logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 15 Juli 2005 WACANA
Line

tajuk rencana

Pertumbuhan Ekonomi Bisa Terancam?

- Langkah penghematan energi khususnya BBM yang dilakukan sekarang, jika tak berhati-hati, bisa mengancam pertumbuhan ekonomi yang pada tahun 2005 direncanakan 6 persen. Hal itu ditegaskan oleh Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah saat menanggapi gerakan penghematan energi. Tentu langkah penghematan yang dilakukan tidak dimaksudkan seperti itu karena bagaimanapun pertumbuhan ekonomi penting dan sekarang sudah mulai menunjukkan tren membaik. Jadi bagaimana caranya agar langkah penghematan tidak menjadi kontradiktif. Itulah yang perlu dipikirkan bersama karena memang semua serba dilematis. Penghematan energi demi menyelamatkan keuangan negara dan pertumbuhan ekonomi juga mempunyai tujuan yang sama.

- Tidak ada gerakan ekonomi khususnya sektor riil yang tanpa menggunakan energi. Investasi maupun perdagangan membutuhkan energi dalam jumlah besar. Kontradiksi tak perlu terjadi, kalau langkah penghematan tidak sembarangan dan dilakukan hanya pada hal-hal yang selama ini memang ada pemborosan atau terjadi inefisiensi. Misalnya penerangan lampu jalan atau pun pemakaian AC di perkantoran secara berlebihan. Lain halnya bila yang dilakukan adalah pembatasan jam tayang televisi atau pengurangan jam operasi tempat hiburan, maka itu jelas akan berdampak pada omzet dan pendapatan. Pembatasan pemakaian mobil juga bisa berdampak pada berkurangnya konsumsi di sektor otomotif dan pada gilirannya juga akan berdampak pada industrinya.

- Perlu dicari alternatif langkah untuk menyelamatkan keuangan negara, namun tidak sampai mengganggu gerak sektor riil dan pertumbuhan ekonomi. Kalangan dunia usaha yang tergabung dalam Kadin mengusulkan kenaikan harga BBM untuk mengurangi beban subsidi pemerintah. Langkah itu sangat efektif dalam membantu anggaran yang harus memikul beban subsidi BBM sangat tinggi akibat kenaikan harga minyak dunia. Masalahnya, kebijakan itu bukan tanpa risiko baik dari segi politik, sosial, maupun keamanan. Di samping juga risiko ekonomi, sebab banyak industri yang akan terpukul bila harga BBM dinaikkan lagi. Namun, kalau Kadin berani menantang demikian tentu ada alasan-alasan yang lebih rasional yakni melihat kesulitan pemerintah saat ini.

- Ekonomi selalu menghadapi persoalan pilihan karena faktor kelangkaan (scarcity). Semua pilihan ada risikonya dan justru itulah yang menyebabkan kajiannya harus cermat. Apabila penyelamatan keuangan negara yang diprioritaskan, maka langkah pengurangan subsidi dengan menaikkan harga BBM diperlukan. Pasar dan industri memang akan terguncang dan bisa jadi banyak perusahaan yang tak kuat bertahan sehingga pilihan ini pun berisiko mengacaukan perekonomian dan mengancam pertumbuhan. Tetapi bila tidak dinaikkan sementara penghematan dipaksakan juga akan berakibat sama. Yakni gerak ekonomi menjadi terganggu, produktivitas menurun dan akhirnya pertumbuhan ekonomi akan terganggu. Lalu, mana yang lebih baik?

- Rupanya krisis energi yang pernah terjadi pada tahun 1990-an akan berulang, karena pemerintah dipaksa membatasi penggunaan BBM atau energi lain seperti listrik. Bukan karena keterbatasan pasokan, melainkan karena tak kuat membeli dalam jumlah besar. Tak kuat menanggung beban subsidi yang membengkak hebat. Kalau harga BBM dinaikkan satu masalah sudah jelas selesai, yakni kesulitan dan kebangkrutan anggaran. Sedangkan masalah lain seperti keguncangan di masyarakat maupun dunia usaha masih akan bisa dicari titik temunya karena biasanya lama-lama akan biasa. Pasar akan menyesuaikan diri cepat atau lambat. Karena harga energi mahal otomatis gerakan efisiensi di setiap perusahaan akan dijalankan tanpa harus dipaksa.

- Kalau masa penyesuaian tidak berjalan lama dan keguncangan hanya sesaat, dan tentu kalau dampak sosial politiknya bisa diredam, maka masalahnya dapat diselesaikan tanpa harus disertai hambatan bagi pertumbuhan ekonomi. Atau kalaupun sedikit melambat itu pun masih lumayan karena kondisi fiskal sudah relatif bisa diamankan. Benarkah kebijakan kenaikan harga BBM akan makin menyulitkan daya saing dan itu berarti ancaman bagi industri kita? Dalam beberapa hal benar demikian, namun dalam banyak hal lain kekhawatiran seperti itu berlebihan. Dunia usaha pada umumnya, dan begitulah seharusnya, lentur serta fleksibel dan bisa menyesuaikan diri dalam kondisi apa pun. Dan penghematan yang berjalan karena mekanisme pasar justru lebih sehat.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA