logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 15 Juli 2005 SEMARANG
Line

Massa Bupati dan Kontraktor Bentrok

  • Ditunggu Lama Tak Ditemui

DEMAK - Sekitar lima ribu orang yang mengatasnamakan Aliansi Berantas Kezaliman (ABK) Demak, Kamis (14/7) memenuhi halaman luar pendapa kabupaten.

Mereka melakukan aksi demonstrasi, meminta Bupati Hj Endang Setyaningdyah mempertanggungjawabkan kasus pemotongan anggaran proyek.

Massa yang dimotori kontraktor yang tergabung dalam berbagai wadah asosiasi pengusaha jasa konstruksi daerah itu terdiri dari karyawan perusahaan, para pemborong, nelayan, dan buruh.

Mereka berangkat dari depan gedung KONI sekitar pukul 10.00. Sebagian dari mereka berjalan kaki, sedangkan yang lain menggunakan kendaraan, termasuk satu truk trailer menuju kantor bupati di Jl Kiai Singkil No 1 Demak.

Aksi demonstrasi itu mendapat tandingan sekitar seribu massa simpatisan dan kader PDI-P. Mereka memakai kaus merah dan sudah berada di dalam pendapa sejak pukul 08.00. Massa merah ini mendapat dukungan dari ratusan pasukan garda bangsa yang memakai pakaian kebesarannya, hitam-hitam.

Meski kedua kelompok telah diposisikan terpisah oleh aparat kepolisian, tetapi sempat bentrok. Ketika massa yang dikerahkan Ketua Gapensi Nur Halim cs tiba di halaman kabupaten, beberapa orang PDI-P di dalam pendapa melempari mereka dengan botol air mineral. Lemparan itu dibalas dengan lemparan botol yang sama. Sebelum ketegangan berlanjut, aparat kepolisian langsung menghalau kedua massa.

Kepada Kapolres Demak AKBP Eka Tjahjanto, Nur Halim cs meminta agar sepuluh perwakilan mereka bisa bertemu bupati. Namun bupati hanya berkenan jika perwakilan yang menemui hanya tiga orang. Negosiasi tersebut ternyata cukup alot karena kedua belah pihak bersikeras pada sikapnya masing-masing.

Alotnya negosiasi itu membuat massa di luar pendapa mendesak pintu gerbang kantor bupati. Beberapa kali terjadi aksi saling dorong mendorong antara polisi dengan massa.

Semula, Nur Halim cs berencana melanjutkan aksinya ke kantor Gubernuran di Semarang. Namun kemudian mengurungkan niatnya dan kembali melakukan negosiasi yang dimediatori Kapolres. Lima utusan yang menghadap bupati disetujui.

Ketika mereka masuk ke pendapa, bupati masih mengadakan dialog dengan ratusan guru madrasah diniyah (Madin) di aula pendapa. Acara tersebut dalam rangka menyalurkan bantuan honorarium kepada mereka.

Utusan para pendemo merasa kecewa karena tidak segera ditemui bupati. Kelima utusan itu akhirnya keluar meninggalkan pendapa.

''Kami sangat kecewa dan menyayangkan komitmen bupati. Tadi kami sudah mengalah untuk mengirim lima utusan, tetapi kami hanya disuruh menunggu tanpa ditemui,'' ujar Nur Halim didampingi Nur Amin dan Iryanto.

Kapolres berusaha membujuk mereka agar bersabar, tetapi Halim cs tetap meninggalkan pendapa. Di luar pendapa, aksi yang semula mempersoalkan dugaan pemotongan anggaran proyek dan pengaduan persoalan yang terjadi di tengah masyarakat berubah menjadi tuntutan agar bupati turun dari jabatanya.

Seusai mengisi acara penyerahan bantuan honorarium guru Madin, Bupati Hj Endang Setyaningdyah mengatakan, tidak ada niat bagi dirinya untuk tidak menerima utusan para pendemo. Hanya saja ketika utusan pendemo datang, dia sedang menjadi pembicara dalam kegiatan dengan para guru Madin. (H1-51d)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA