| Kamis, 14 Juli 2005 | NASIONAL |
SOSOKLingkaran Setan
Kapolda Jateng Inspektur Jenderal Chaerul Rasjid kembali membuka sebuah ''rahasia''. Apa itu? Soal pungutan liar (pungli) dan setoran. Kata Chaerul, budaya pungli dan setoran di kalangan kepolisian seperti lingkaran setan. Di satu sisi, praktik seperti itu jelas dilarang, namun di sisi lain, gaji polisi secara riil memang masih belum memadai. Padahal mereka dituntut selalu memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat. Sementara itu, operasional patroli dan penyelidikan suatu kasus, misalnya, jelas membutuhkan biaya tak sedikit. Pertanyaannya, mengapa polisi sampai melakukan pungli? Dan untuk apa? Ternyata penyebabnya memang tak jauh dari urusan perut. Paling tidak sepertiga uang pungli digunakan untuk makan. Sepertiga lain untuk menambah dana transportasi dan sepertiga sisanya untuk setoran ke atasan. Hal ini, kata Chaerul, menjadi pemikiran serius pimpinan Polri. Untuk itu dia bersama seluruh pimpinan jajaran kesatuan kewilayahan (polwil/polres) akan membahas hal itu dalam rapat analisis dan evaluasi (anev) di Magelang pekan depan. (P Heru Subono-29v) | ||||