logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 15 Juli 2005 SEMARANG
Line

"Kemacetan di Luar Kemampuan Kami"

MACETNYA sistem teknologi informasi (information technology/IT) dalam Penerimaan Peserta Didik (PPD), menimbulkan sejumlah pertanyaan. Mengapa Dinas Pendidikan gagal memanfaatkan teknologi canggih itu, sementara Komisi Pemilihan Umum daerah (KPUD) bisa melakukannya dengan cukup baik pada pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung beberapa waktu lalu? Kendala-kendala apa yang dihadapi?

Secara khusus, Suara Merdeka menemui Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Drs Sri Santoso, untuk mencari jawab atas persoalan itu. Wawancara dilakukan di Gedung DPRD Kota Semarang, Kamis (14/7) siang, seusai sidang paripurna DPRD yang diikuti Sri Santoso. Berikut ini petikan wawancaranya.

Sebenarnya apa yang terjadi pada sistem IT PPD?

Kendala-kendala itu, kemacetan sistem IT itu, semua di luar kemampuan kami. Saya sudah bekerja optimal, tetapi apa daya, hasilnya seperti itu.

Banyak yang mempertanyakan, kenapa tidak diujicobakan terlebih dahulu?

Itulah salah saya. Sejujurnya saya akui, untuk sistem IT PPD, kami memang belum melakukan simulasi. Salah saya itu thok. Betul, itu saya akui.

Kok memilih PT SCGI?

Kebetulan karena memang waktu mendesak. Waktu itu, memang saya tidak bisa berpikir panjang. Bayangkan saja, saat itu petunjuk teknis (juknis) belum keluar. Saya malah melangkah sebulan sebelumnya. Jadi, situasinya ndadak. Provinsi (Dinas P & K Provinsi Jateng-Red) mengeluarkan juknis seminggu sebelumnya. Saya sebulan sudah siap. Jadi, saya tidak berpikir panjang. Saya tahunya bagus, ya sudah.

Ketika IT tidak berjalan, bagaimana dengan penentuan diterima tidaknya pada pilihan I dan II? Kalau dengan sistem komputerisasi, rekapitulasi nilainya kan tersentral?

Persoalan itu sebenarnya sudah terselesaikan. Kan tadi malam (Rabu malam-Red) bisa saya paksakan untuk pengumuman. Kalau mundur, wah, bisa lebih ngeri lagi. Terus terang, saya sangat mengkhawatirkan keadaan yang akan terjadi, seandainya pengumuman tidak bisa keluar Rabu malam.

Terus, soal pemakaian sistem IT, itu proses untuk maju. Bukan untuk apa-apa. Semata-mata untuk kemajuan pendidikan di Kota Semarang. Nah, ternyata kendalanya seperti itu. Ya, nanti kami evaluasi apa yang menjadi kendala. Sekiranya masih bisa diatasi, tahun depan mungkin bisa dipakai lagi.

Kendala-kendala apa yang dihadapi dalam IT PPD itu?

Input-nya nggak lancar, SDM nggak beres. Hasilnya, ya seperti itu. Tapi, secara persis mengapa terjadi, saya tidak tahu. Saya tidak berada di tempat itu.

Bagaimana mekanisme kerja sistem IT PPD?

Prosesnya begini, input data dari sekolah, lantas dikirim ke pusat. Di pusat diolah, terus nanti dikirim ke sekolah lagi untuk diverifikasi. Kalau kemudian ada tudingan, nanti ada permainan uang, saya jamin tidak ada. Sebab, di kedua tempat itu sistem kontrol berjalan. Jadi, sebetulnya kami sudah siap. Mestinya sehari jadi, karena memang sudah disiapkan sistemnya.

Omong-omong, berapa nilai kontraknya?

Wah, saya tidak hafal persis berapa angkanya. Yang jelas, tidak seberapa kok. Katanya, hanya untuk operasional. Kalau dihitung dari teknis canggih, tidak menguntungkan, wong dia (PT Surya Cipta Global Indonesia (PT SCGI), provider IT PPD-Red), maunya pengabdian. Mengabdi betul demi pendidikan. Katanya begitu. Bukan gedhe-gedhe dalam arti bisnis.

Ada punishment pada provider tersebut?

Setelah selesai, ada evaluasi. Nanti saya lihat STK-nya. Dari tahapan itu, punishment bisa dilakukan.(H5,H9-37a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA