengaku, e-mail tersebut coba mengingatkan para wartawan tentang kemungkinan Josep Wilson coba "merusuhi" laporan intelijen tentang Irak.

Wilson, suami Valerie Plame (agen CIA yang namannya kemudian dimuat Time), pernah ditugaskan oleh Gedung Putih berangkat ke Niger untuk menyelidiki dugaan pembelian uranium oleh Saddam Hussein dari negara Afrika tersebut.

Sepulangnya ke AS, dia memberitahukan Bush bahwa tidak benar Saddam coba mendapatkan uranium. Namun, Bush yang sudah tidak bisa ditahan-tahan lagi untuk menggulingkan Saddam, tetap menginvasi Irak pada Maret 2003.

Salah satu dalih adalah, Saddam membuat senjata nuklir yang membahayakan keamanan AS. Lewat suatu media, Wilson membeberkan kepada publik, tidak benar pemerintahan Saddam Hussein membeli uranium dati Niger atau membuat senjata nuklir.

Menurutnya, Bush telah "memelintir" laporan intelijen guna membenarkan invasi ke Irak. Sehari kemudian, muncullah nama Valerie Plame di majalah Time.

Pembeberan nama tersebut, yang membuat berang CIA (dinas intelijen AS), merupakan pelanggaran berat berdasarkan UU AS.

Tahu dari Wartawan

Setelah dilakukan penyidikan mendalam, para jaksa akhirnya mendapatkan pengakuan dari mulut Cooper bahwa Rove-lah yang memberikan nama Plame kepadanya.

Dan Presiden Bush pada hari-hari belakangan ini mendapat tekanan dari masyarakat, terutama kubu Demokrat, agar memenuhi janjinya untuk memecat siapa saja pembantu utamanya yang terlibat dalam pembocoran nama agen CIA itu.

Dalam pembelaannya, Rove mengatakan pada 11 Juli 2003 dia ditanyai Cooper tentang apakah Bush merasa sakit hati atas ulah Joseph Wilson. Dia juga mengakui "membicarakan" operasi bawah tanah (untuk CIA) Plame dengan wartawan tersebut.

Tetapi, dia kepada juri agung telah menegaskan, dirinya mula-mula tahu kalau Plame adalah agen CIA justru dari para wartawan, bukannya suatu sumber pemerintah.

Sabtu lalu, Frederick Jones - jubir Hadley - mengatakan dia tidak bersedia memberikan komentar, karena penyidikan kriminal atas kasus tersebut masih berlangsung.

Robert Luskin, penasihat hukum Rove, mengatakan kliennya menjawab semua pertanyaan yang diajukan jaksa dalam tiga kali pemunculan di hadapan juri agung.

Menurut dia, Rove tidak pernah meminta-minta haknya atas Amandemen Kelima (yang dapat meringankan dirinya dari tuduhan), atau memohon hak istimewa eksekutif Bush yang menjamin advis rahasia dari para pembantu presiden.

Republik Senang

Para tokoh Republik (kubu Bush) bersorak gembira, setelah mendapatkan penjelasan tentang isi e-mail Rove kepada Cooper.

Sebab, mereka menilai e-mail itu menunjukkan Rove tidak bermaksud membeberkan nama Plame, melainkan coba mengingatkan para wartawan agar berhati-hati atas klaim-klaim Wilson.

"Dapat kita simpulkan, Karl Rove bukanlah pembocor rahasia. Dia sesungguhnya penerima informasi, bukan pemberi," kata Ken Mehlman, ketua Kommite Nasional Republik, kepada Fox News.

Namun kubu Demokrat mengatakan, sekalipun Rove bukanlah seorang pembocor rahasia, seseorang - di kalangan dalam Bush - tetap saja telah membongkar siapa sebenarnya Plame, dan hal itu melanggar UU.

Nancy Pelosi, pemimpin Demokrat di DPR AS, dan para pemimpin lain Demokrat meminta Ketua DPR J Dennis Hastert agar mengizinkan Kongres melakukan dengar pendapat atas isu kontroversial tersebut.

"Berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, dengar pendapat bisa saja dilakukan sekalipun suatu penyidikan kriminal atas agenda yang bakal dibahas sedang berlangsung," kilahnya. (yahoo-ap-ed-58)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA