| Kamis, 14 Juli 2005 | NASIONAL |
Ellyas Pical Ditangkap Jualan Ekstasi
JAKARTA - Mantan juara dunia tinju kelas bantam yunior versi Federasi Tinju Internasional (IBF) Ellyas Pical (48) ditangkap karena kedapatan menjual tiga butir ekstasi. Penangkapan Rabu (13/7) pukul 00.30 di Diskotek Milles Jalan Mangga Besar Raya di kompleks Lokasari, Tamansari, Jakarta Barat. Menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Polisi Tjiptono, Pical menjual ekstasi justru kepada polisi yang menyamar. Harganya Rp 300.000. Pil dijual melalui perantara bernama Lisdiana (33). Keduanya kini ditahan di Polda Metro Jaya. Pical, yang tinggal di Jalan Duta Bintaro Blok C/22 RT 02/09 Kelurahan Kunciran, Kecamatan Pinang, Tangerang, menjadi petugas keamanan di Diskotek Milles. Lisdiana, penduduk Jalan Mangga Besar XIII, No 14 RT 01/05, Mangga Dua, Sawah Besar, Jakarta Pusat, juga bekerja di tempat yang sama. Tjiptono menambahkan, kepolisian kini sedang menggelar operasi pemberantasan narkoba di Jakarta. Pemberantasan barang haram ini dilakukan karena tertuang dalam kontrak kerja Direktur Narkoba Polda Metro Jaya, semua Kepala Kepolisian Resor, dan Kepala Polda Metro Jaya. Ellyas Pical menjadi juara dunia kelas bantam versi IBF setelah menganvaskan Ju Do Chun (Korea Selatan) di Istora Senayan, Jakarta, pada 3 Mei 1985. Dia menjadi petinju Indonesia pertama yang merebut gelar juara dunia. Tiga bulan kemudian, juga di Jakarta, Pical memukul roboh Wayne Mulholland, penantang dari Australia pada menit kedua ronde ketiga. Ketua Umum KONI Pusat Agum Gumelar merasa prihatin dengan tertangkapnya Ellyas Pical. Tidak hanya Agum Gumelar yang prihatin terhadap kasus yang menimpa Ellyas Pical, mantan juara dunia kelas terbang mini versi IBF Nico Thomas juga tidak yakin Elly Pical melakukan perdagangan ekstasi di diskotek. "Saya prihatin kalau memang Elly Pical tertangkap karena kasus narkoba. Apalagi saat ini pemerintah sedang melakukan perang besar-besaran melawan narkoba," kata Agum. Ellyas Pical merupakan petinju terbaik Turnamen Tinju Amatir Internasional Piala Presiden sekitar pertengahan tahun 1980-an. Dia juga petinju profesional pertama Indonesia yang menjadi juara dunia. "Saya akan mencoba untuk mencari kejelasan tentang kasus ini," kata Agum yang mengaku kaget dengan adanya berita tertangkapnya Ellyas Pical itu. Nico Thomas merasa tidak yakin Ellyas Pical membawa barang haram itu. Bahkan, Nico menduga Ellyas Pical sengaja diperalat seseorang untuk melancarkan bisnis barang haram tersebut. "Elly kan gampang dibohongi. Saya tahu persis dengan hal itu, makanya saya tidak yakin Elly melakukan tindakan yang kurang terpuji," ujarnya. Senada dengan Agum, Nico juga mengungkapkan rasa prihatin terhadap kasus yang dialami Pical. "Saya terus terang prihatin dengan hal ini. Sebab, gelar juara dunia yang diperolehnya dengan memperaruhkan nyawa itu tercoreng hanya karena kasus narkoba," katanya. Salah seorang pengurus KTI Jaya, Vicky Van Room, juga menyatakan prihatin terhadap kasus yang dialami Ellyas Pical. "Saya tidak menduga Elly bisa terlibat dalam kasus narkoba. Padahal minggu lalu bersama saya pergi ke Jambi untuk menyaksikan pertandingan tinju profesional. Elly datang ke Jambi sebagai tamu kehormatan," kata Vicky Van Room. (bu,D3-48,46v,n) | ||||