logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 14 Juli 2005 MURIA
Line

Musim Tanam di Undaan Mundur

  • Air Waduk Kedungombo Minim

KUDUS - Kondisi Waduk Kedungombo yang persediaan airnya mulai agak menipis mengakibatkan musim tanam (MT) I tahun 2005-2006 di wilayah Kecamatan Undaan, Kudus, mundur dari yang jadwal. Elevasi air di waduk yang ditargetkan mampu mengairi sawah seluas 63 ribu hektare tersebut, pada Selasa pagi lalu dalam posisi 80.53 m dpl (di atas permukaan laut).

Jadwal MT I semestinya mulai awal September mendatang. "Namun, kemungkinannya petani di Undaan baru bisa mulai tanam awal Oktober. Bisa saja waktu untuk mulai tanam jauh sebelum itu bila wilayah di sekitar waduk ada hujan yang cukup," tandas Ketua Perkumpulan Petani Pengguna Air (P3A) Undaan, H Kaspono.

Sehubungan dengan akan tibanya MT I, dia minta pemkab agar melakukan persiapan yang diperlukan. "Pupuk, bibit tanaman, ataupun pasokan air harus disediakan dengan jumlah yang cukup," ucapnya kepada Suara Merdeka, kemarin.

Pihaknya juga minta petugas penyuluh lapangan (PPL) bisa berperan aktif seperti pada dekade 80-an. "Saya dengar sekarang ini PPL tidak diberi dana operasional. Ini cukup memprihatinkan," kata Kaspono.

Guna menyikapi MT I, di balai pertemuan Kantor Kecamatan Undaan, kemarin, diadakan pertemuan antara pengurus P3A, wakil petani, Dinas Pertanian Tanaman Pangan (Dispertan), dan Subdin Pengairan DPUK. Luas lahan beririgasi teknis yang merupakan bagian dari sistem irigasi Waduk Kedungombo di Undaan adalah 5.125 hektare.

Pemkab, tambah Kaspono, juga diminta berkoordinasi dengan Pemkab Grobogan sehubungan demo sejumlah petani di areal genangan Waduk Kedungombo pada Sabtu (9/7) lalu. Aksi itu dilakukan karena tanaman jagung tergenang. "Permintaan petani di sana agar elevasi diturunkan menjadi 80.00 dpl tentu membuat repot petani yang ada di wilayah bawah karena kekurangan pasokan air, seperti Undaan," jelasnya.

Sebenarnya, lanjut Kaspono, kawasan pasang-surut yang ditanami jagung tersebut dinyatakan tertutup untuk tanaman apapun. "Kami jadi heran, kok sekarang masalah ini kembali muncul. Karena itu, kami minta agar persoalan tersebut segera ditangani," tegas Kaspono.

Kaspono mengingatkan, pemkab hendaknya juga dapat mengimbau petani untuk menanam varietas tahan wereng dan berumur pendek seperti IR 64 untuk meminimalisasi serangan hama penyakit itu.

Perwakilan dari Dispertan, Muryadi, menyatakan bahwa pihaknya akan berusaha mengoptimalkan peran dinas untuk mencari solusi atas permasalahan yang dialami petani. Tetapi, tambahnya, sejauh ini pihaknya tidak memiliki dana operasional yang cukup untuk petugas PPL itu.

"Sedangkan untuk mencegah hama wereng, kami menganjurkan agar petani menggunakan varietas yang tahan wereng," katanya. (H8-44h)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA