| Kamis, 14 Juli 2005 | WACANA |
Ramai-ramai Jual Cheng HoOleh: Ali Arifin MuhlishAWAL Agustus 2005 Jawa Tengah akan memiliki gawe besar, memperingati 600 tahun perjalanan muhibah Laksamana Cheng Ho (Zheng He/Ju Huh) atau Sam Poo Tay Djien (Tuan Besar Sam Poo). Acara dipusatkan di Klenteng Sam Poo Kong, Gedungbatu, Simongan, Semarang. Panitia yang diketuai Sindu Dharmali, terus berbenah. Kota Semarang mulai didandani. Kawasan Tugu Muda dipercantik dengan sejumlah lampion/ lentera. Renovasi Klenteng Gedungbatu dikebut pengerjaannya. Replika perahu Jung China yang dikendarai Sang Laksamana (sekitar 25 meter x 12 meter), di depan Klenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, juga sudah pada tahap finishing. Di Wisma Perdamaian akan digelar seminar Sumbangan Cheng Ho dalam Perkembangan Kehidupan dan Kerukunan Antarumat di Nusantara. Sementara itu Kawasan PRPP juga dijadikan lokasi sejumlah kegiatan, seperti pembukaan pameran dagang, pariwisata, dan investasi internasional serta pameran benda-benda peninggalan Cheng Ho. Bahkan ada sejumlah kegiatan yang spektakuler. Misalnya, di PRPP digelar lomba dan festival lampion, kontes barongsai internasional, dan pameran foto karya Michael Yamasita dari National Geographic Indonesia. Di Klenteng Tay kak Sie akan diadakan doa bersama 160 bikhu dari sejumlah negara, serta penyalaan lilin setinggi 600 cm di Klenteng Gedungbatu. Keterlibatan pihak swasta patut diacungi jempol. Antara lain PT Bumen Redja Abadi (dealer mobil Mitsubishi) pada pemasangan baliho raksasa di lokasi strategis yang berisi ajakan masyarakat untuk ikut menyukseskan kegiatan tersebut. Juga media HALO Telkomsel edisi Jateng yang telah terbit pada awal Juli 2005. *** Semua rangkaian peringatan perjalanan muhibah Sang Laksamana di Semarang layak jual. Pertanyaannya Pemprov Jateng mau "menjual" Ceng Ho kepada siapa? Kepada warga Kota Semarang dan sekitarnya, Jawa Tengah, seluruh Indonesia, atau kepada masyarakat dunia? Kalau sekadar untuk warga Kota Semarang dan sekitarnya, apa yang telah dilakukan Pemprov Jateng, Pemkab Semarang, dan seluruh panitia perayaan hingga saat ini, sudahlah cukup. Baliho di beberapa sudut Kota Atlas banyaknya tulisan atau berita-berita mengenai rencana perayaan itu di media cetak nasional, regional, maupun lokal, atau mendengarkan siaran radio dan televisi lokal, sudahlah cukup bahwa pada tanggal 1-7 Agustus akan digelar "Perayaan 600 Tahun Pelayaran Laksamana Cheng Ho di Semarang." Nampaknya Gubernur Mardiyanto tidak ingin sekadar mendatangkan turis lokal. Ketika menghadiri pembukaan Zheng He Festival Village, di Kawasan Pantai Marina, Singapura, 1 Juli silam, Gubernur menegaskan salah satu target perayaan Cheng Ho di Semarang adalah bisa mendatangkan turis mancanegara sebanyak-banyaknya. Sebagaimana Singapore Tourism Board (STB) yang berani mengklaim bisa mendatangkan 250.000 turis asing selama perayaan Cheng Ho di sana. Untuk itulah Gubernur jauh-jauh hari sudah mengingatkan kepada seluruh elemen masyarakat Jawa Tengah, agar benar-benar ikut menyukseskan sekaligus memanfaatkan momentum tersebut. Bahkan saat berada di Singapura, Gubernur juga membuka pertemuan antarpebinsis di Negeri Singa itu. Panitia perayaan Cheng Ho di Semarang bisa belajar dari panitia kegiatan serupa sebelumnya, yakni Malaysia dan Singapura. Singapore Tourism Board misalnya, beriklan di The Straits Time, China Radio International (Biro Singapura), Radio Singapore International/RSI (Mediacorp Radio), dan sejumlah media televisi Singapura maupun televisi kabel. Hampir seluruh stasiun televisi di Singapura secara periodik menayangkan iklan Singapore 600 th Anniversary Celebrations . Radio-radio di Singapura juga kerap menyiarkan iklan-iklan serupa. Setelah saya telusuri, ternyata iklan perayaan Cheng Ho itu setengah iklan layanan masyarakat. Di negara kapitalis seperti Singapura, pemerintah tetap bisa "mengatur" kalangan bisnis media. Tak hanya itu, STB juga mengundang sejumlah wartawan dari media-media ternama di negara-negara tetangganya. Antara lain dari Indonesia, China, Thailand, Filipina, Taiwan, Hong Kong, Jepang, Malaysia, dan India. Sekarang tinggal bagaimana panitia perayaan Cheng Ho di Semarang bersikap. Jika ingin menarik banyak turis mancanegara, sebaiknya harus berani mengadakan promosi besar-besaran. Galang kerja sama dengan maskapai penerbangan internasional sehingga leaflet tentang perayaan Cheng Ho di Semarang bisa dititipkan di kantor-kantor maskapai penerbangan itu. Bahkan, kalau perlu bisa diselipkan pada kantong yang ada di depan kursi tiap penumpang pesawat terbang. Jalin pula kerja sama dengan biro perjalanan dunia yang banyak berkantor atau memiliki kantor cabang Bali, Singapura, Semarang, dan Jakarta dan undang wartawan media cetak asing dengan fasilitas akomodasi (hotel dan transportasi) yang memadai. Jadwalkan perjalanan jurnalistik para kuli disket itu mulai dari sejumlah lokasi yang akan dijadikan ajang perayaan di Kota Semarang. Perlihatkan pula kepada mereka Kawasan Kota Lama, pusat oleh-oleh khas Semarang di Jalan Pandanaran dan sebagainya. Setelah itu ajak mereka mengunjungi sejumlah tempat di Jawa Tengah yang layak dijual di mancanegara. Misalnya, Borobudur (Magelang), Prambanan, Masjid Agung (Demak), Pasar Klewer (Solo), dan sejumlah tempat lainnya. Promosi memang butuh dana besar. Namun multiplier effect-nya pastilah luar biasa. Katakanlah yang datang murni turis, biarlah hotel, resto, pusat jajan, kerajinan, sopir taksi, dan pedagang kaki lima yang mendapat limpahan rezekinya. Terlebih lagi jika yang berkunjung adalah kalangan pebisnis, rentetan keuntungan pasti akan lebih banyak lagi. Biarkan promosi perayaan Cheng Ho di Semarang dilakukan oleh para jurnalis asing sepulang ke negaranya masing-masing. Jadikan perayaan perjalanan muhibah 600 tahun Cheng Ho sebagai tonggak sejarah di tengah keterpurukan bangsa Indonesia. Kota Semarang khususnya dan Jawa Tengah pada umumnya tetap mampu menarik minat wisatawan mancanegara dan meneguk devisa. Jadikan pula peringatan Cheng Ho sebagai ajang tahunan di Kota Atlas tercinta. (11) - Ali Arifin Muhlish, wartawan Suara Merdeka di Semarang |