| Kamis, 14 Juli 2005 | WACANA |
Lain Sam Po Kong, Lain Pula Cheng HoOleh: Abu Su'udSAMPAI sekarang, ada beberapa kerancuan dalam mengenali tokoh Cheng Ho, yang sebentar lagi akan diperingati secara besar-besaran pendaratannya di Semarang. Peringatan itu akan dilaksanakan di Kelenteng Gedung Batu. Kompleks itu juga dikenal sebagai Kelenteng Sam Po Kong. Seringkali tokoh itu dianggap sebagai tokoh penyebar agama Islam yang berasal dari negeri China. Jadi, sebenarnya Cheng Ho itu bisa dianggap sebagai wali penyebar agama Islam, setara dengan tokoh-tokoh yang dikenal sebagai walisongo yang menyebarkan agama Islam di Jawa. Para wali itu diidentifikasi sebagai tokoh mancanegara. Jadi, dalam kerangka pikir seperti ini, Cheng Ho selayaknya dikaitkan dengan tradisi Islam. Ia bisa disimbolkan dengan arsitektur Islam, seperti masjid yang bernuansa China, atau batu nisan bertuliskan bahasa Arab. Namun, selama ini, nuansa kechinaan jauh lebih menonjol. Termasuk tradisi untuk melakukan pemujaan dan mencari peruntungan dalam kelenteng itu. Semuanya bernuansa kechinaan. Sebetulnya, kecenderungan seperti itu tidaklah mengherankan. Orang China akan selalu memandang tokoh China atau pahlawan China, apa pun agamanya, tetap sebagai leluhur yang sangat dihormati. Di samping itu, masyarakat Islam di Semarang, baik yang keturunan China maupun yang non-China, tidak begitu bisa menangkap momentum pendaratan Cheng Ho di Jawa itu dalam tradisi kepeloporannya sebagai wali. Peluang itu tampaknya lebih cepat ditangkap oleh masyarakat China yang non-Islam. Dan sesuai dengan tradisi mereka, Cheng Ho telah dipandang sebagai tokoh leluhur China, dan dikemas dalam kultur China, lengkap dengan kelentengnya. Kultur yang lebih dominan justru kultur China yang non-Kristen maupun non-Islam. Mereka yang selama ini memiliki jaringan dengan kaum pengusaha dan akrab dengan tradisi "pemujaan" di kelenteng, memandang adanya peluang untuk "menduniakan" (go international) tokoh itu bagi keperluan semangat kejayaan China dan turisme. Mereka telah menyiapkan perayaan secara besar-besaran untuk memperingati peristiwa pendaratan Cheng Ho, pada bulan Agustus mendatang. Bahkan sudah disiapkan hotel khusus di kompleks kelenteng itu. Ketika bulan Agustus tahun lalu saya mampir di Universitas Shanghai, ada seorang guru besar kebudayan yang telah menyatakan kesanggupannya untuk berkunjung ke Semarang. Yang menarik adalah, justru ketika pemerintah China mulai mendiskreditkan arsitektur China kuno, di Indonesia tengah dikobarkan semangat, atau paling tidak, nuansa kechinaan itu, di Semarang. Siapa Cheng Ho Itu? Selama ini, ada anggapan bahwa kelenteng Sam Po Kong itu merupakan kelenteng untuk memperingati tokoh Cheng Ho. Sam Po Kong dan Cheng Ho adalah merupakan tokoh tunggal, yaitu seorang nakhoda dari China yang beragama Islam yang menjelajah benua, berdagang, sambil menyebarkan gama Islam. Dari tokoh itu pula, muncul kata Sam Po Tualang, untuk menyebut nama kota tempat singgah mereka, yaitu Semarang. Diyakini bahwa pendaratan kapal dagang itu sampai di Gedung Batu. Konon, di tebing sungai Kaligarang, di dekat kelenteng Sam Po Kong itu, pernah dijumpai peninggalan kuno, berupa tambang kapal. Diperkirakan tambang kapal itu milik kapal Cheng Ho. Kalau nama-nama kampung, seperti Gisiksari maupun Gisikdrono, di sekitar Gedung Batu itu diambil atas dasar peninggalan tambang kapal kuno itu, maka kita bisa membayangkan betapa kapal Cheng Ho telah merapat begitu dekat. Dalam bahasa Jawa, gisik berarti tepian laut atau pesisir laut. Meskipun demikian, ada yang membantah spekulasi itu. Betulkah itu semua? Dan betulkah Cheng Ho adalah juga Sam Po Kong? Tulisan ini ingin mengemukakan sebuah cerita lain tentang Cheng Ho. Seorang sumber yang mengaku keturunan Mongol, tinggal di Juwanan, dan beragama Islam, menyatakan sebagai salah seorang keturunan nakhoda bernama Mahuan. Sumber itu mendasarkan pada sebuah buku kuno yang menyatakan bahwa Cheng Ho bukanlah Sam Po Kong. Menurut sumber itu, nama lain Cheng Ho adalah Mahuan, seorang penyebar agama Islam yang berprofesi sebagai nakhoda kapal dagang dari China. Sementara Sam Po Kong lah yang menjadi pemilik kapal niaga itu. Dan dia bukanlah Cheng Ho. Mahuan lah (Cheng Ho) sebenarnya yang menjadi nakhoda kapal itu. Keduanya memang beragama Islam, dan memiliki misi untuk menyebarluaskan agama Islam sepanjang perjalanan dagang. Bagaimana pula dengan asal-usul Cheng Ho? Betulkah dia seorang nakhoda berdarah China? Menurut Mawen, sumber cerita ini, Mahuan atau Cheng Ho bukan orang China, meski biasa disebut nakhoda atau pelaut pedagang China. Dia keturunan darah Mongol dari Dinasti Kubilai Khan yang lama memerintah China. Pada umumnya, dinasti ini pun biasa disebut orang China juga, sehingga pantaslah kalau orang lebih gampang menyebutnya sebagai orang China. Sebagai seorang keturunan Mongol, nakhoda Mahuan itu memiliki kedekatan dengan kaisar, sehingga membuat cemburu para jenderal lainnya. Lebih-lebih karena nakhoda itu beragama Islam. Dia dikucilkan oleh para jenderal China. Pelayaran-pelayaran yang dilakukannya sebetulnya merupakan sebuah pembuangan dari komunitas istana yang terdiri atas para jenderal China. Hampir-hampir Mahuan tidak pernah tinggal lama di daratan China. Yang menarik dari penuturan Mawen adalah bahwa pengetahuan keislaman Mahuan bukan didapat dari belajar atau berguru pada ahli agama, melainkan ia memperoleh pencerahan secara gaib. Dari sana, dia mengetahui semua isi Alquran, sehingga mengherankan orang lain. Lalu dia menjadi muslim dan bersemangat untuk berdakwah agama Islam. Pastilah bagian cerita ini merupakan hasil proses legendarisasi yang penuh mitos, yang sulit dicari kebenaran sesungguhnya. Bukti Penyiaran Agama Tidak ada bantahan memang atas peran Cheng Ho maupun Sam Po Kong sebagai pedagang antarsamudera yang memainkan juga peranan sebagai penyiar agama Islam. Peran ganda semacam itu tampaknya bukan hal baru. Para penyebar agama Islam yang biasa disebut sebagai pedagang dari Gujarat, sudah melaksanakannya. Di antara mereka memiliki reputasi amat tinggi dalam menyebarkan Islam di Indonesia. Mereka kemudian dikenal sebagai para wali yang tergabung menjadi Walisongo, maupun yang menyebarkan Islam di Aceh. Gelombang penyebaran Islam yang dilakukan mereka menjadi rangkaian bukti teori bahwa Islam datang lewat jalur dari barat atau India. Komunitas Islam yang kemudian berkembang menjadi pusat kerajaan-kerajaan Islam di Sumatera maupun Jawa, yang dianggap sebagai bukti persebaran itu. Bagaimana dengan peran Cheng Ho atau Mahuan? Kita belum mempunyai bukti-bukti historis sampai sejauh mana peran dakwah mereka. Informasi semacam itu sangat didambakan. Dengan demikian masyarakat bisa mengetahui bahwa kedua tokoh pedagang China beragama Islam itu telah memberi sumbangan atas persebaran Islam di Indonesia. Tidak sekadar pengakuan bahwa mereka itu pedagang antarlaut dari China yang beragama Islam dan berperan menyebarkan agama Islam. (24) -Prof Dr Abu Su'ud, Rektor Universitas Muhamamdiyah Semarang. HexWeb XT DEMO from HexMac International |