logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 17 Juli 2005 NASIONAL
Line

Ayam Hibrida Atasi Kekurangan Daging

TEMANGGUNG - Kekurangan pasokan daging ayam kampung yang selama ini sering kali terjadi di Jawa Tengah tampaknya akan segera dapat teratasi. Pasalnya, Badan Penelitian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah telah menemukan jenis ayam baru yang serupa dengan ayam kampung, yakni ayam hibrida.

''Dengan penemuan ini, BPTP telah membantu pemerintah memenuhi kebutuhan daging ayam lokal (kampung). Sebab, ayam hibrida dapat bereproduksi dalam jumlah yang banyak dan dalam waktu singkat,'' ungkap Kepala BPTP Jateng Sumardi Suryatna ketika ditemui dalam Temu Kemitraan Usaha Ayam Hibrida di lokasi SAE II 2005, Soropadan, Sabtu (16/7).

Kekurangan daging ayam lokal, lanjutnya, memang terjadi karena penyakit flu burung yang berjangkit beberapa waktu lalu. Penyakit yang menyerang hewan unggas itu mengakibatkan banyak ayam kampung tidak dapat bertahan hidup.

Sementara itu, jenis ayam hibrida tersebut merupakan hasil persilangan ayam kampung jantan dengan ayam ras petelur betina. Ayam ini memiliki karakteristik tekstur serta kelenturan tubuh sebagaimana halnya ayam kampung. Di samping itu, dalam hal serat ataupun rasa daging dan kadar lemaknya, daging ayam hibrida tidak berbeda dengan daging ayam kampung.

Menurut keterangan penemu jenis ayam tersebut, Ir Muryanto, penelitian dia lalukan karena melihat daging ayam kampung sangat digemari konsumen tetapi kemampuan reproduksinya rendah dan perkembangan pertumbuhannya sangat lamban.

''Karena itu, kemudian kami berpikir bagaimana agar hal kendala tersebut dapat diatasi,'' ujar Muryanato yang juga peneliti BPTP Jateng.

Induk ayam kampung, sambungnya, menurunkan daging yang lezat sedangkan dari ayam ras petelur menurunkan ayam dengan jumlah reproduksi telur yang tinggi. Reproduksi telur dari ayam hibrida ini dapat mencapai 60%-70%. Dengan demikian, apabila telur tersebut ditetaskan akan dapat menghasilkan ayam hibrida yang sangat banyak.

Dalam hal pertumbuhan, ayam hibrida relatif lebih cepat daripada ayam kampung. Dalam umur 60 hari, ayam hibrida telah mencapai berat 0,9 kg sedangkan ayam kampung dalam umur yang sama hanya berbobot sekitar 0,6 kg. Dalam hal harga jual, ayam hibrida per kilogram Rp 13.000, sedangkan ayam kampung Rp 11.000 per kilogram masing-masing dalam umur 60 hari. Selain dapat diterima pasar, jenis ayam tersebut juga mudah untuk diternakkan oleh masyarakat. ''Penetrasi penemuan jenis ayam tersebut kepada masyarakat sangat cepat karena mereka memang sangat membutuhkannya,'' ungkap Sumardi Suryatna.

Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap ayam hibrida, akan dilakukan kemitraan yang bentuknya intiplasma. Swasta sebagai inti dan para petani sebagai plasma, sedangkan pemerintah (dinas) sebagai fasilitator. Namun, ujar Sumardi, dalam jangka panjang diharapkan yang menjadi inti adalah kelompok petani/peternak dan plasmanya adalah para anggotanya. (hsf-41j)

Jadwal Acara SAE II 2005

Minggu, 17 Juli 2005

09.00 : Pembukaan Lokasi SAE 2005

09.00-15.00 : Pameran Pertanian dan Stan

13.00-15.00 : Persiapan Acara Penutupan

15.00-16.00 : Acara Penutupan

17.00 : Lokasi SAE 2005 Ditutup


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA