| Kamis, 14 Juli 2005 | NASIONAL |
Kampus ITATS Bergolak, 7 Luka-lukaSURABAYA - Kampus Institut Teknologi Adi Tama Surabaya (ITATS) kembali bergolak. Mahasiswa perguruan tinggi swasta yang terletak di Jalan Arif Rahman Hakim itu, terlibat aksi tawuran dengan satpam ilegal dan pengurus yayasan lama pimpinan IK Sandi. Akibatnya, tujuh orang luka-luka. Mereka yang luka-luka telah mendapat perawatan di RS Adi Husada Surabaya dan lima orang di antaranya kini sudah diperbolehkan pulang. Mereka antara lain Abas, Kholis, Nyoman, Putu, dan Rudianto. Adapun korban yang masih menjalani perawatan intensif akibat lukanya cukup parah adalah Kristiawan. Aksi tawuran di kampus ITATS yang melibatkan mahasiswa dan satpam ilegal itu, dipicu masuknya satpam tak resmi tersebut ke kampus. Mereka me-ngunci pintu gerbang kampus sehingga karyawan dan mahasiswa tak bisa masuk. "Kami berusaha menegur satpam ilegal untuk meninggalkan pos satpam, tapi tak mau. Kami lalu melakukan koordinasi dengan teman-teman. Setelah itu mahasiswa gabung," kata salah seorang satpam lama ITATS, Rabu (13/7). Kendati saat itu libur, para mahasiswa berdatangan dan beberapa di antaranya membawa pentungan. Mereka menghajar tiga satpam ilegal dan dua anggota presidium ITATS versi IK Sandhi. Kedua anggota presidium itu adalah Putu Sutisna, Kristiawan, dan seorang pengawal Putu Sutisna. Kedua orang tersebut bersama dengan satpam ilegal berada di dalam kampus yang terkunci. "Kelihatannya mereka masuk ke kampus untuk menghilangkan barang bukti kasus korupsi yang melibatkannya," kata beberapa mahasiswa dan karyawan ITATS. Karyawan dan mahasiswa masuk kampus dengan cara menggergaji rantai dan gembok di pagar kampus. Sebab, ketika itu kampus dalam kondisi terkunci dengan penjagaan satpam ilegal. Setelah berhasil masuk kampus, para mahasiswa dan karyawan langsung menuju ke ruang rektorat. Mereka mengepung ruangan tersebut untuk mencari IK Sandhi, ketua lama yayasan yang menaungi ITATS. Kapolres Surabaya Timur AKBP Juansih yang berada di situ meminta mahasiswa tak bertindak anarkis. Akan tetapi, petugas kepolisian kesulitan mengatasi keributan. Jumlah petugas tak seban-ding dengan jumlah mahasiswa. Dalam kondisi demikian, bukan hal mudah bagi polisi mengevakuasi mantan PR I ITATS, Putu Sutisna dan pengawalnya. Akibat desakan mahasiswa, Putu Sutisna yang juga anak IK Sandhi, jadi korban pengeroyokan yang dilakukan ratusan mahasiswa. Barikade yang dilakukan polisi saat mengawal Putu keluar dibobol mahasiswa. Bahkan, Satuan Brimob dari Polda Jatim yang didatangkan untuk membantu petugas dari Polresta Surabaya Timur melakukan evakuasi mengalami kesulitan. Mahasiswa menolak masuknya anggota Brimob ke dalam kampus dengan membawa senjata laras panjang. Akhirnya anggota Brimob masuk kampus tanpa senjata laras panjang. Ketika Putu dievakuasi polisi, tendangan dan pukulan ratusan mahasiswa tak bisa dihindarkan. Putu menerima banyak pukulan telak ke arah kepala dan bagian tubuh lainnya. Dia sempat tersungkur akibat dikeroyok massa. Bahkan, beberapa mahasiswa sempat menginjak-injak tubuhnya. Nasib serupa juga dirasakan pengawal Putu. Lelaki berbadan tegap dan berambut cepak itu juga babak belur dihajar massa saat hendak dimasukkan ke rantis Brimob. Namun, nasib baik berpihak pada tiga satpam ilegal lainnya. Proses evakuasi mereka berjalan mulus. Sebelum meninggalkan kampus, satpam ilegal itu sempat minta maaf melalui megaphone. Lalu ketiganya masuk mobil rantis Brimob. Tepat pukul 12.00 proses evakuasi selesai. Abbas, salah seorang satpam ilegal mengatakan, dia mengaku tidak tahu-menahu adanya konflik antara mahasiswa dengan yayasan. "Saya baru sehari bekerja dan tak tahu apa-apa, saya cuma tahu kalau ITATS membutuhkan satpam, ya saya melamar dan diterima," katanya. Konflik perebutan kampus ITATS mulai meletus sejak beberapa tahun lalu. Konflik itu melibatkan kepengurusan yayasan lama di bawah pimpinan IK Sandhi versus yayasan baru di bawah kendali Ir H Dzikri. Yayasan baru menuding yayasan lama melakukan korupsi dalam pengelolaan kampus terutama pembangunan tower ITATS senilai Rp 16,5 miliar. Karena itu, sebagian besar karyawan, mahasiswa, dan staf pengajar di ITATS meminta kelompok IK Sandhi digusur dari ITATS. (G14-34v) |