SUARA MERDEKA
 
INDEKS WACANA Kamis, 14 Juli 2005

- Kisruh penyelenggaraan pemilihan kepala daerah (pilkada) secara langsung tak hanya terjadi di Ungaran dan Sukohardjo. Di beberapa daerah lain di Indonesia, kekisruhan serupa juga terjadi, bahkan sampai disertai aksi anarkis seperti perusakan kantor KPUD dan bentrok fisik antarpendukung calon. Di Surabaya, massa mengamuk dan merusak Gedung DPRD sebagai protes dan penolakan hasil pilkada. Keributan serupa terjadi di Gresik, sedangkan di Banyuwangi, DPRD setempat menolak pelantikan bupati terpilih.

- Komitmen Kapolda Irjen Pol Chaerul Rasjid untuk memerangi segala bentuk perjudian di Jawa Tengah sejak dia bertugas pada pertengahan 2004, seperti gayung bersambut dengan tekad Kapolri Jenderal Pol Sutanto. Gebrakan pertama setelah dilantik, Kapolri memberi waktu seminggu kepada para Kapolda di seluruh Indonesia untuk memerangi perjudian dalam bentuk apa pun. Selain itu juga menggarisbawahi tekad pemberantasan korupsi, terorisme, illegal logging, illegal mining, dan illegal fishing.

SAMPAI sekarang, ada beberapa kerancuan dalam mengenali tokoh Cheng Ho, yang sebentar lagi akan diperingati secara besar-besaran pendaratannya di Semarang. Peringatan itu akan dilaksanakan di Kelenteng Gedung Batu. Kompleks itu juga dikenal sebagai Kelenteng Sam Po Kong.

AWAL Agustus 2005 Jawa Tengah akan memiliki gawe besar, memperingati 600 tahun perjalanan muhibah Laksamana Cheng Ho (Zheng He/Ju Huh) atau Sam Poo Tay Djien (Tuan Besar Sam Poo). Acara dipusatkan di Klenteng Sam Poo Kong, Gedungbatu, Simongan, Semarang. Panitia yang diketuai Sindu Dharmali, terus berbenah.

 

Bertindak dan berbuat adalah langkah yang lebih kongkret untuk menyikapi termarginalkan sastra dan budaya Jawa saat ini katimbang berkeluh-kesah dan menghujat ke sana-sini. Yang ujung-ujungnya sastra dan budaya Jawa akan larut dan terkikis oleh zaman. Sebab itu daripada hanya melihat, tentu lebih baik berbuat. Meski kapasitasnya hanya sedikit tetapi paling tidak sebagai orang Jawa memberikan arti yang lebih.

PASAR bebas pendidikan bisa dikatakan telah menjadikan perguruan tinggi dan lembaga pendidikan lainnya dalam posisi dilematis. Artinya, liberalisasi pendidikan ini secara tidak langsung menghadirkan dua kemungkinan yang saling kontradiktif, persaingan antarperguruan tinggi yang kompetitif di satu sisi dan komersialisasi pendidikan di sisi yang lain.

  Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA