logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 15 Juli 2005 KEDU & DIY
Line

Pemerintah Diimbau Alihkan Angkutan Darat ke KA

YOGYAKARTA - Para pimpinan perusahaan kereta api negara-negara Asia Tenggara (ASEAN Railways Chief Executive Officers) akan membuat pernyataan bersama dalam upaya penghematan penggunaan bahan bakar minyak (BBM). Melalui pernyataan bersama yang disampaikan ke Sekjen ASEAN, para pimpinan akan mengimbau pemerintah masing-masing negara untuk mengalihkan beban di jalan raya ke rel KA.

Hal itu disampaikan Dirut PT Kereta Api (KA) Omar Berto atas nama pimpinan sidang ke-27 Konferensi Perkeretaapian ASEAN di Yogyakarta, baru-baru ini.

Sebab, lanjut Omar Berto, kelangkaan BBM yang dirasakan Indonesia juga dialami beberapa negara ASEAN lain. Seperti terungkap dalam diskusi konferensi itu, Malaysia juga merasakan dampak kelangkaan solar yang harganya 43 sen dolar per liter atau setara dengan Rp 4.000 per liter. Sementara itu, kondisi masyarakat Malaysia hampir mirip dengan Indonesia. Hal yang sama juga dirasakan Thailand dan Vietnam.

Sebagai contoh, menurut catatan mereka, bagaimana mengalihkan angkutan barang dari jalan (darat/kargo) ke angkutan jalan rel KA. Sebagai gambaran besarnya energi yang dipakai angkutan darat (non-KA), Omar Berto menyebutkan angkutan batu bara di Sumatra Selatan sekali angkut 2.500 ton dengan satu rangkaian KA. Jika diangkut dengan truk kapasitas 10 ton, berarti dibutuhkan 250 truk. ''Bisa diperhitungkan berapa konsumsi energi yang harus dihabiskan untuk mengangkutnya,'' ungkapnya

KA Trans-ASEAN

Demikian pula pada KA penumpang, mampu mengangkut 500-an penumpang untuk KA Eksekutif. KA Jabotabek mampu mengangkut 2.000 orang. ''Bayangkan, dibutuhkan berapa angkutan bus untuk sekali jalan dan berapa energi yang dibutuhkan,'' ujarnya.

Hal kedua yang disepakati untuk dijadikan usulan dalam joint statement itu adalah menyangkut kerja sama peningkatan sumber daya manusia (SDM). Dalam hal ini, negara-negara ASEAN akan membentuk kerja sama pendidikan. Tiga negara inisiator, yaitu Thailand, Malaysia, dan Indonesia merumuskan kebutuhan pendidikan itu termasuk implementasi dan pendataannya.

Isu ketiga tentang jaringan KA trans-ASEAN ataupun sampai trans-Asia. Dalam waktu dekat ada kesepakatan untuk menghidupkan kembali jaringan KA Singapura hingga wilayah Kum Ning (RRC) yang beberapa waktu lalu terputus di wilayah Myanmar dan Kamboja. Bahkan melalui program multilateral border crossing agreement jaringan KA ASEAN juga akan dikembangkan ke selatan sampai ke Indonesia melalui Selat Malaka melalui Singapura. Pada tingkat Asia, dari Kun Ming dilanjutkan ke utara.

Pertemuan tahunan ke-27 para pimpinan perusahaan perkeretaapian ASEAN diresmikan oleh Menneg BUMN Sugiharto pada 5 Juli lalu di Gedung Sekber ASEAN di Jakarta. Pada pertemuan tahunan pertama, 1978, baru diikuti lima negara ASEAN. Kini pertemuan itu diikuti tujuh negara ASEAN (tanpa kehadiran utusan dari Filipina) sebagai upaya menggelorakan spirit untuk membangun bersama khususnya dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi. (P58-55j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA