| Jumat, 15 Juli 2005 | SEMARANG |
Ikon PariwisataSEJAK menjabat Direktur Utama PT PRPP pada September 2002, Dra Titah Listiorini mengaku perhatiannya tercurah penuh pada dunia pariwisata, khususnya di Jawa Tengah. Sebelumnya dia pernah bekerja di sebuah event organizer (EO). Wanita lulusan IKIP Semarang Jurusan Bahasa Asing tahun 1990 ini juga sempat mengajar di Akademi Pariwisata (Akpari) Semarang. Istri dari Hantoro SE ini boleh dibilang sebagai wanita yang menginginkan PRPP dan Puri Maerokoco menjadi ikon pariwisata di Jawa Tengah. Menurutnya, ternyata tidak mudah mengubah hal itu. Diperlukan waktu, tenaga, biaya, dan proses cukup panjang. "Kami juga harus meyakinkan masyarakat agar lebih menyukai Puri Maerokoco," katanya. Meningkat Kini, hasil kerja kerasnya selama ini bisa dilihat dari meningkatnya jumlah pengunjung. Pada hari Minggu atau libur nasional, pengunjung yang datang ke Puri Maerokoco berkisar 1.800-an orang. "Pengunjung justru banyak yang datang dari luar kota. Pada hari Minggu atau libur nasional, pasti saya lewatkan melongok Maerokoco," ujarnya. Keluarga pun tak protes dengan pekerjaannya. Suami dan anaknya justru mendukung apa yang sedang dilakukannya. Setiap liburan, sesekali keluarganya turut diajak serta. "Ya, sekalian jalan-jalan daripada di rumah," katanya. Di tangan ibu dari Herjuno Bagaskoro (12) ini, beberapa objek wisata di Puri Maerokoco menjadi perhatiannya. Beberapa di antaranya adalah pentas kesenian tradisional dan objek wisata air. Wanita kelahiran Semarang, 29 Juni 1965, saat ini sedang sibuk menyelesaikan kuliah di Magister Manajemen (MM) Undip. Dirinya tertarik membawa dan menampilkan kesenian daerah supaya bisa pentas di Puri Maerokoco dengan mengusung kesenian tradisional dari daerahnya masing-masing. Kesenian tradisional, lanjutnya, harus dilestarikan dan diberdayakan. "Perlu kerja keras dan usaha sungguh-sungguh agar kesenian daerah tetap bisa dilestarikan dan ditampilkan kepada masyarakat," ungkap wanita yang hobi memasak ini. (Fahmi ZM-37d) |