| Jumat, 15 Juli 2005 | NASIONAL |
SOSOKTerima Penghargaan
PRESENTER Desak Made Hughesia Dewi (34), yang akrab disapa Hughes, mendapat penghargaan Heroes Acting to End Modern-Day Slavery atas upayanya dalam pemberantasan "perbudakan modern" tersebut. Sertifikat penghargaan diserahkan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, B Lynn Pascoe, Kamis (14/7). Pemerintah AS menyatakan, perdagangan manusia merupakan bentuk perbudakan modern dan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan sejak tahun 2003 mengangkat Hughes menjadi Duta Nasional untuk penghapusan perdagangan perempuan dan anak. Hughes dinilai telah mendedikasikan dirinya dalam meningkatkan kesadaran publik mengenai tindak kejahatan tersebut serta membuat perubahan, termasuk mendesak pengesahan rancangan undang-undang antiperdagangan manusia. Selain menerima penghargaan itu, Hughes juga akan mengikuti kursus selama tiga pekan mengenai antiperdagangan manusia. Selama ini dia tidak pernah bermimpi menerima penghargaan semacam itu, tapi Hughes bercita-cita menghapus perdagangan manusia. (ant-46t) *** Racikan TradisionalDI Jepang, permen khas dipamerkan kepada tiap turis yang berkunjung. Lain lagi di Vietnam, bordir lukisan khas diburu wisatawan. Bagaimana Indonesia? Dua cerita itu tak sekadar menyirat makna promosi. Namun, lebih dari itu, mencintai budaya sendiri. Sayangnya, kata kunci itu tak begitu menyentuh hati orang Indonesia. Banyak kalangan yang masih bangga dengan "identitas impor". Tentu fenomena itu membuat gerah Irwan Hidayat. Wajar bila bos jamu, produk yang dipopulerkan mbok jamu gendong itu, gelisah. Sejak kecil, dia biasa berkutat dengan racikan "obat" tradisional. Meski jamu masuk komoditas ekspor, di dalam negeri belum banyak kalangan yang rela mengobati dengan racikan tradisional. "Potensi Indonesia sebenarnya amat luar biasa. Tapi, kita justru keranjingan pada budaya lain, bukan tradisi sendiri." Bentuk cintanya kepada tradisi itu belakangan menarik perhatian Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia (Permadani). Lembaga itu tiap lima tahun sekali menganugerahkan penghargaan khusus untuk pegiat yang melestarikan budaya. Baru-baru ini, bersama empat pemenang asal Jawa Tengah lain, dia menerima penghargaan Argya Anubawa Permadani. Direktur Utama PT Sido Muncul itu dinilai gigih memperjuangkan budaya lokal. (Renjani-46t) | ||||