| Kamis, 14 Juli 2005 | NASIONAL |
Jalur Gemuk KA Kaligung (2-Habis)Masih Juga Berebut Tempat Duduk
JARUM jam menunjukkan pukul 10.15. Seorang pemuda yang duduk di gerbong kedua kereta api (KA) Kaligung Bisnis jurusan Semarang-Tegal, mulai gelisah. Beberapa kali matanya menoleh ke arah jam tangan. Namun kereta yang dia tumpangi belum juga ada tanda-tanda akan berangkat. Selain pemuda itu, puluhan penumpang KA Kaligung juga mengalami kegelisahan yang sama. Mereka mengeluh. Bagaimana tidak, sesuai jadwal, seharusnya kereta sudah berangkat pukul 09.30. Namun hingga lewat 45 menit, kereta belum beranjak dari Stasiun Besar Poncol Semarang. Keterlambatan itu tentunya telah mengacaukan jadwal penumpang yang sedang mengejar waktu. Hal itu seperti dialami Iwan (28), warga Kelurahan Sampangan, Kecamatan Gajahmungkur. Karyawan perusahaan swasta di Tegal itu sudah ditunggu relasi pukul 11.30. Dia merencanakan berangkat naik KA Kaligung Bisnis pukul 09.30. Dengan perkiraan pukul 11.00 sudah tiba di Kota Tegal. Namun rupanya dia terlambat. Kereta yang ditumpanginya baru masuk Stasiun Tegal pukul 12.30. Kekesalan itu tak hanya dialami Iwan. Puluhan penumpang lain juga mengaku dibuat jengkel. Sebenarnya mereka rela membayar harga tiket lebih mahal untuk kelas bisnis. Jika kelas ekonomi harga karcis Rp 16.000, namun mereka bersedia menambah Rp 4 ribu untuk ikut kelas bisnis dengan harapan bisa tiba di tempat tujuan lebih awal. Namun ternyata jadwal perjalanan kereta bisnis tidak terpaut jauh dengan kereta ekonomi sore harinya. "Buat apa naik bisnis kalau jadwalnya tidak bisa dipastikan," ujar seorang penumpang wanita berseragam dinas PNS. Rasa kekesalan mereka ternyata tidak selesai bersamaan dengan keberangkatan kereta. Keterlambatan jadwal berangkat kereta itu menimbulkan dampak berantai. Dalam perjalanan, kereta terpaksa berhenti beberapa kali di stasiun kecil karena jalur tersebut harus digunakan kereta lainnya dari arah berlawanan. Menurut Wakil Kepala Stasiun Besar Poncol Tri Suwarno, dalam perjalanan dari Semarang ke Tegal atau sebaliknya, kereta itu hanya berhenti di Pekalongan dan Pemalang. Namun kenyataan di lapangan berbeda. Sebab di Stasiun Batang dan Stasiun Larangan pun, kereta itu juga berhenti. Saat hal itu ditanyakan pada Wakil Kepala Stasiun Besar Tegal Kusno, dia mengatakan, tempat-tempat yang disebutkan Tri Suwarno tersebut memang telah ditentukan sebelumnya. Namun ketika mengalami keterlambatan, perjalanan kereta juga harus disesuaikan. Pada saat akan berpapasan dengan kereta lain, terutama kelas eksekutif, KA Kaligung harus berhenti dulu di stasiun. "Kami sebenarnya ingin perjalanan tepat waktu dan kereta hanya berhenti di stasiun yang telah ditentukan," kata dia. Berebut Masalah kekurangan daya tampung penumpang juga menjadi keluhan penumpang. Sesuai dengan kelas bisnis, setiap penumpang mestinya memperoleh jatah tempat duduk. Untuk KA Kaligung bisnis jurusan Tegal, ternyata tidak bisa seperti itu. Ketika semua tempat duduk yang disediakan habis terjual, PT KA memberi kebijakan dengan menjual karcis tanpa tempat duduk. Harganya pun sama, yakni Rp 20.000. Bedanya, untuk penumpang yang mendapat tempat duduk, karcis diberi tanda nomor tempat duduk. Adapun yang tidak, di belakang karcis tersebut diberi tulisan tanpa tempat duduk. Akan tetapi, pada praktiknya penumpang tidak peduli dengan pembedaan tersebut. Saat kereta memasuki Stasiun Poncol, mereka berjejal masuk ke kereta dan kemudian berebut tempat duduk. Akibatnya, orang yang seharusnya memperoleh tempat duduk justru berdiri atau duduk di lantai beralaskan koran. "Silakan bapak pindah, tempat duduk ini mestinya untuk penumpang itu," kata Soetarto, seorang kondektur kereta tersebut. Namun kata-kata halus itu tampaknya tak membuat penumpang langsung pindah, melainkan terlebih dulu mengajak berdebat. Walaupun akhirnya si penumpang itu pindah, namun persoalannya ternyata belum selesai. Masih banyak penumpang lain yang mengalami nasib serupa alias harus berdiri atau duduk di lantai. "Lha wong naik bisnis kok rasanya seperti ekonomi," ujar seorang penumpang. Humas Daop IV Semarang Suprapto mengakui, permintaan kereta itu seringkali melebihi penawaran, terutama pada hari-hari libur. PT KA sebenarnya ingin menambah kapasitas angkut. Namun sarana untuk memenuhi keinginan itu tidak ada. Sekitar dua tahun silam, wacana penambahan kapasitas pernah mengemuka. Saat itu Pemprov Jateng melihat kemungkinan investasi yakni dengan menambah gerbong Kaligung. Sayangnya, rencana itu urung dilaksanakan. Pengamat transportasi Unika Drs Ir Djoko Setijowarno juga mengemukakan hal serupa. Kereta api memiliki keunggulan dibanding angkutan jalan raya antara lain kapasitas angkutnya yang besar. Selain itu angkutan KA relatif lebih bebas hambatan dan minim polusi. Jika masyarakat sudah banyak yang menggunakan kereta, kepadatan di jalan raya relatif bisa dikurangi. "Sayangnya, kini pemerintah lebih tertarik membangun jalan tol dibanding mengembangkan kereta api," kata dia. (Purwoko Adi Seno, Suwandono-46v) | ||||