logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 15 Juli 2005 KEDU & DIY
Line

Objek Wisata Magelang (3-Habis)

Jeruk Keprok Grabag Masuk Istana Negara

AWALNYA jeruk keprok dari Ngablak banyak dijual di Grabag pada dekade 1960-an. Buah itu kemudian dijual ke luar daerah. Karena cita rasanya spesifik, banyak orang yang suka. Orang kemudian mengenalnya sebagai jeruk keprok grabag.

Sampai sekarang orang masih menamakannya demikian. Karena cita rasanya yang spesifik, setiap Agustus jeruk keprok grabag selalu disertakan dalam pameran buah tropik di Istana Negara.

Keunggulan buah itu karena mudah dikupas kulitnya, rasanya manis dan segar, bijinya sedikit dan aromanya khas.

Jeruk jenis ini berjaya pada 1960-1979. Populasinya lebih dari 75.000 batang tersebar di Kecamatan Ngablak, sebagian Pakis dan Sawangan. Jumlah produksi dan harganya pun baik.

Bahkan petani yang memiliki pohon jeruk keprok lima batang, saat itu bisa membeli sedikitnya satu ekor sapi setiap tahun.

Menurut keterangan Kabid Usaha Tani Dinas Pertanian Kabupaten Magelang Soekam, jeruk keprok yang dibudidayakan di Ngablak cukup unik. Karena tidak ditanam di kebun tetapi di pekarangan rumah penduduk. Hampir setiap halaman rumah penduduk di Desa Girirejo, Bandungrejo, Madyogondo, Jogoyasan, Pandean, Keditan, dan Seloprojo, Kecamatan Ngablak dihiasi pohon jeruk keprok. Jadi, wisata agro bisa dilakukan ke tujuh desa itu.

''Jeruk ini kalau ditanam di sawah/perkebunan dengan sistem tumpang sari hasilnya malah jelek,'' ujarnya.

Pupuk Kandang

Untuk pemupukannya tidak perlu pencangkulan di bawah pohon karena bisa merusak perakaran yang akibatnya malah menurunkan produksi. Pemupukan dilakukan dengan cara pupuk kandang ditempatkan di dalam karung dan diletakkan di bawah pohon kemudian secara berkala disiram. Dengan demikian, air yang mengandung pupuk itu akan terserap ke dalam tanah.

Kades Girirejo Duto Sembodo menuturkan, jumlah pohon jeruk keprok sekarang tinggal 3.000-an batang yang produktif. Setiap pohon yang berumur 20-25 tahun mampu berbuah rata-rata dua kuintal. Untuk pohon yang masih umur tiga-lima tahun menghasilkan 50 kg/pohon.

Harga jeruk keprok kualitas AB pada tingkat petani Rp 10.000 - Rp 12.000/kg dengan isi rata-rata delapan butir/kilo. Sementara itu, untuk harga ijon oleh tengkulak Rp 4.000 dan yang sudah matang Rp 8.000/kg. ''Kami berani jamin kualitasnya tidak kalah dengan jeruk pontianak,'' katanya. Dia menyebutkan, di Desa Bandungrejo ada dua pohon jeruk keprok yang laku Rp 1,25 juta dan saat ini belum dipetik.

Panen raya biasanya terjadi pada Juli-Agustus. Namun karena sampai sekarang masih sering turun hujan, panen tahun ini menurun hanya 75%. Pembeli jeruk keprok yang datang ke wilayah Ngablak pada umumnya dari Solo, Yogjakarta, Semarang, Magelang, dan para pedagang dari Pasar Grabag.

Namun, Duto Sembodo sepertinya kurang bisa menerima jeruk keprok dari Ngablak disebut jeruk keprok grabag. ''Tolong hal ini diluruskan. Kami yang punya produksi tetapi orang lain yang dapat nama.'' (Tuhu Prihantoro-55j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA