| Kamis, 14 Juli 2005 | WACANA |
Surat PembacaUntuk Pandemen Sastra dan Budaya JawaBertindak dan berbuat adalah langkah yang lebih kongkret untuk menyikapi termarginalkan sastra dan budaya Jawa saat ini katimbang berkeluh-kesah dan menghujat ke sana-sini. Yang ujung-ujungnya sastra dan budaya Jawa akan larut dan terkikis oleh zaman. Sebab itu daripada hanya melihat, tentu lebih baik berbuat. Meski kapasitasnya hanya sedikit tetapi paling tidak sebagai orang Jawa memberikan arti yang lebih, untuk mencari celah ruang dan waktu di zaman global ini. Untuk itu Padhepokan Djagat Djawa (Komunitas Sastra dan Budaya Jawa Magelang), memanggil hati nurani orang Jawa, baik pelajar, mahasiswa, pendidik dan kalangan umum yang masih menginginkan sastra dan budaya tetap eksis, untuk hadir bertemu sapa, duduk bersama, berpikir bersama, melangkah bersama. Pertemuan akan diadakan tanggal 17 Juli 2005, Minggu Kliwon pukul 10.00 di Soto Citran di Jl Raya Borobudur Km 1 Citran, Paremono, Mungkid, Magelang telepon (0293) 782024. Dengan saling bertegur sapa, sapa aruh, serta berbuat akan memberikan sebuah janji dan langkah yang nyata bagi sastra dan budaya Jawa. Daripada saling menyalahkan dan menanti uluran tangan yang tak pasti. Karena nilai berbuat lebih utama daripada hanya melihat. Gratis, tis. Triman Laksana *** BNI Tidak Mempersulit Kami menindaklanjuti Surat Pembaca Sdr Sularso Budilaksono (20/6) yang mengalami kesulitan melakukan penarikan dana di rekening Tabungan, Deposito dan DPLK BNI. Kami sampaikan, BNI tidak pernah mempersulit nasabah yang akan melakukan penarikan tunai dari rekening tersebut sepanjang persyaratan dan ketentuan yang berlaku (buku tabungan, bilyet deposito dan lainnya) dipenuhi demi keamanan dana nasabah. BNI telah menghubungi yang bersangkutan untuk menjelaskannya permasalahan. Maruli Pohan *** Tipuan Pakai Daftar Pemohon Kredit Saya baru - baru ini menerima telepon dari orang yang mengaku surveyor kredit card sebuah bank yang mencari teman sekantor saya yang kebetulan sedang cuti. Kemudian dia ingin berbicara personalia dan saya minta menghubungi kantor pusat di Jakarta. Tapi yang terjadi, dia mengabarkan ke personalia pusat bahwa teman saya yang cuti itu mengalami kecelakaan di Jakarta dan butuh dana secepatnya. Untungnya personalia mengontak saya di Semarang sehingga saya bisa menghubungi langsung apakah dia benar-benar kecelakaan. Kebetulan dia sedang di Jakarta dan malah kaget karena dirinya sehat-sehat saja. Bagi pernbaca agar hati-hati dengan penipuan semacam ini. Bila mengajukan permohonan kartu kredit, berhati-hatilah karena ada kemungkinan data Anda disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Bagi pihak credit card bank mana pun, tolong data customer disimpan dengan baik. Atau dihancurkan saja bila sudah tidak terpakai. Masa bisa bocor ke pihak lain. Yang profesional dikit dong. Apakah pihak bank tidak meneliti surveyor yang ditunjuk untuk menyurvei para pemohon kartu kredit?. Bagi penipu, cara Anda sudah "kuno" . Sudah tidak mempan untuk menipu. Agus Budi Setiawan *** Hasil Korupsi Tak Dimakan Sendiri Hampir setiap hari kita disuguhi berita maraknya praktik korupsi. Korupsi adalah upaya menggunakan kemampuan, campur tangan, posisi menyalahgunakan informasi, keputusan, pengaruh, uang atau kekayaan untuk kepentingan serta keuntungan dirinya. Korupsi lebih bisa dikatakan merupakan penghianatan terhadap cita-cita kebebasan dan menghalangi upaya membangun institusi yang lebih adil. Pada dasarnya korupsi adalah wujud ketidakadilan dan beroperasi melawan kesejahteraan bersama. Korupsi sudah merupakan banalisasi atau kebiasaan karena banyak orang yang melakukan sehingga seakan-akan menjadi kejahatan biasa dan menciptakan suatu hak. Jika satu dituntut, maka semua harus bertanggung jawab. Ini berarti bisa dikatakan tanggung jawabnya sudah tidak ada lagi. Oh, sungguh pedihnya negara ini kalau semua itu terjadi. Banyak koruptor yang telah menikmati impunity (tiadanya sanksi hukum) terhadap korupsi itu sendiri. Kemungkinan ketahuan sangat kecil, karena lemah dan tidak efektifnya pengawasan dari dalam maupun luar. Koruptor tidak mau disamakan dengan pencuri atau perampok. Padahal perbuatan serta hasil yang diakibatkannya lebih jahat dari pencuri atau perampok. Jarang koruptor tertangkap, dianiaya atau dimassa. Memang uang hasil korupsi tidak dimakan sendiri, kadang digunakan untuk kepentingan banyak orang. Misal untuk kepentingan partainya, lembaga amal atau membangun tempat ibadah, membantu yatim piatu. Sungguh mulia bila semua sumbangan itu bukan dari hasil korupsi. Kadang juga uang hasil korupsi itu digunakan untuk membeli saham/membangun lapangan pekerjaan baru. Indonesia adalah negara gemah ripah loh jinawi, tetapi sekarang bisa disebut negara gemah rupiah loh korupsi. Saya optimistis kelak pimpinan negara bisa membersihkan/mengurangi kotoran yang ada baik dari segi politik maupun kriminalitas. Karena tanggung jawab kita, adalah tanggung jawab seluruh rakyat. Journey your life, without corruption. Budiyono *** Bubur Elisabeth Cespleng untuk Diare Berita 536 anak menderita diare dan 3 meninggal beberapa waktu lalu sungguh memprihatinkan. Saya baru sembuh dari diare dan berat badan turun 6 kg. Berbagai obat sudah saya minum, namun yang paling ces pleng adalah sesudah makan bubur Elisabeth Semarang. Saya tidak tau persis siapa pemberi nama ini. Bubur semacam ini saya dapatkan dari seorang teman yang bernama Ir Sutardi di Salatiga yang juga menderita sakit diare. Cara membuat bubur sangat mudah. Buatlah bubur biasa dari beras secukupnya. Sesudah matang, ambil empat iris tempe mentah, dipenyet-penyet dan segera masukkan ke bubur yang masih hangat dan diaduk sampai bercampur lembut. Segera dimakan selagi hangat. Hasilnya cespleng, sembuh total. Semoga bermanfaat. Moeljono HP *** Kreativitas Wong Tegal Membicarakan Tegal menggiring opini kita ke arah Warung Tegal bahkan di pedalaman Merauke pun ada tempat makan ini. Sebuah fenomena bisnis skala nasional baru sedang tercipta. Di bidang pariwisata, Tegal merupakan gudangnya manusia kreatif. Di saat Diparta daerah lain mengeluh kurangnya dana, praktisi pariwisata Tegal dan PTP IX Pangkah mampu menyulap sebuah sepur tua peninggalan Belanda 1823 menjadi objek wisata. Dengan kereta besi itu kita diajak keliling dunia Tegal selama 2 jam hanya dengan merogoh kocek Rp 19.000. Nostalgia ala kompeni londo bisa dinikmati. Cerdas meraup pasar wisata keluarga lengkap dengan anak-anak yang dimanja lagu-lagu ceria di atas lokomotif sembari menyaksikan panorama desa yang masih asri. Dinas Pariwisata Jateng sebaiknya belajar dari hal tersebut. Terlalu banyak tempat wisata Semarang yang belum dioptimalkan padahal secara logika budget anggaran Diparta Jateng lebih besar dari Tegal. Tapi terbukti tanpa kreativitas pariwisata Semarang hanya jalan di tempat. Wong Tegal telah mengajarkan, di masa krisis sikap terbaik adalah memanfaatkan potensi sekecil apa pun, tekun dan tidak menyerah. Bukan dengan adu mulut dan jotosan menyalahkan kenaikan BBM dan bertingkah bak anak manja merengek minta subsidi yang belum tentu ada. Aryo Widiyanto AMd |