logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 18 Juli 2005 BUDAYA
Line

Lika Liku Anak Band (1)

Mengemis untuk Minta Tepuk Tangan

KEMUNCULAN kelompok-kelompok band di Semarang bak cendawan di musim hujan. Terlebih saat liburan sekolah, studio-studio musik penuh dipesan untuk latihan.

Sebagian mengaku membentuk band hanya untuk mengisi waktu luang namun tidak sedikit yang berkeinginan menekuni musik secara lebih serius. Bagi yang serius, kesempatan untuk tampil di panggung ternyata tidak gampang. Kalaupun kesempatan itu datang, bukan hal yang mudah untuk dapat diterima masyarakat. Perlu waktu cukup lama untuk memperoleh pengakuan. Beberapa band yang ditemui Suara Merdeka bahkan mengaku terpaksa harus ngemis untuk minta tepuk tangan sebagai bentuk apresiasi penonton.

Untuk dapat diterima secara luas, grup-grup band harus sedikit mengesampingkan idealisme mereka dalam bermusik. Biasanya mereka mengambil lagu-lagu all around, top 40, R&B, atau hip hop yang banyak diminati masyarakat, terutama kawula muda.

Indri dan Oka dari kelompok Family Beat dan 26coustic mengaku saat manggung tidak mengalami kesulitan berinteraksi dengan penonton. Hal itu dikarenakan mereka menyajikan jenis-jenis musik tersebut.

Bila awalnya gemar musik jazz, mereka harus sedikit banting setir untuk menyesuaikan selera penonton bila ingin bertahan di dunia musik panggung.

Berinovasi

Lalu bagaimana dengan grup musik yang menyuguhkan jenis musik tertentu yang notabene kurang peminat? Japanese Girl, Fun Box, B-36 dan Lira adalah segelintir band yang harus berjuang keras agar diakui eksistensinya.

Kondisi pasar musik Semarang yang "dijajah" aliran hip hop, R&B, dan sejenisnya memaksa mereka untuk terus mencari terobosan dan inovasi baru agar dapat tampil di hadapan penonton lokal.

Fun Box yang digawangi Fajar (vokal), Norman (drum), Bondan (bas), dan Adi (gitar) mengaku sering ditolak penyelenggara pertunjukan musik karena aliran musik alternatif yang mereka usung dianggap kurang "menjual".

Hal serupa juga dialami Japanese Girl yang dalam aksi panggungnya membawakan lagu-lagu rock berbahasa Jepang. Menurut Reysa, sang vokalis, butuh satu tahun untuk mengenalkan aliran mereka pada penikmat musik Semarang.

Ganjalan hampir serupa juga dialami B-36 dan Lira. Kedua grup yang selalu membawakan lagu-lagu ciptaan sendiri itu pada awalnya juga mengalami kesulitan memperkenalkan jenis musik yang mereka mainkan. "Dulu ketika awal-awal manggung, penonton hanya bengong saja," kata Aji, pemain drum B-36. Namun anehnya, hal tersebut tidak dialami ketika tampil di luar kota. "Pertama kali manggung, sambutan penonton luar biasa," tutur Aji.

Hal senada juga diungkapkan Indra, gitaris Lira. "Terus terang saja, kami merasa lebih dihargai saat manggung di luar Semarang," ungkap dia. Ketika tampil di Makassar, sambung Indra, penonton malah protes saat bandnya membawakan lagu orang lain. "Padahal saat itu kami hanya check sound," tuturnnya.

Menurut Indra dan Aji, promotor musik Semarang kurang memberikan ruang dan kesempatan bagi mereka untuk tampil sehingga musik mereka kalah laku dibandingkan dengan aliran R&B, hip hop.

Tidak hanya kurangnya kesempatan untuk tampil di muka umum, band beraliran non-R&B dan non-hip hop tidak jarang mengalami diskriminasi bayaran manggung.

Hal itu diungkapkan Iif (drum) dan Adi (gitar) dari Japanese Girl. "Suatu kali, kami pernah tampil sebagai pengisi acara bersama sebuah grup musik beraliran R&B dan hip hop. Meskipun tampil dalam durasi yang sama, namun bayaran mereka lebih tinggi," papar mereka. (Ida Nursanti-45)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA