| Jumat, 15 Juli 2005 | WACANA |
tajuk rencanaBelajar dari Pengumuman Penerimaan Siswa- Tidak lazimlah pengumuman penerimaan siswa baru di SMA-SMA di Kota Semarang memunculkan masalah seperti sekarang. Ironis, justru ketika kepada masyarakat dijanjikan proses yang mudah karena bantuan teknologi informasi (IT). Sayang, IT dalam hal ini malah menjadi pusat persoalan, yang suka atau tidak suka patut diakui karena kekurangsiapan sumberdaya manusia pengelolanya. Koran ini, Rabu pagi hingga siang menerima telepon dari para orang tua yang menanyakan jurnal akhir penerimaan siswa. Jalan pikiran mereka tentu wajar-wajar saja, yakni media massa menjadi tumpuan untuk memperoleh informasi paling depan. Selebihnya, mereka mencari medium untuk menyampaikan unek-unek karena merasa dipermainkan oleh sistem baru. - Jurnal akhir penerimaan yang semula dijadwalkan keluar pada jam 10.00, mundur ke jam 12.00, mundur lagi ke jam 17.00. Ternyata belum juga beres pada jam yang dijanjikan, dan baru keluar pada jam 20.00. Sekolah-sekolah yang pada tahun-tahun lalu mengolah dan mengumumkan sendiri secara manual, hanya bisa bergantung pada data dari Dinas Pendidikan Kota Semarang. Sejak hari pertama pendaftaran, janji kemudahan akses baik melalui situs internet maupun SMS, tidak terbukti. Padahal dalam pendaftaran dengan sistem NEM, strategi memilih sekolah bergantung pada perkembangan jurnal harian. Siswa - dan orang tuanya - terutama yang jumlah NEM-nya menengah, harus berpikir taktis dan cepat. Terlambat berarti kehilangan kesempatan. - Kita tidak cukup memaklumi kekacauan ini sebagai human error ketika berhadapan dengan teknologi. Bagaimanapun, hal itu sudah menjadi masalah publik, sehingga wajib dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. Penggunaan teknologi memang merupakan tuntutan kemajuan untuk membuat mudah, tetapi kalau terjadi sebaliknya, tentu ada yang keliru sejak awal. Mestinya, penjurnalan lewat pemeringkatan siswa yang mendaftar dan diterima tidak dianggap sederhana, sehingga harus diujicoba dengan simulasi-simulasi secara matang. Ketika menyadari sejak hari pertama sudah ada masalah karena jurnal tidak bisa diakses seperti yang dijanjikan, mengapa tidak disiapkan opsi kedua untuk mengumumkannya secara manual? - Sangat keliru kalau kita tidak menempatkan kerisauan orang tua dan siswa sebagai masalah besar yang menyangkut masa depan. Terdapat 16 SMAN dan 40 SMPN di Semarang yang datanya diolah di Diknas dengan IT. Dapat dibayangkan berapa jumlah anak dan keluarga yang menunggu dengan penuh harap, dan harus memikirkan opsi lain dalam memilih sekolah. Tiap sekolah sebenarnya sudah memiliki cukup pengalaman untuk mengolah data. Jadi apakah tidak mungkin diberi otonomi, dan memberi tembusan ke Dinkas sebagai laporan? Kalau kita secara terbuka mau menangkap hikmahnya, maka pengalaman tahun ini memberi pembelajaran tentang pentingnya pematangan penyiapan aplikasi suatu kebijakan, dalam bidang apa pun. - Juga sudah berkali-kali diwacanakan, anak-anak jangan selalu dijadikan korban ujicoba, walaupun pada sisi lain juga disadari pentingnya mencari formula yang lebih maju dalam pendaftaran sekolah. Sejumlah perubahan kebijakan memang dirasakan pada tahun ajaran 2005-2006 ini. Hanya, patut digarisbawahi, dalam bidang apa pun, kita sering dihadapkan pada problem kekurangsiapan untuk mematangkan sesuatu yang menjadi pilihan langkah. Padahal seharusnya ada waktu setahun untuk bersiap diri, melakukan simulasi secara cukup, sehingga tahu apa saja kekurangan yang pada saatnya mesti dibenahi. Kalau hari-hari pelaksanaan pendaftaran yang seolah-olah diujicoba, bukankah pertaruhannya bagi nasib siswa sungguh besar? - Keterjebakan pada simbolisasi juga menjadi salah satu ''ciri khas'' yang patut kita renungkan bersama. Misalnya, birokrasi kita - khususnya di otoritas pendidikan - sangat suka mengganti istilah yang sebenarnya sudah akrab di masyarakat, misalnya dari penerimaan siswa baru (PSB) menjadi penerimaan peserta didik (PPD). Tidak ada keuntungan sama sekali sebenarnya! Bahkan mengesankan kita lebih berpihak pada istilah dibandingkan dengan substansi. Padahal substansi yang semestinya menjadi menu utama perbaikan manajemen adalah bagaimana memformulasi pendaftaran dan penerimaan siswa baru yang lebih sederhana, cepat, serta berpihak pada kelancaran mobilitas pendaftar. Kuncinya, siapkan secara matang sedari sekarang. |