logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 17 Juli 2005 NASIONAL
Line

PSIS Kalah, Suporter Mengamuk

  • Wasit Langsung Hentikan Pertandingan

DITENDANG: Seorang suporter PSIS di tribune selatan ditendang polisi, setelah terjadi kerusuhan pada pertandingan Copa Dji Sam Soe di Stadion Jatidiri Semarang, sore kemarin. PSIS dikalahkan Persijap 2-3 sehingga tersisih. (31)

SEMARANG- Pertandingan PSIS lawan Persijap Jepara dalam putaran kedua Copa Dji Sam Soe, yang berlangsung di Stadion Jatidiri kemarin, diwarnai kerusuhan. Suporter Mahesa Jenar yang kecewa atas penampilan Indriyanto Nugroho dkk mengamuk. Mereka melempari pemain dengan botol minuman. Sikap aparat keamanan yang represif dan brutal makin memicu amarah suporter.

Kerusuhan terjadi pada menit ke-88, setelah striker tim tamu Miro Baldo Bento mencetak gol ketiga. Gol ini membuat Persijap unggul 3-2 atas PSIS. Tanpa dikomando, penonton mengecam para pemain PSIS. Lemparan botol minuman yang dilakukan penonton di tribune barat ke arah bangku cadangan PSIS dan Persijap pun tidak terelakkan.

Ternyata lemparan tidak hanya dilakukan penonton di dalam stadion. Mereka yang berada di luar stadion pun melakukan hal yang sama. Bahkan lebih parah lagi. Sebab, mereka tak hanya melempar dengan botol minuman saja, tapi juga menggunakan batu.

Aksi lempar batu penonton dari luar kali pertama terjadi di tribune timur. Batu-batu ini mengenai aparat keamanan. Aparat balik memukuli penonton di sentelban dengan tongkat. Tentu aksi aparat tersebut mengundang amarah penonton lain. Mereka pun membalas dengan melemparinya dengan botol-botol minuman.

Hal itu membuat pertandingan menjadi kacau dan tidak terkendali. Melihat kondisi yang makin memanas, Wasit Sutamto asal Pati langsung menghentikan pertandingan. ''Penonton dari luar stadion yang pertama memulai melempar batu dan botol. Itu membuat suasana jadi kacau dan aparat mulai memukuli suporter,'' ungkap Dirigen Master Panser Biru, Edi Purnomo alias Kirun.

Kerusuhan di tribune timur merembet ke selatan. Kasusnya hampir sama dengan tribune timur. Penonton dari luar stadionlah yang memulai pelemparan kemudian disusul penonton di dalam stadion. Lemparan ini diarahkan kepada aparat keamanan di dekat gawang selatan.

Sebenarnya, tembakan peringatan yang diarahkan ke udara sudah dilakukan beberapa kali. Namun, hal itu tidak membuat suporter takut. Mereka terus melakukan pelemparan. Karena terus menjadi sasaran lempar, aparat lari ke luar lapangan melalui pintu utama di tribune barat.

Mereka menyisir ke belakang tribune selatan. Sebagian aparat masuk ke tribune selatan dan memukuli penonton yang ditemuinya, baik dengan pentungan maupun tangan kosong.

Bukan itu saja, beberapa kali aparat menendang suporter, meski sudah minta ampun. Tindakkan brutal itu dilakukan terhadap suporter, baik dewasa maupun anak-anak, yang ditemuinya.

Bahkan ada anak usia sekitar 5 tahun yang dipukul aparat saat berada di depan bangku cadangan pemain Persijap. Hal itu sempat memicu emosi beberapa anggota Panser Biru yang berada lokasi itu untuk membantu mengamankan pemain Persijap.

Wartawan yang berusaha mengambil gambar aksi-aksi brutal aparat di tribune selatan sempat dihalang-halangi. Mereka menutupi lensa kamera wartawan dengan tangan. ''Kami menyayangkan tindakan aparat yang berlebihan. Seharusnya lemparan-lemparan itu tidak perlu ditanggapi dengan kekerasan,'' kata Sekjen Panser Biru M Fadli.

Anak Jadi Korban

Salah seorang anak yang menjadi korban kebrutalan aparat di tribune selatan adalah Galih Satriyo Wibowo, yang berumur 4 tahun. Ia melihat pertandingan itu bersama pamannya, Benny, warga Karang Rejo No 35 Jatingaleh. Galih terkena pentungan di punggungnya. Selain itu, juga terinjak-injak. Benny sendiri terkena pentungan di kepalanya.

''Saat aparat naik ke tribune selatan, saya hanya diam karena melindungi Galih. Namun, tetap dipukul pakai pentungan di kepala. Dan, Galih kena punggungnya,'' kata Benny, saat dimintai keterangan di Mapolwiltabes Semarang semalam.

Kejadian yang menimpa Galih langsung dilaporkan ayahnya, Edi Yulianto (31), ke Mapolwiltabes. Edi yang bekerja sebagai pengelola parkir di Stadion Jatidiri juga menyayangkan sikap aparat yang brutal. ''Motto polisi sebagai pengayom dan pelindung masyarakat seharusnya dilaksanakan. Jangan arogan,'' tutur Edy.

Menanggapi laporan tersebut, Kapolres Semarang Selatan AKBP Harry Nartanto menyatakan tak masalah. Sebab, itu hak yang bersangkutan. Meski demikian, dia tak percaya ada anggotanya yang tega memukul bocah kecil. ''Silakan melapor. Tidak benar kalau ada anggota saya yang sampai hati memukuli anak-anak. Kami punya dokumen untuk membuktikannya,'' kata Harry. Ia mengaku melihat langsung, bocah itu tak dipukul, melainkan menangis dan terduduk karena diduga takut.

Namun Harry tak membantah sebagian anggotanya bertindak berlebihan dan terpancing emosi akibat terkena lemparan batu. Itu merupakan reaksi spontan atas ulah suporter yang mengamuk lantaran kecewa tim kesayangannya kalah. ''Banyak suporter yang melempari pemain, tapi ada yang nyasar dan mengenai anggota,'' tuturnya.

Dalam kerusuhan itu, polisi menangkap tiga orang yang ketahuan melempar batu ke pemain dan petugas. Mereka dibawa ke Mapolres dan dimintai keterangan. Ketiganya mengaku berniat melempari pemain, tapi terkena polisi. Mereka akhirnya dilepas.

Beberapa polisi mengalami luka ringan. Namun, menurut Harry, hanya seorang anggotanya yang terluka. Sementara di pihak suporter, jumlah yang luka-luka mencapai belasan. Namun tak ada catatan resmi, karena kebanyakan langsung bubar.

Persijap Lolos

Kemenangan 3-2 atas PSIS mengantar Persijap lolos ke babak ketiga Copa Dji Sam Soe. Dalam putaran pertama di Jepara, akhir Mei lalu, Laskar Kalinyamat memimpin 2-1. Ketiga gol tim tamu kemarin dicetak Sonny Paparra pada menit ke-28, Niane Mamadou (53), dan Miro Baldo Bento (88). Dua gol PSIS dicetak Indriyanto Nugroho (24) dan Esaiah Pello Benson (32).

Permainan PSIS memang kurang bagus. Meski Indriyanto dkk berusaha maksimal, permainan yang mereka tunjukkan tidak seperti pada putaran pertama lalu. Serangan-serangan yang kreatif dari lini tengah ke depan tak terlihat. Yang terjadi, pemain terburu-buru dan kurang tenang. Akibatnya, umpan sering salah, kerja sama kurang solid, dan sering miskomunikasi.

Ketegangan antarpemain pun terjadi. Namun, itu tidak berlangsung lama. Sebab, mereka bisa ditenangkan oleh rekan-rekannya sendiri. ''Permainan anak-anak masih turun. Itu diperburuk dengan emosi mereka yang tinggi. Hal ini membuat permainan kami kurang bagus,'' ungkap pelatih PSIS Bambang Nurdiansyah.

PSIS: Agus Murod, Hari Salisbury, Eko Prasetyo, Idrus Gunawan, Maman Abdurrahman, M Yusuf, Modestus Setiawan, Esaiah Pello Benson, Anthony Jomah Ballah/M Irfan, Emmanuel de Porras (c), Indriyanto Nugroho/Khusnul Yakin.

Persijap: Daniel Sarogie, Edward Isir, Bambang Sulistyo, Didit Thomas, Widianto Ahmad, Oliviera, Kuncoro, Sonny Paparra, Ebanda Ebanda Timothee, Jemi Suparno/Miro Baldo Bento, Niane Mamadou/Phaitoon Thiabma. (H13, H15, G3-32)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA