| Jumat, 15 Juli 2005 | KEDU & DIY |
Untuk Tembus Pasar Dunia, Harus Bayar LisensiYOGYAKARTA - Produk jamu yang selama ini dikenal sebagai warisan budaya bangsa ternyata jika akan menembus pasar dunia terutama Amerika Serikat (AS) harus membayar lisensi ke negara tersebut. Dengan demikian, bila produsen atau pengusaha Indonesia ingin mengembangkan jamu ke luar negeri maka terpaksa harus ''mengemis-ngemis'' lebih dulu. ''Padahal kita tahu semua, jamu merupakan warisan budaya bangsa Indonesia,'' tandas Dr Martha Tilaar selaku Ketua Penyelenggara Indonesia Biopharmacy Exhibition and Congress (IBEC) 2005 di Pagelaran Keraton Yogyakarta, Kamis (14/7). Kegiatan yang diselenggarakan PT Mavindo Pratama dengan Departemen Pertanian tersebut diikuti 70 perusahaan jamu dan instansi mulai dari departemen hingga kabupaten di Indonesia. Sementara itu, 100 stan pendukung digelar di Alun-alun Utara Yogyakarta. Event ini untuk mengangkat obat asli Indonesia sebagai andalan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya petani obat tradisional dan menginformasikan serta memublikasikan hasil-hasil penelitian (inovasi) dan eksplorasi bahan baku biofarmasi untuk kepentingan masyarakat luas. Apa yang disampaikan Ketua Panitia IBEC 2005 tersebut membuat Menteri Pertanian Anton Apriyanto yang mewakili Wakil Presiden Muhammad Yusuf Kalla, Kepala Badan POM H Sampoerno, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, serta para tamu undangan tercengang. Apa yang disampaikan Martha Tilaar itu tidak mengada-ngada tetapi kenyataan yang terjadi di negara-negara maju seperti Amerika Serikat. ''Jadi, kalau kita ingin mengembangkan jamu ke negara tersebut, kita harus bayar lisensi,'' ujarnya. Ini semua, lanjut Martha Tilaar, merupakan tantangan bagi kita semua. Apalagi negara-negara maju sudah mengakui manfaat jamu sehingga mereka berulah. Karena itu, jamu yang selama dikenal sebagai warisan budaya bangsa harus terus kita kembangkan dan lestarikan. Aset Wakil Presiden Muhammad Yusuf Kalla dalam sambutannya yang dibacakan Menteri Pertanian Anton Apriyanto mengemukakan, Indonesia yang memiliki kekayaan hayati nomor dua setelah Brasil merupakan aset yang harus terus kita kembangkan. Berbagai obat tradisional ataupun obat modern yang membutuhkan bahan pokok tumbuh-tumbuhan banyak tersebar di Indonesia. Untuk itu, tanaman obat yang banyak tersebar di bumi tercinta ini hendaknya terus kita kembangkan dan dilestarikan karena dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan petani. Penelitian di negara-negara maju menunjukkan, tanaman obat tradisional sangat bermanfaat bagi kesehatan badan manusia. Temu lawak misalnya, selain menyegarkan tubuh juga dapat mencegah berbagai penyakit. (sgt-55j) |