logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 15 Juli 2005 PANTURA
Line

Kurang Murid, Buka Gelombang II

  • Sekolah Negeri Tambah Bangku Cadangan

SLAWI - Masalah klasik dalam penerimaan siswa baru (PSB), yaitu soal kekurangan dan kelebihan siswa, kembali terjadi di Kabupaten Tegal. Hingga pengumuman penerimaan pada Rabu (13/7), banyak sekolah swasta dan negeri yang kekurangan siswa baru. Sekolah-sekolah itu membuka penerimaan gelombang kedua.

Sebagai contoh, SMK Negeri 2 Slawi membuka gelombang II kemarin dan hari ini. Sekolah tersebut dalam PSB gelombang pertama hanya mampu menjaring 212 pendaftar dari kuota 254 siswa.

Kondisi serupa juga dialami SMP Negeri 2 Pagerbarang, SMP Negeri 2 Talang, SMP Negeri Bojong, SMP Negeri 2 Jatinegara, dan SMP Negeri 2 Slawi. Sekolah tersebut masih minim jumlah pendaftarnya, jauh dari kuota yang dipatok.

Menurut keterangan Kepala Dinas P dan K Drs Sartono MM, pemberian izin untuk membuka pendaftaran gelombang kedua sudah dirembuk dengan Dewan Pendidikan (DK) dan Komisi D DPRD.

''Ya, semua pihak cukup menyadari. Sebab, pentingnya wajib pendidikan adalah tujuan utamanya,'' tandas Sartono.

Dia mengemukakan, ada sekolah swasta yang tanpa izin membuka pendaftaran gelombang kedua.

Bangku Cadangan

Hal lain yang dia kemukakan, selain ada izin sekolah negeri membuka pendaftaran gelombang kedua, banyak sekolah yang kelebihan kuota juga menyediakan bangku cadangan.

Sebagai contoh di SMA Negeri 1 Slawi, dari 368 siswa yang diterima terdapat nilai yang sama pada peringkat terakhir. Karena itulah, sekolah favorit tersebut menyediakan 11 bangku cadangan.

Hal sama juga dilakukan di SMA Negeri 3 Slawi. Dari kuota 360 siswa, sekolah tersebut menyediakan bangku 10 cadangan.

''Ini dilakukan karena banyak pendaftar yang mengantongi nilai sama pada peringkat terakhir. Jadi untuk menghindari protes, kita beri kesempatan di bangku cadangan,'' ucap seorang panitia PSB Drs Sobirin, kemarin.

Selain persoalan skor nilai yang sama, ujar dia, juga untuk mengantisipasi pendaftar yang diterima tetapi merasa khawatir nilai dan peringkatnya kurang menjamin sehingga mengundurkan diri.

Sejauh pantauan Suara Merdeka, banyak pendaftar yang sebetulnya namanya tercantum masuk kuota namun lantaran berada pada peringkat terakhir dan dengan nilai yang sama kemudian memilih mundur untuk memburu sekolah yang dapat menerima nilai yang lebih rendah. (D12-52j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA