| Jumat, 15 Juli 2005 | INTERNASIONAL |
Konflik Air Picu PembantaianNAIROBI - Ratusan personel keamanan kemarin dikerahkan untuk memburu para bandit bersenjata yang membantai sedikitnya 72 orang di wilayah Kenya utara. Beberapa helikopter membantu perburuan tersebut. "Personel keamanan telah dikerahkan ke daerah itu. Kami mencoba mengendalikan situasi," kata Robert Kirui, petugas polisi yang bertugas menjaga keamanan di Distrik Marsabit. Distrik yang menjadi tempat pembantaian itu terletak persis di sebelah selatan perbatasan Ethiopia. Presiden Kenya Mwai Kibaki bertekad menangkap para pelaku pembunuhan massal tersebut. "Saya mohon semua pihak tetap tenang karena pemerintah tengah melaksanakan operasi untuk memburu para pelaku pembantaian itu," kata dia. Aksi pembantaian itu terjadi ketika ratusan orang bersenjata dari suku Borana (Ethiopia) mengepung sebuah sekolah dasar dan perkampungan di Desa Dida Galgalu yang didominasi klan Gabra (Kenya), Selasa pagi lalu. Mereka memberondongkan tembakan secara membabi buta. Sengketa Air Aparat keamanan mengatakan sedikitnya 72 orang tewas, termasuk di antaranya 22 anak. Kondisi wilayah yang berbukit-bukit membuat aparat sulit menjangkau lokasi kejadian. Daerah itu hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Serangan antarsuku lintas perbatasan sering terjadi di kawasan Kenya utara yang terpencil itu. Kekerasan itu biasanya dipicu oleh perebutan sumber air dan wilayah padang rumput untuk menggembalakan ternak. Kekerasan Selasa lalu merupakan insiden terburuk dalam sejarah Kenya. (rtr-bbc-ben-25) |