| Jumat, 15 Juli 2005 | KEDU & DIY |
Demo Tolak Kenaikan Tunjangan DPRYOGYAKARTA - Penolakan terhadap kenaikan tunjangan DPR RI terus berlangsung di mana-mana. Kemarin, giliran puluhan orang dari Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) UII Yogyakarta berunjuk rasa. Mereka menolak kenaikan tunjangan tersebut dan mengirim surat langsung melalui faksimile ke DPR RI. Demonstran memasuki kawasan Malioboro dengan berjalan kaki, sebagian mengendarai motor. Mereka membawa spanduk dan poster, antara lain bertuliskan ''Dewan Pemeras Rakyat, Dewan Pasti Rakus''. ''Wakil rakyat ternyata tak mau melihat dan memperhatikan derita masyarakat,'' tandas koordinator lapangan Andy R Wijaya. Penderitaan rakyat Indonesia dari hari ke hari tidak kunjung reda dan malah semakin bertambah. Para elite hanya mempermainkan dan menjadikan rakyat sebagai sapi perahan. Terbukti, di tengah-tengah situasi ekonomi yang sangat buruk malah anggota DPR meminta kenaikan tunjangan. ''Pupus sudah harapan untuk hidup lebih baik. Bencana terjadi di mana-mana, biaya pendidikan semakin tidak terjangkau, kelangkaan BBM yang berakibat pada instruksi penghematan energi. Semua itu menjadikan rakyat sangat menderita,'' papar Andy yang diamini teman-temannya yang duduk lesehan di halaman gedung DPRD DIY. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, begitu Andy menggambarkan derita rakyat. Anehnya, para elite tidak mau melihat realitas di lapangan. Penderitaan terjadi seakan tiada henti. Lagi-lagi, rakyat kecil menjadi korban permainan orang-orang atas. Jalan-jalan Andy menilai, kenaikan tunjangan wakil rakyat sangat tidak masuk akal, mencapai 105%. Gaji mereka semula Rp 28,37 juta untuk anggota dan Rp 40,1 juta untuk pimpinan. Kini mereka mengusulkan kenaikan menjadi Rp 48,5 juta (anggota) dan Rp 82,1 juta (pimpinan). Persoalan kenaikan tunjangan belum usai, anggota DPR malah berencana melakukan kunjungan ke luar negeri. Demonstran tidak melihat kunjungan dengan alasan studi banding tersebut signifikan untuk mengatasi persoalan dalam negeri. Artinya, kunjungan itu hanyalah pemborosan. ''Untuk apa mau melakukan studi banding, memperbaiki kinerja ke depan saja begitu lambat bagai motor butut,'' tegasnya. Bagaimana tak lambat, beber dia, DPR hasil pemilu lalu tersebut baru mengesahkan dua RUU dari program semula. Menurut penilaian Andy dan pendemo lain, hal itu sungguh prestasi yang sangat tidak membanggakan. Melihat kondisi demikian, LEM UII secara tegas menolak rencana kenaikan tunjangan DPR dan kunjungan ke luar negeri. ''Wakil rakyat seharusnya lebih peka melihat persoalan rakyat dan bukannya malah jalan-jalan.'' Ketua DPRD DIY H Djuwarto yang menemui mereka menyatakan mendukung perjuangan mahasiswa untuk selalu bersikap kritis terhadap wakil rakyat. Sambil duduk di tangga depan ruang lobi, dia menjanjikan, akan menyampaikan aspirasi mahasiswa secara langsung ke DPR RI. Saat itu, beberapa orang mengirimkan pernyataan sikap melalui faksimile DPRD DIY.(D19-55j) |